
"Mau turun sekarang atau aku akan... ".
Belum selesai pria itu berbicara Calista sudah mendorong tubuh sang pria. Dan ia pun segera turun dari mobil mewah yang telah membawanya ke rumah mewah. Bahkan jauh lebih mewah dari rumah kedua orang tuanya.
Senyum pria itu kembali terbit saat melihat putri kecilnya tampak berlari keluar dari dalam rumah mewah yang saat ini membuat Calista terpukau.
"Papi.... " Suara seorang anak perempuan membuyarkan lamunan Calista saat ia sibuk mengagumi rumah mewah yang lebih tampak seperti mension itu.
Saat Barra sudah merentangkan tangannya ingin memeluk putrinya yang sudah beberapa hari ia tinggal kan karena urusan bisnisnya. Tapi, sang putri malah menggeser tubuh Papi nya. Ia penasaran dengan sosok perempuan yang ada di belakang tubuh sang papi. Karena tubuh Calista tertutup tubuh kekar sang papi.
"Tante cantik". Senyum anak perempuan itu langsung mengembang sempurna. Bahkan ia malah langsung berlari kearah Calista dengan sangat berbinar.
Sontak membuat Calista dan juga Barra ikut terkejut. Apalagi Barra yang sangat tahu betul bagaimana sifat putri nya itu. Ia sangat sulit dekat dengan orang asing. Bahkan ia tidak mau di sentuh oleh orang yang tidak di kenalnya.
Pengasuhnya saja sudah berapa kali ganti. Karena selalu tidak betah mengurus gadis kecil itu. Ia sangat susah untuk di tahlukan. Bahkan ia tidak segan mengerjai baby sitter nya kalau ia tidak setuju.
Tapi beberapa detik kemudian Calista malah ikut tersenyum senang. Melihat wajah gadis kecil itu karena ia mulai mengingat dimana ia pernah bertemu dengan anak itu.
"Hei, cantik... Kita bertemu lagi". Seru Calista dengan senyum yang merekah.
" Tante cantik sudah setuju untuk menjadi Mami nya Celine ya? ". Tanya gadis kecil itu membuat Calista tercengang lalu menatap Barra yang masih saja bersikap datar.
Tapi tanpa Calista tahu jika saat ini Barra tengah tersenyum senang. Dan ia juga tidak perlu repot repot lagi untuk membujuk putrinya agar menyetujui jika dirinya akan menikahi Calista. Gadis yang sudah berhasil mengusik pikiran dan hatinya beberapa hari ini.
Dengan pertemuan yang tidak di sengaja. Dan juga kejadian yang tak di sangka. Pada akhirnya membawa Barra malah terjebak dengan gadis yang masih suci. Bahkan bayang bayang gadis itu telah menghantui tidurnya. Membuat nya tidak bisa tidur dengan nyenyak selama beberapa hari ini.
" Tentu sayang, Tante cantik sudah setuju makanya dia ikut Papi pulang kerumah sekarang". Jawab pria yang bernama Barra itu dengan seringai liciknya.
"Kau tidak akan bisa kabur lagi dariku setelah ini". Guman Barra dalam hati.
" Yeay celine sekarang punya Mami". Gadis kecil berjingkrak senang membuat Calista tidak tega untuk mengatakan penolakan nya.
Tapi beberapa saat Calista langsung menatap tajam pada sosok pria yang berwajah datar itu. Ingin sekali rasanya Calista mencabik cabik wajah tampan Barra saat ini juga. Tapi apalah daya ia hanya bisa menggerutu kesal didalam hatinya saja.
"Ayo Mami kita masuk kedalam!. Celine ingin tunjukan sesuatu sama Mami". Ujar sang gadis kecil itu yang malah telah mengganti nama panggilan nya dari tante cantik menjadi Mami.
Dengan kecanggungan yang melanda Calista hanya pasrah saja. Mengikuti langkah gadis kecil itu yang saat ini menggandeng tangannya menuju kedalam mension mewah tersebut.
" Anda sangat licik tuan". Guman sang asisten Barra menggeleng kan kepalanya saja. Pria itu sangat tahu betul bagaimana karakter dan juga sifat atasanya itu. Ia memang sulit untuk dekat dengan siapapun tapi begitu dia sudah ada niat maka sampai ke ujung dunia pun niatnya itu harus tercapai.
Setidaknya sang asisten sedikit lega karena pada akhirnya atasanya bisa kembali tersenyum. Dan mungkin ini adalah takdirnya. Agar Barra bisa menjadi lebih baik lagi. Dan kembali bisa membuka hatinya untuk wanita dan juga mencintai wanita dengan tulus.
Sejak pengkhianatan istrinya dan wanita yang sangat ia cintai lebih memilih pergi bersama pria lain. Dengan kondisi nya yang sedang terpuruk karena perusahaan nya terancam gulung tikar. Padahal itu semua ulah dari mantan istri dan juga selingkuhan nya sendiri. Yang telah menggadaikan rumah serta menjual saham perusahaan demi kepentingan mereka sendiri.
Sejak saat itu Barra benar benar menjadi orang gila. Bahkan putrinya yang baru berusia satu bulan. Harus ia rawat seorang diri dan mengandalkan pelayan karena ia juga harus membangun kembali perusahaan miliknya dari nol lagi. Hingga akhirnya semua hasil kerja kerasnya terbayarkan. Dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan yang sampai saat ini masih terjalin erat dengan perusahaan nya.
"Semoga setelah ini anda bisa kembali bahagia tuan". Doa sang asisten begitu tulusnya.