
Jery menggendong tubuh istrinya yang lemah itu masuk kedalam rumah. Di sambut oleh sang putri dan Mami nya serta Papa nya. Sedangkan Naures masih membantu menurunkan barang barang dari mobilnya.
Hari masih sangat siang karena jam masih menunjukkan pukul tiga sore. Setelah bicara dengan dokter dan pihak rumah sakit yang ada di Singapura. Akhirnya Jery bisa membawa istrinya pulang ke rumah. Dan mewujudkan keinginan sang istri.
"Mas, turunkan aku!!!. Aku masih kuat untuk berjalan sendiri".Bisik Manda yang merasa canggung saat melihat kedua mertuanya yang berdiri di depan pintu rumahnya di teras bersama putrinya.
" Aku tidak akan bisa menggendong mu saat waktu itu tiba sayang". Batin Jery yang tak memperdulikan ucapan istrinya.
Mayra nampak berbinar begitu melihat kedatangan kedua orang tuanya. Senyum Manda pun kembali terbit menatap putri tunggal nya yang berwajah sangat cantik itu.
"Pa, mi, Jery bawa Manda kekamar dulu! ".Pamit Jery pada kedua orang tuanya. Lea dan Rayen hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum tipis.
Senyum yang terlihat di paksakan. Karena begitu miris melihat kondisi sang menantu. Yang sekarang tubuhnya sudah mulai terlihat lemah dan kurus. Meskipun Manda memakai lipstik sedikit mencolok. Tak membuat mereka bisa tertipu akan keadaan nya.
"Oma, Mayra mau temeni Mama ".Rengek Mayra pad Lea sambil menarik narik ujung baju Lea.
" Ayo kita naik ke atas, Oma antar ke kamar Mama ya!! ".Anggukan kepala Mayra cepat membuat Lea semakin miris akan nasib anak dan cucunya nanti.
Tak berselang lama mobil mewah mulai memasuki perkarangan rumah mewah yang di huni Jery dan keluarga kecilnya. Rayen sudah bisa menebak siapa yang datang. Itu Jeny dan suaminya serta cucunya juga.
Naures yang masih membantu art menurunkan barang barang Jery dan Manda pun nampak melirik kearah mobil yang terparkir di samping mobilnya. Hingga wajah Jeny dan Alex muncul ketika pintu mobil terbuka.
"Al dan Naura belum datang ya Res??? ".Tanya Jeny ketika ia berada di depan Naures.
" Belum kak. Mungkin sebentar lagi.Ini juga aku akan jemput Yuni dan si kembar dulu nih".Jawab Naures jujur.
🌿🌿🌿🌿🌿
Ketika suasana di kediaman Jery nampak memprihatinkan. Dan penuh kesedihan dan kebimbangan hidup. Terutama Jery tentunya. Yang sekarang pikiran nya kembali kalut. Sebisa mungkin pria itu bersikap tegar dan kuat di depan istrinya.
Di tempat yang berbeda juga saat ini Evi sedang duduk berdua dengan Brian. Di sebuah cafe yang tak jauh dari perusahaan Bagaskara.
Brian terus saja cerocos membuat Evi sedikit jengah olehnya. Helaan nafas Evi terdengar berat. Menandakan ia juga pusing saat ini. Bukan karena masalah perusahaan saja. Tapi masalah Jery dan terutama untuk kedepan nya nanti.
"Lagian tuh cewek juga gak nuntut Jery buat tanggung jawab kan?. Mungkin dia kali yang godain Jery malam itu".Ucap Brian menebak nebak.
" Iya sekarang tuh cewek gak nuntut apapun. Kalau seumpama dia hamil?. Apa iya kita harus diam saja, sedangakan ada wanita lain yang membutuhkan Jery untuk bertanggung jawab?. Loe gak kasian sama bayinya yang lahir tanpa sosok seorang Ayah?. Tega loe kek gitu? ".Evi menyudutkan Brian. Membuat Brian ikut pusing sekarang ini.
" Tapi, kan baru satu kaki masa langsung bunting aja?".Lirih Brian sambil nyengir kuda.
"Bibit tuan Jery itu produk unggulan. Apa kamu tidak tahu Mayra hadir karena cuma satu kali bermain juga dulu? ".Seloroh Evi mulai kehabisan kata untuk membuat pria brengsek seperti Brian sadar diri.
" What?. Gue kalah dong sama si Jery".Sahut Brian sedikit terkejut.
Evi hanya mengangkat bahunya acuh. Yang terpenting sekarang bagi Evi adalah menemukan cara agar bisa menemukan wanita itu terlebih dahulu. Agar tidak menimbulkan masalah besar nantinya bagi Jery dan keluarga besar Bagaskara.
"Haisss... Semua ini juga gara gara kamu Brian. Coba saja jika kamu gak ngajak tuan Jery pergi ke club. Mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini".Sentak Evi kesal pada sahabat tuan nya itu.
" Sorry... Mana tuh cewek masih virgin lagi".Guman Brian pelan.
"Hah... Apa kamu bilang tadi??? ".Sahut Evi cepat.
" Gak... Gak ada gue bilang apa apa ".. elak Brian berbohong. Tapi begitu melihat tatapan tajam Evi. Brian pun langsung ciut.
" Gue lihat nodanya masih nempel di kemeja Jery. Dan itupun sudah kering. Pasti Jery ngelakuin nya dengan tidak sabaran".Ucap Brian sambil menutup bibirnya rapat rapat kala lagi lagi Evi kembali menatapnya dengan tajam.
Evi kembali di buat pusing atas pernyataan Brian barusan. Ia semakin penasaran siapa wanita itu. Sedangkan saat mengecek rekaman CCTV yang ada di club. Evi dan Brian tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu. Karena dia membelakangi camera CCTV. Hingga hanya punggung nya saja yang terlihat jelas.
Dan Evi yakin itu bukanlah Karin. Sebab, Evi sangat tahu bagaimana kelakuan Karin di luaran sana. Apalagi semenjak ibunya meninggal. Karin sudah seperti ****** yang butuh kepuasan pria. Jadi, tidak mungkin jika noda yang menempel di kemeja Jery milik Karin.