
Barra tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana tidak, ia bahkan pusing sendiri akan pertanyaan Celine. Tapi, beberapa saat kemudian Barra malah mengajak Celine untuk keluar dari dalam kamarnya. Makin gawat lagi batin nya kalau sampai ingin mengusap perut Calista yang saat ini sedang tidur bagai kebo.
Bahkan, suara Celine saja ia tidak terusik sedikitpun juga. Mungkin karena kecapean dan juga kelelahan akan gempuran dahsyat seorang Barra. Membuat Calista begitu nyenyak seperti sekarang ini.
Meskipun Celine sempat menolak dan ingin tetap berada di kamar utama. Akhirnya dengan segala akal licik Papinya. Celine mau juga keluar dari kamar itu. Membuat Barra bisa bernafas dengan lega. Karena Celine sudah bersama pengasuhnya.
Barra kembali masuk kedalam kamarnya. Setelah Celine masuk ke dalam kamar nya sendiri. Karena sudah sangat sore Barra berniat ingin membangun kan istrinya. Calista juga belum mandi setelah tadi ia tunggangi.
Langkah Barra terhenti saat dering ponselnya berbunyi. Membuat Barra mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamarnya. Ia langsung menutup kembali pintu kamarnya. Lalu melangkah kearah ruangan kerjanya. Yang memang ada di lantai atas.
" Ada apa Joe??? ". Barra bertanya pada asisten pribadinya. Ketika ia telah duduk di kursi meja kerja nya.
" Tuan, sepertinya Nyonya Melly akan mengambil jalur hukum untuk hak asuh nona Celine ".
Brakkk...
Barra menghantam meja kerjanya sendiri. Dengan tangan kanannya. Inilah yang ia takutkan selama ini. Melly benar benar nekad dan tidak bisa di ajak bicara dengan cara baik baik. Meskipun Celine bukan putri kandung nya dan bukan pula darah dagingnya. Tapi, Barra sudah menganggap Celine seperti putrinya sendiri. Bahkan dulu ketika Melly tidak menginginkan kehadiran anak itu. Barra yang selalu siap mengasuhnya, hingga Celine besar seperti sekarang ini.
" Berengsek kau Melly" . Upat Barra penuh amarahnya. Ia tidak akan membiarkan Melly bisa mengambil Celine darinya. Sekali pun Melly adalah ibu kandung nya.
Barra yakin Melly bersikeras untuk mengambil Celine hanya dengan dua kemungkinan. Yang pertama ia pasti mengincar saham 10 persen di perusahaan Barra dan berbagai asset lainnya. Dan yang kedua mungkin ia benar benar ingin menebus semua kesalahan nya. Namun, kemungkinan kedua itu sangat tipis. Karena, Barra benar benar tahu siapa Melly sebenarnya.
" Hubungi pengacara kita!!. Dan tetap awasi ****** itu!. Laporkan padaku apa saja yang ia lakukan di luar sana!!! ".
" Baik tuan".
Barra menutup telpon dari Joe. Dan ia mulai menyeringai licik. " Kau sudah benar benar di luar kendalimu sendiri. Dasar ****** sialan". Upat Barra dengan sudut bibit terangkat.
Calista yang mulai membuka matanya mulai menggeliat. Dan ia pun tampak malas untuk beranjak dari ranjang nya. Di liriknya jam di dinding yang kini sudah menunjuk kan pukul setengah enam.
" Kemana suamiku???. Apa Celine sudah pulang?? ". Guman Calista yang kini memaksakan diri untuk bangun. Jujur ia masih ingin tidur kembali saja. Namun, ia juga khawatir akan Celine.
Baru saja Calista menurunkan kakinya di lantai. Pintu kamarnya terbuka dari arah luar. " Kau sudah bangun??? ". Barra menghampiri wanita cantik yang baru bangun tidur dan dengan tubuh yang penuh bekas tanda percintaan nya itu.
Calista hanya mengangguk kan kepalanya saja." Apa Celine sudah di jemput?? ".
" Dia sudah mandi, dan sekarang bersama pengasuhnya ". Jawab Barra menatap wajah cantik Calista tanpa berkedip sedikit pun. Membuat Calista menyipitkan matanya curiga akan tatapan suaminya saat ini.
" Ini sudah mau maghrib. Menyingkir lah!!. Aku ingin mandi". Ketua Calista membuat Barra mengulum senyumnya. Bahkan Calista sudah beranjak dari tanjung dan menggulung selimut di tubuh nya melangkah menuju kamar mandi.
" Sayang, aku ingin makan rawon!!! ". Calista tiba tiba berucap sembari hanya menyembulkan kepalanya saja di pintu kamar mandi.
" Chef akan membuatkan nya nanti!!! ".
" No! Aku tidak mau buatan Chef. Maunya dimasakin lagi sama papi! ". Seru Calista manja.
" Kau...
" Baby yang menginginkan nya bukan aku".Potong Calista cepat. " Kalau tidak mau ya sudah, biarkan saja nanti dia ileran sampai dewasa".
Brakkk...
Calista menutup pintu kamar mandinya dengan sangat kasar. Membuat Barra hanya bisa menghela nafasnya berat. Ia pun mau tak mau harus kembali memainkan alat alat dapur. Hanya untuk membuat istri dan baby nya senang. Karena Barra menaruh harapan besar bagi calon anaknya kelak.