
Suara tegas seorang pria yang saat ini tengah menatap tajam dan nyalang pada dua orang manusia berbeda jenis kelamin. Dimana keduanya telah sama sama tersungkur ke lantai dengan penampilan yang sudah acak acakan.
Berbeda dengan Velyn yang saat ini tengah memeluk erat tubuh putrinya dengan menahan nyeri dibagian perut bawahnya. Calista pun ikut menaikkan sudut bibirnya. Ketika melihat wajah Verren sudah pucat saat wajah Jery yang sudah merah padam. Menatap kearah wanita dengan tatapan penuh amarahnya.
" Mampus kau". Guman Calista dengan tersenyum mengejeknya.
" Evi"....
"Ya Tuan".
" Seret wanita itu dan jebloskan ia ke penjara saat ini juga!! . Begitupula dengan para komplotan nya!. Sebelum aku berubah pikiran". Perintah Jery dengan sangat tegas pada Sang asisten nya.
Deg...
Verren semakin memucat dibuatnya. Apalagi pria yang sudah mengalami luka lebab di seluruh wajahnya itu. Ia begitu terkejut saat mendengar nama penjara. Padahal dirinya baru saja bebas beberapa minggu yang lalu. Dan kini malah akan kembali dimasukkan kedalam sana lagi.
Brakkk...
Bugggg...
Pria itu kembali tersungkur saat ia mencoba kabur dari hadapan Jery dan juga ingin berniat meninggalkan Verren. Tapi, langkahnya kalah cepat dengan anak buah Calista dan juga Jery yang sudah memblokir semua jalan keluar dirumah itu.
"Tidak... Aku tidak mau masuk penjara". Teriak Verren dengan memegangi perutnya yang masih saja sakit akibat tendangan brutal dari Calista.
Verren pun terus berontak saat tangannya di tarik paksa oleh anak buah Jery. " Ve... Tolong aku!!. Aku mohon!. Aku tidak mau masuk penjara ". Teriak Verren dengan memohon pada Velyn.
Namun, Velyn tetap diam di tempatnya berdiri. Ia sedikitpun tidak mau membuka mulutnya. Meskipun sekedar mengucapkan selamat jalan untuk sepupunya itu.
" Sayangnya terlambat sudah". Lirih Calista sembari mengangkat sudut bibirnya sinis. Menatap kepergian Verren dengan asisten Evi dan juga pria yang sudah ikut membuat kekacauan dirumah tersebut.
Braakkk...
" Sayang... ".
Jery langsung berlari kearah istrinya yang tubuhnya telah jatuh di lantai. Mayra semakin histeris saat ia melihat darah segar keluar dari paha Velyn.
" Papa... Bunda berdarah". Seru Mayra panik.
Jery pun ikutan panik dan memerintah sopirnya untuk menyiapkan mobil. Ia sudah tidak bisa berkata apa apa lagi saat ini. Pikiran Jery kalut seketika melihat darah keluar dan mengalir lewat paha istrinya.
Sementara itu Calista tengah menenangkan Mayra dan juga Celine. Kedua gadis kecil itu tampak menangis melihat darah segar yang keluar dari pangkal paha Velyn.
"Rumah sakit sekarang!!. Cepat!!". Seru Jery dengan tegas dan penuh kekhawatiran.
" Baik tuan".
Jery terus menepuk nepuk pelan wajah istrinya dan memeluk erat tubuh Velyn yang kini tidak sadarkan diri lagi itu. Air mata Jery turun tanpa diminta. Ia kembali merasakan ketakutan yang amat dalam. Dimana saat ini pikiran sangat kacau.
"Sayang, aku mohon bertahan lah!!!. Kalian pasti baik baik saja! ". Lirih Jery di sela isak tangisnya.
Pikiran Jery kembali teringat akan saat dimana Manda meninggalkan dirinya. Sosok wanita yang sangat dicintai nya itu. Pergi untuk selama lamanya. Dan kini Jery tidak mau hal itu kembali terjadi padanya.
Dimana saat ini ia telah mencintai Velyn dengan separuh hidupnya. Wanita yang telah berhasil membuatnya kembali merasakan cinta. Setelah Manda tiada. Sekaligus wanita pilihan yang mendiang istrinya siapkan untuknya.
" Sayang... Aku mohon jangan tinggalkan aku!!. Aku tahu kau kuat. Maka dari itu bertahan lah sayang!!!. Buka matamu sayang!!! ". Tangisan Jery kembali pecah saat ia merasakan tangga Velyn terasa semakin dingin.
" Tambah kecepatan mobilnya!!! ".
" Baik tuan". Sang sopir hanya bisa menurut dan ia pun bisa merasakan kesedihan yang saat ini di rasakan oleh Jery. Karena ia sudah bekerja lama dan sangat mengenal majikannya itu.