Married Accident

Married Accident
Tak Ada Yang Mau Mengalah



Celine berlari menghampiri kedua orang tuanya yang ternyata malah pada tidur di gazebo. Dengan langkah kecilnya Celine yang saat ini sudah bersih dan wangi kembali. Karena gadis kecil itu sudah membersihkan dirinya dibantu oleh babysitter nya.


Kini dengan jahilnya Celine mulai melangkah diam diam. Dan malah masuk di sela Barra dan juga Calista. Barra mengerjap dan melihat putrinya yang sudah berada di tengah tengah mereka tampak mengulas senyum nya.


" Papi sama Mami kok malah tidur disini sih?. Katanya mau makan siang". Seru Celine sembari menatap wajah papinya yang telah lebih dulu membuka matanya.


Barra mulai bangun dan memberi kode dengan ekor matanya pada Celine. Untuk meminta putrinya membangun kan Istrinya. Celine yang paham langsung menganggukkan kepalanya.


" Bilang sama Papi sayang!!. Kalau mami tidak mau bangun kalau bukan Papi yang bangunin".


" Yah, Papi aja deh!!! ". Seru Celine yang kini kembali menatap Barra dengan wajah polosnya.


Barra pun hanya menghembuskan nafas nya pelan. Kini ia menatap ke arah istrinya yang ternyata sudah bangun sejak tadi. Hanya saja wanita itu enggan untuk membuka matanya. Dan memilih pura pura tidur saja.


" Ayo pi buruan!!!. Celine udah laper banget nih". Rengek Celine pada Papinya. Karena Barra hanya diam dengan ekpresi datarnya saja.


Calista membuka matanya sedikit agar ia bisa melihat wajah suaminya. Calista mengulum senyum nya. Saat melihat Barra mulai bergeser kearahnya.


" Mau bangun atau aku tinggal? ". Tawar Barra dengan wajah datarnya.


Calista langsung melotot sempurna. Dan bahkan ia sembari mencebikkan bibirnya kesal. Ternyata ia salah menaruh harapan pada suami kaku seperti Barra. Berharap Barra membangunkan nya dengan nada lembut dan bujukan manis. Bahkan otak Calista sudah melalang buana saat Barra membangunnya dengan cara mengecup bahkan menyesap bibirnya. Tapi, apalah daya Barra tetap Barra yang datar dan dingin.


" Mungkin bumi ini akan runtuh jika Papi bisa bersikap romantis sayang". Ketus Calista kesal dan sebal sendiri.


Barra hanya menatap tajam pada istrinya. Sekali saja pria itu tidak bisa bersikap manis. Hanya datar dan kaku bak gunung es yang sulit mencair. Calista memilih pergi lebih dulu sembari mengajak Celine. Meninggal kan Barra yang begitu menyebalkan baginya.


Barra mengulum senyum saat Calista kembali membalikkan badannya. Dan melangkah kearah gazebo lagi. Tapi, senyum itu langsung pudar saat Calista malah mengambil ponselnya yang tertinggal di samping Barra.


" Apa lihat lihat?. Dasar robot hidup ". Cibir Calista masih saja kesal.


" Awas saja jika anakku nanti menuruni sifat kamu yang menyebalkan itu". Sambung Calista yang sama sekali tidak mau baby nya menuruni sifat suaminya. Bisa bisa mension bukannya ramai malah semakin dingin saja.


" Lalu dia mau menuruni siapa?". Tanya balik Barra. ".Kamu? ". Lirik Barra sedikit mengejek istrinya. Bahkan Barra menggeleng kan kepalanya


" Apa maksudnya begitu??. Jelas dia akan menuruni sifatku yang ramah dan ceria tidak seperti kamu itu sangat Menyebalkan". Ketus Calista lagi.


Barra tak mau ambil pusing sambil terus berpikir jika sampai anaknya akan menuruni sifat Calista. Bisa bisa ia makin dibuat pusing tujuh keliling. Karena satu saja sudah membuat nya mumet. Apalagi mau di tambah lagi.


Celine saja sampai jengah melihat sepasang suami istri itu. Yang sejak tadi malah tak selesai selesai berdebat. Tapi, kadang kedua orang tuanya itu malah selalu membuat orang iri.