Married Accident

Married Accident
Di Ganggu



Calista dan Barra kembali menyesap satu sama lainnya. Di dalam ruangan kamar nan luas dengan nuansa monokrom. Tepatnya keduanya sedang adu saliva di atas sofa. Dengan posisi Calista yang tengah duduk di pangkuan suaminya.


Cukup lama keduanya saling bertukar salivanya. Hingga kini Barra mulai menurunkan kecupan nya. Yang sudah mulai menjalar ke area leher istrinya.


"Eehhh... ".


Wanita cantik itu mulai melenguh ketika sesapan dan gigitan kecil suaminya menempel pada kulit mulus lehernya. Hingga meninggal kan bekas kepemilikan nya. Tak hanya cukup disitu saja, Barra malah kembali menggigit kecil area sensitif istrinya pada bawah dagunya. Membuat warna yang sama kembali. Padahal bakat yang kemarin ia ciptakan masih sangat jelas terlihat. Dan ini malah di tambah lagi. Tanpa ada sela sedikitpun lagi warna kulit asli istrinya.


" Ohhh... Barra".


Desisnya ketika kini bibir suaminya telah berada pada bukit kembar nan padat miliknya. Menyesap dan memainkan kepala kelereng pada ujung buktinya dengan menggunakan benda tak bertulang itu.


Barra tersenyum licik, ketika melihat ekspresi wajah sang istri semakin bergairah. Ia yakin sebentar lagi Calista pasti akan minta cepat cepat di masukkan.


Jari jari Calista mulai mencengkram kuat rambut suaminya. Saat ia merasakan dibawah sana mulai basah akan ulah suaminya. Yang malah asyik bermain pada bukit kembar. Asset berharga nya itu.


"Lakukan sekarang!!!. Aku sudah tidak tahan lagi".


Barra menarik sudut bibirnya. Karena tebakan nya benar. Seorang Calista mana bisa tahan kalau sudah begini. Dengan gerakan cepat Barra pun mulai membuka kain pembungkus milik istrinya. Sembari tetap menyesap bagian favorit nya itu. Barra juga sudah menurunkan resleting miliknya.


" Duduklah kembali!!! ". Perintahnya setelah ia berhasil membuka miliknya. Hingga lobak nya yang sudah menegang tingkat dewa itu bisa langsung masuk begitu saja pada tempat semestinya.


" Akh... ".


Des_saahan halus mulai kembali terdengar saat lobak Barra sudah menerobos masuk kedalam sana. Dan tanpa menjeda lagi Calista pun langsung bergoyang sesuka hatinya. Wanita itu benar benar kalab sendiri kalau sudah begini. Padahal lobak Barra bukanlah lobak sembarangan. Lobak internasional dengan size jumbo dan berkekuatan super maksimal.


Bahkan Calista bisa berkali kali menjerit nikmat. Saat tubuhnya di hujami oleh sang Lobak. Yang membuat miliknya sesak dan penuh dibawah sana. Dapat dibayangkan bungkan? , Betapa rasanya sangatlah nikmat. Wajar saja jika Calista yang memang bar bar dan gersek itu sampai tak mau berhenti. Padahal ia juga masih sangat lelah.


Pugggg...


Dan hanya Calista yang mampu membuatnya selalu bangkit dan bergairah tanpa henti begini. Bahkan saat kerja pun ia selalu ingat wajah nakal Calista. Hingga membuatnya kehilangan konsentrasi nya sendiri.


Tok...


Tok...


Tok...


" Mami... Apa mami ada di dalam??? ". Suara Celine membuat keduanya menoleh kearah pintu kamar yang di ketuk oleh sang putri.


" Ada apa Celine??. Mami sedang mandi". Barra menjawab sembari memegangi pinggang ramping istrinya yang semakin menggila goyangannya.


"Celine boleh masuk pi??? ". Tanya anak itu lagi sambil terus mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.


" No!!. Papi sedang bekerja".


"Akhh... ". Barra langsung membungkam mulut istrinya ketika ******* Calista kembali keluar seiring dengan dorongan miliknya di dalam sana.


" Tapi kenapa suaranya berisik sekali Pi??? ".


" Oh shiittt... ". Upah Barra karena ia tidak bisa menahan nya lebih lama lagi. Dan ia malah menyemburkan laharnya dengan hanya satu posisi saja.


" Buka pintunya!!!. Aku akan langsung ke kamar mandi". Ucap Calista ketika tahu suaminya sudah selesai.


"Jangan kunci pintu kamar mandinya!!!. Aku akan menyusul nanti". Ucap Barra pelan sembari menaikkan kembali celananya. Sedangkan Calista sudah nyelonong masuk kedalam kamar mandi sambil menganggukkan kepalanya.


" Anak itu menganggu kesenangan Papinya saja. Kalau begini terus lama lama Celine aku ungsikan dulu kerumah Jery". Guman Barra sedikit kesal karena dia saja belum puas.