
Satu Minggu kemudian setelah kepulangan Jery dari Surabaya. Makin membuat Jery semakin terpuruk. Kedatangannya ke Surabaya bahkan sama sekali tak menemukan titik terang untuk hubungan rumah tangga nya dengan istrinya.
Ia sama sekali tidak menemukan Manda disana. Paman dan bibinya saja tidak tahu dimana Manda berada.Jery saja rela sampai tidak datang di pernikahan adiknya Al.Hanya karena ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan sang istri.
Tapi istrinya sepertinya memang sengaja untuk menghindari nya. Ia juga sama sekali tidak memberi kabar apapun. Padahal Jery masih sah sebagai suaminya. Manda seolah menjadi istri yang tak paham agama. Dan juga telah lalai menjadi seorang istri yang Sholehah.
"Papa... " Seru Mayra yang sudah beberapa hari ini ia titipkan pada pelayan dan juga pengasuhnya dirumah.
Senyum Jery terbit ketika ia melihat wajah ceria putrinya. Rasa lelahnya pun memudar saat wajah cantik gadis kecil itu terlihat berbinar.
"Papa kok baru pulang, tadi Mama juga baru pulang tapi sekarang...
" Mama pulang??? ".Ulang Jery terkejut.
Jery pun langsung melangkah masuk kedalam rumah untuk mencari keberadaan istrinya. Meninggal kan Mayra begitu saja.
" Mama sudah pergi lagi Pa".Teriak Mayra dari lantai bawah karena Jery sudah berada di tengah tengah tangga.
Jery langsung menoleh dan menghentikan langkah kakinya. Semangat nya yang tadi sempat terbit kini langsung terlihat lesu kembali.
"Pergi kemana lagi Manda bik??? ".Jery bertanya pada asisten rumah tangganya yang baru akan turun ke lantai bawah dengan membawa gelas kosong di atas nampan.
" Anu tuan. Kata Nyonya mau ke Singapura lagi".Jawab Art itu sedikit gugup karena tatapan Jery yang terlihat sedang menahan amarahnya. "Nyonya menitipkan ini untuk tuan".
Jery melirik amplop putih yang ada di tangan art nya. Dengan perasaan yang mulai tidak tenang. Sedangkan Mayra sudah di ajak pengasuhnya bermain di taman belakang. Seolah mereka tahu apa yang akan terjadi pada tuan dan nyonya nya.
Jery pun langsung membuka amplop putih dengan lebel pengadilan agama. Mata Jery langsung nampak berkaca kaca dengan tangan yang sedikit gemeteran. Apalagi ketika ia telah membuka dan membaca isi amplop tersebut.
Mata Jery langsung memerah, Jery meremas kuat amplop dan surat cerai yang tinggal membutuhkan tanda tangan nya saja. Art yang masih berdiri di sana pun nampak menundukkan kepalanya. Bingung ingin berbuat apa.
Jery turun dan langsung menyuruh art nya untuk menyiapkan semua pakaian dan juga perlengkapan Mayra. Jery berniat membawa Mayra untuk tinggal sementara bersama Oma dan Opa nya. Karena ia hari ini juga akan menyusul Manda ke Singapura.
Namun sebelum nya Jery akan menemui kembali Dokter Ridwan. Karena Jery pikir semua permasalahan ini adalah berhubungan dengannya.
🌿🌿🌿🌿🌿
Sedangkan di Bandara saat ini Manda sedang duduk di kursi tunggu. Bersama seorang wanita paruh baya. Tatapan Manda kosong seperti menyimpan banyak luka di hatinya.
Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kuat. Dan mungkin hanya dengan cara ini, ia bisa melihat suami dan anaknya kelak bisa bahagia. Meskipun tanpa dirinya.
Manda tersenyum sambil menatap wanita itu. " Keputusan Manda sudah bulat tante. Tak akan mengubah apapun lagi. Manda ikhlas tante melepaskan semuanya karena... ".
" Jangan di lanjutkan lagi Manda!!! ".Bariton suara seorang pria membuat Manda menoleh, begitupun dengan wanita paruh baya itu.
" Kamu pasti bisa melewati nya!!. Aku tahu kamu wanita yang kuat. Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini".Ucap Dokter Ridwan memberikan semangat nya pada wanita cantik yang ada di hadapan nya itu.
Tak berselang lama saat Manda dan Dokter Ridwan mengobrol. Hanya untuk memberikan dukungan serta semangat nya untuk Manda. Pemberitahuan penerbangan sudah di umumkan kepada semua penumpang.
Manda pun pamit dengan senyum nya pada Dokter Ridwan. Ia melangkah bersama seorang wanita paruh baya yang nampak begitu sayang dengan Manda.
Brukkk... Brakkk...
"Aw... " Pekik seorang wanita cantik berambut panjang sebahu yang tak sengaja menabrak bahu Manda. "Maaf mba saya tidak sengaja!!! ".Ucapnya tulus sambil memegangi bahunya .
Karena buru buru ia sampai tidak memperhatikan jalan nya. Dan malah menabrak bahu Manda. Ia sepertinya terlihat was was sambil menoleh ke kanan dan kekiri.
Manda tersenyum manis. " Tidak papa kok".Jawab Manda ramah. Membuat gadis itu sempat terpana akan kelembutan wanita secantik Manda.
"Beneran mba, mba gak ada yang sakit kan atau lecet gitu??? ".Tanyanya panik terlihat sekali wajahnya sangat cemas.
Manda pun hanya terkekeh. Sambil menggeleng kan kepala nya saja. Akan tingkah konyol gadis cantik itu. Jika di lihat mungkin usianya tak jauh beda dengan Naura. Bahkan kekonyolan gadis itu juga tak beda jauh dengan adik iparnya.
" Ayo Manda, kita harus segera berangkat!!! ".Ucap wanita paruh baya yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia saja.
" Mba duluan ya".Pamit Manda sembari tersenyum.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Karena ia baru kali ini menemukan sosok wanita yang sudah ramah sejak pertama kali bertemu. Apalagi ia selama ini tinggal di luar Negeri. Sangat jarang ia temukan tatapan wanita yang sangat teduh dan penuh kelembutan seperti itu.
"Nona muda".
Gadis itu pun langsung menoleh kearah sumber suara. Lalu secepat kilat ia kembali berlari agar tidak tertangkap dengan anak buah keluarga nya.
" Hais... Soal. Kenapa Kakek begitu nekad sih".Gumannya sambil menarik kopernya.
TBC