Married Accident

Married Accident
Nyonya Barra memang Beda



Selesai sarapan Calista dan Barra kini menikmati moment santainya di gazebo belakang mension nya. Dengan menemani Celine yang saat ini malah asyik berkebun bersama pengasuh dan juga art nya.


Senyum Calista mengembang sempurna saat melirik suaminya yang masih saja fokus dengan laptop di pangkuannya. "Pi... Papi sayang". Calista mulai ingin membuat ulah tapi Barra hanya melirik sekilas lalu ia kembali fokus lagi pada layar laptopnya itu.


" Dedek seperti nya layar laptop Papi lebih cantik dan menarik dari Mami ya. Makanya fokus Papi hanya pada benda itu saja". Calista sengaja menyindir dengan mengajak bicara sang baby di dalam rahimnya.


" Benda ini juga yang membuat hidup kalian bisa terjamin, Ingat itu!! ".Ketus Barra dengan nada datarnya.


Calista mencebikkan bibirnya. Lalu sedetik kemudian ia malah menyaringai licik dan mulai bergeser mendekat kearah suaminya. Barra pun mulai merasakan akan ada sesuatu jika Calista sudah bergerak begini.


Benar saja, Calista malah menerobos lewat sela lengan kekar Barra dan kini malah ia menidurkan kepalanya tepat di pangkuan Barra. Membuat Barra harus sedikit menyikirkan laptopnya dari pahanya. Beruntung di gazebo itu memang bersih dan nyaman. Belum lagi karpet bulu lengkap dengan bantal empuk yang selalu diganti dan di bersihkan setiap harinya. Menjadikan kenyamanan yang membuat Calista jadi betah disana. Apalagi dengan posisi seperti sekarang ini.


" Bukannya itu ada bantal ?. Kenapa harus tidur disini? ". Barra bertanya dengan sedikit menarik sudut bibirnya.


" Paha suami ternyata lebih nyaman dari sebuah bantal". Jawab Calista santai. " Tenang saja!! . Aku tidak akan macam macam hanya ingin begini saja. Jadi, kau bisa fokus pada pekerjaan mu dulu! ".Sambung Calista jujur.


Barra hanya diam dan tanpa ekspresi apapun. Setidaknya ia sedikit lega karena istrinya tidak akan mengganggu konsentrasi nya. Barra pun kembali fokus pada layar laptopnya. Karena memang ia sedang memeriksa banyak file. Yang sejak kemarin selalu tertunda karena ulah istrinya sendiri.


Bahkan Joe saja sampai harus menghandle ulang pekerjaan Barra. Dan sesekali menggantikan Barra untuk meeting dengan klien.


" Berikan ponselmu padaku!!! ". Calista mengadahkan tangannya untuk meminjam ponsel Barra


" Apa kode sandinya pi??? ".


" 12xxxx".Jawab Barra santai.


Calista pun mulai mengetikkan angka yang di sebutkan oleh Barra. Namun, beberapa saat kemudian Calista langsung merubah ekspresi nya. " Bukannya ini adalah tanggal pernikahan kita?? ". Tanya Calista tak percaya.


" Hem".


Meskipun hanya deheman saja Barra menjawab. Namun, Barra sebenarnya sedang tersenyum karena Calista juga mengingat tanggal, bulan dan tahun pernikahan nya.


" Oh, so sweet ". Seru Calista begitu bangganya. Suaminya yang dingin dan datar itu memang sangat berbeda dengan kebanyakan pria pada umumnya. Barra memang terkesan jutek, ketus dan bahkan sangat arogant. Namun, di balik itu semua Barra malah selalu menunjukkan perhatiannya dengan cara yang berbeda. Dan cenderung dengan tindakan.


" Kemarilah!!! ". Calista menarik tekuk leher Barra untuk mendekat padanya. Lalu ia juga langsung mencium bibir Barra dengan posisi kepalanya ya b masih tertidur di paha suaminya.


" Jangan konyol!!! ". Ucap Barra setelah Calista melepaskan tautan bibirnya. Karena ia telah selesai mengabadikan moment nya barusan di ponsel suaminya.


" Kau malah menikmatinya ". Calista menjawab dengan sedikit meledek Barra. Lalu ia mulai menjadikan foto mereka yang sedikit absurd itu menjadi wallpaper ponsel Barra.


Barra hanya melirik dengan sudut ekor matanya saja. Saat Calista mengganti wallpaper ponselnya dengan foto mereka berdua. Yang tadinya hanya wallpaper menara Eiffel. Sekarang menjadi sedikit konyol akan penampilan bibir keduanya yang saling berpautan.