Married Accident

Married Accident
Gulatan Malam



Bara mulai menatap dalam mata indah istrinya dengan penuh damba dan Cinta. Seolah ia tidak akan pernah melepaskan apa yang telah menjadi miliknya lagi. Keduanya lama saling tatap satu sama lainnya. Senyum Calista mulai terbit, dan satu tangannya mulai ia gunakan untuk menyentuh dada bidang suaminya.


Meraba bagian otot perut yang terdapat lima roti sobek melekat sempurna disana. Bara melirik usapan dan sentuhan tangan jahil istrinya. Hingga kini malah jatuh tepat pada bagian yang di inginkan nya.


" Kenapa dia selalu ketagihan untuk minta di basahi? ". Tanya Calista menggoda suaminya.


Bara mulai menahan gelenyar aneh dalam diri nya. Padahal Calista hanya menempelkan jarinya tepat di atas bungkusan lobak berurat itu. Namun, tak dapat Bara pungkiri. Sentuhan tangan istrinya begitu sangat berbeda. Dia pun kadang merasa aneh. Kenapa saat di dekat Calista otaknya tidak pernah jauh dari area selang- kangan.


" Bukankah kau juga sangat bangga jika dia mampu membuat mu basah berkali kali sayang? ".


Bara lagi lagi mengucapkan kalimat langka nya. Membuat Calista pun tersenyum bangga. " Jika kau selalu mengucapkan kata itu, maka aku akan sangat rela membuka kakiku lebar lebar setiap saat". Jawab Calista sembari menyentuh wajah suaminya. Fokusnya tepat di bibir tebal suaminya yang rasanya selalu memabukkan dirinya.


Selang beberapa detik, keduanya pun sudah saling pagut, memagut satu sama lainnya. Menyesap benda kenyal dan bertukar salivanya. Hingga selalu menjadi sebuah candu untuk keduanya.


" Lakukanlah mulai dari sekarang sayang! ". Bisik Bara dengan suara beratnya.


Calista pun langsung membuka kakinya lebar, Hingga Bara tersenyum puas. Dan ia pun mulai menurunkan kepalanya, menyingkap bawah dres istrinya. Menurunkan segitiga penutup ruang sang kenikmatan dunianya.


" Akh... ".


Calista menggigit bibir bawahnya kala Bara mulai menjelajahi mulut goa dengan benda tak bertulang miliknya. Sapuan lidah dan sesapan Bara dibawah sana. Sungguh memabukkan bagi Calista. Ia pun hanya bisa melenguh sembari menjambak rambut suaminya.


" Tendangan Twins sayang".Tutur Calista yang sudah tidak tahan lagi.


Bara pun kembali bangkit dan memutar tubuh istrinya. Memposisikan tubuh Calista agar pas untuk ia masuki. Benar saja sang lobak sudah tidak perlu lagi untuk melakukan pemanasannya. Karena ia sudah menjulang tegak bak antena. Yang mana siap untuk di pasang.


"Akh... ".


Des-ahan Calista menggema membuat Bara langsung menutup mulut istrinya dengan telapak tangannya. Karena ia takut suara Calista bisa di dengar oleh para pekerja di mension nya. Bara lupa mengontrol suara dari dalam ruangan itu. Dan ia juga tidak mau jika suara merdu istrinya sampai di dengar oleh orang lain. Selain dirinya sendiri.


Kegiatan itu pun kembali berlanjut sampai di depan meja bar. Kondisi perut Calista yang makin membesar dan membuncit. Belum lagi baby twins yang mulai ikut aktif. Seakan mereka juga ikut demo karena ulah kedua orang tuanya itu.


Sambil melenguh nikmat. Calista juga merasakan sesak dan nyeri akibat ulah Baby twin's di dalam sana. Tendangan Twins seirama dengan hujaman Lobak suaminya. Seakan mereka berdua saling dorong agar tidak terkena semburan cairan dari lobak Papinya.


" Kenapa lama sekali? ".Protes Calista yang sudah berkali kali tuntas tapi Bara masih saja sayang untuk memuntahkan isi Lobaknya.


" Sedikit lagi sayang". Jawab Bara jujur bahkan ia sambil meringis saat di rasa sang Lobak anak segera menyemburkan lahar panas nya.


Erangan panjang dan pacuan tubuh yang sedikit menaikkan temponya. Mengakhiri gulatan malam ini. Sebagai vitamin sebelum melanjutkan membuat gado gado keinginan istrinya.