
" Nyonya pikir aku sepicik itu? ". jawab Joe dengan sudut bibir terangkat. " Anda salah besar mengajak saya kompromi nyonya Melly. Karena sampai saya mati pun. Saya tidak akan mengkhianati kepercayaan tuan Bara".
Melly mengepalkan kedua tangannya penuh amarah. Lagi lagi ia gagal untuk mencari dukungan dan partner kerjasama. Melly belum puas juga sebelum melihat Bara hancur. Sama seperti dirinya yang saat ini sudah tidak mempunyai apapun lagi.
Harapan Melly saat ini hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama ia akan mengambil Celine dan mengeruk habis asset atas nama nya. Atau yang kedua ia harus bisa membuat Bara dan Calista salah paham. Dan pada akhirnya ia bisa kembali lagi bersama Bara.
Joe yang sudah paham akan maksud kedatang Melly. Kini hanya menarik sudut bibirnya sinis. Lalu Joe pun sedikit maju untuk bisa berdekatan dengan mantan istri Tuannya itu.
" Jangan bermimpi terlalu jauh Nyonya. Sebelum anda sendiri yang gila karena mimpi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan lagi".Bisik Joe dengan seringai liciknya.
Lalu setelah mengucapkan kata itu Joe pun langsung berbalik arah. Meninggalkan Melly yang saat ini hanya bisa mengupat kasar di dalam hatinya. Bahkan Joe sampai menggendong Celine agar langkah mereka lebih cepat. Joe tidak mau Bara naik pitam saat mengetahui, Mantan istrinya kembali datang dan dengan beraninya menghampiri Celine.
" Apa Papi akan marah lagi Pa? ".Tanya Celine saat mereka baru akan menyeberangi jalan raya.
" Papi tidak akan marah kalau Celine tidak bilang sama Papi jika Mama Melly datang kemari sayang". Joe terpaksa harus menyembunyikan pertemuan ini dari Bara untuk sementara waktu. Karena Bara adalah orang yang tidak bisa emosi. Ia akan berbuat kasar nantinya pada wanita itu. Dan bisa bisa masalahnya malah semakin runyam saja.
" Celine mau janji sama Papa? ". Tanya Joe saat mereka telah sampai di depan perusahaan. Celine pun langsung menganggukkan kepalanya. " Rahasiakan pertemuan Celine dan Mama Melly dari Papi ya!. Dan biarkan Papa yang urus masalah ini! . Oke sayang! ".
" Oke Pa". Joe pun tersenyum dan mengusuk kepala Celine. Ia juga begitu bangga jika Celine adalah anak yang cerdas dan mulai bisa mendiri.Bahkan ia tumbuh menjadi anak yang baik dan juga sekarang jauh lebih ceria lagi. Semua itu karena adanya campur tangan Calista.
🌿🌿🌿🌿🌿
Kediaman Jery...
" Bunda, Marchel nangis nih". Teriak Mayra kebingungan karena tiba tiba adiknya menangis padahal tadi ia masih tidur terlelap si dalam box baby nya.
Velyn yang masih berada di dapur pun segera beranjak. Melangkahkan kakinya menuju ruangan keluarga. Babysitter Marchel sedang mandi dan hanya Mayra saja yang menemani adiknya.
Namun, sebelum Velyn sampai ke ruang keluarga. Marvin telah lebih dulu menggendong Marchel. Hingga bayi tampan itu pun mulai diam dalam gendongan Marvin.
" Udah diem Bun. Tuh udah di tenangin sama Marvin". Seru Mayra yang mulai mendaratkan bokongnya pada sofa empuk yang ada di dalam ruangan itu.
" Hanya di gigit nyamuk saja Bun. Mungkin tadi Marchel terkejut ".Ucap Marvin sembari ikut duduk di single sofa di samping Mayra.
Velyn pun menghampiri keduanya. Dan mulai mengoleskan minyak telon pada gigitan nyamuk di tangan putranya. Mayra hanya memperhatikan saja. Ia belum cukup berani untuk menggendong adiknya. Mayra takut tubuh Marchel tidak kuat ia tompang saat menggendong nya seperti Marvin saat ini.
Bahkan Velyn juga tidak pernah memaksa Mayra ataupun menyuruh Mayra untuk gendong adiknya. Bagi Velyn Mayra menerima dan menyayangi adiknya saja. Velyn sudah sangat bangga dan bahagia. Karena mereka bisa akur nantinya sampai dewasa.