
Ketika sinar matahari yang mulai masuk melalui sela sela pentilasi udara. Dan samar samar Velyn melihat seseorang berdiri tepat di depan jendela. Velyn kembali membuka matanya lebar lebar. Ia sadar jika dirinya masih berada di dalam ruangan pasien.
Matanya masih terasa begitu berat untuk di ajak melek. Karena semalam ia kembali tertidur sudah lewat tengah malam. Velyn mengucek matanya pelan agar bisa melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depan jendela itu.
Namun, saat ia akan melihat kembali ke arah jendela. Orang itu malah sudah berdiri tepat di depan matanya.
"Selamat pagi".Sapanya dengan senyum manisnya.
Velyn mengerutkan keningnya heran. Sejak kapan Jery bisa bersikap lembut begini padanya. Bahkan ia menampilkan senyumnya. Senyum yang belum pernah Velyn lihat sejak mereka resmi menikah. Dan senyum itu juga yang selalu Jery perlihatkan saat di depan Manda saja dulu.
Velyn tak hanya heran, ia juga terkejut saat Jery malah duduk di bibir ranjang. Lalu mengelus pucuk kepalanya pelan. Hal tak terduga lagi oleh Velyn, saat Jery tiba tiba mendaratkan kecupan singkat di keningnya.
Wanita itu tak bereaksi apapun, karena ia masih saja sedikit syok atas perlakuan Jery suaminya saat ini. Berulang kali Velyn berusaha mengerjapkan matanya. Ia berpikir saat ini apakah ia sedang bermimpi.
"Kenapa??? ".Bahkan tak ada nada bicara yang terdengar ketus lagi saat Jery bertanya padanya. Yang ada hanyalah nada suara pelan dan tatapan yang berbeda terlihat jelas di wajah Jery.
Velyn hanya menggeleng kan kepalanya pelan. Ia juga melihat ketulusan di wajah Jery, Namun, Velyn masih menganggap semua ini mimpinya saja. Velyn menggeleng kan kepalanya kembali. Membuat Jery mengulum senyumny. Bahkan saat Velyn mencubit lengan tangannya sendiri pun tak lepas dari tatapan Jery.
"Kamu tidak sedang bermimpi Velyn".Ucapnya dengan sedikit meledek. Membuat Velyn hanya bisa tersenyum kaku.
" Izinkan aku memperbaiki semuanya!!!".Ucap Jery sambil memegangi tangan Velyn. Bahkan tatapan Jery sedikitpun tak teralihkan dari wajah cantik Velyn yang masih terlihat pucat itu.
"Aku harap semuanya belum terlambat. Bantu aku untuk belajar menerima keadaan ini!!!. Aku janji akan jadi suami yang baik dan Ayah yang baik juga untuk anak anak kita nantinya!! ".Suara Jery nampak sedikit lemah ketika ia mengucapkan kata anak .
Velyn hanya diam, dia juga bingung harus berekspresi seperti apa saat ini. Jujur beberapa hari tinggal bersama membuat Velyn mulai tumbuh rasa pada suaminya. Padahal selama hampir dua minggu ini Jery sama sekali tidak perduli padanya.
Meskipun sekuat tenaga Velyn berusaha untuk membuang jauh jauh rasa ini. Tapi tak dapat di pungkiri. Ia juga manusia biasa, apalagi ia sudah pernah merasakan sentuhan Jery, Dan Velyn juga berpikir jika buah hatinya mungkin ingin lebih dekat dengan Papanya.
"Apa kau bersedia, memulai semuanya dari awal lagi???. Mulai saat ini aku akan belajar menerima dan belajar mencintaimu seperti aku mencintai Manda. Jadi, aku mohon bertahan lah!!! ".
Deg...
Velyn mendadak bungkam akan ucapan yang Jery katakan padanya saat ini. Ia tak paham kenapa tiba tiba Jery malah berubah pikiran begini. Tapi di lain sisi Velyn juga merasa senang. Wanita mana yang tidak bahagia, jika pria yang sudah sah menjadi suaminya, pria yang tak pernah mencintainya sama sekali. Dan selalu bersikap cuek padanya.
Tiba tiba ingin memulai hubungan serius dengannya. Ini adalah harapan para wanita pada umumnya. Apakah ini awal yang baik untuk nya dan buah hatinya???. Tentu saja, karena tak ada seorang istri yang mau bercerai dengan suaminya. Dan memilih status Janda jika tidak ada masalah yang rumit dalam hubungan rumah tangganya.
"Tapi bukan kah kita sudah sepakat untuk...
" Lupakan surat perjanjian itu Velyn!!!.Aku ingin kita menjalani semaunya layaknya pasangan suami istri pada umumnya!!!. Aku mohon jika kau pun mau mencobanya untuk melanjutkan pernikahan ini!!! ".
Kali ini Jery pun nampak serius sama seperti ketika ia meminta dirinya untuk kesepakatan di awal pernikahan dengan adanya surat perjanjian waktu itu.
" Apa kau mau memulainya dari awal bersmaku??? ".Tanya Jery pelan. Dan dengan sedikit ragu Velyn pun hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan.
Jery pun langsung tersenyum, dan memeluk tubuhnya sembari mengecup beberapa kali kening Velyn. " Terimakasih Velyn!!!. Aku janji akan berusaha menjadi suami yang baik dan sekaligus papa yang baik untuk mereka nantinya".Ucap Jery sambil memejamkan matanya.
Rasanya sangat sakit dan tidak sanggup untuk bilang kata anak lagi. Karena janin yang di kandung Velyn pun sudah tiada. Jery memutuskan untuk tidak memberitahu Velyn dulu akan masalah ini. Ia takut Velyn akan sedih dan malah memilih untuk mengakhiri pernikahan secepatnya.
Selain memikirkan Mayra. Jery juga benar benar tulus untuk memulai semuanya dari awal lagi. Ia akan berusaha untuk menerima Velyn dan belajar mencintai wanita itu. Jery tahu ia sedikit terlambat karena keegoisan dan juga kesedihan nya akan kepergian sang istri tercintanya. Tapi ia juga tak ingin Mayra kembali sedih jika sampai Velyn ikutan pergi juga.
"Maafkan aku Velyn!!!. Aku terpaksa membohongimu tentang bayi kita".Batin Jery sendu.