
"Tu... an Mu.. da".Lirih Yohanes sedikit tercekat. Membuat Evi mencelos. Namun, Jery tampak tersenyum sinis.
" Selamat datang tuan Muda".Sapa semua karyawan yang tadi pada cuek. Dan tampak tak perduli dengan ketiga manusia itu. Kini malah bisa bersikap ramah dadakan.
"Pak Sucipto, saya ingin daftar nama semua karyawan di lantai dasar saat ini. Kecuali security di depan!!!. Dan ingat tanpa terkecuali termasuk nama lengkap Di rektur umum kita!!!. Berikan semua nama mereka dan bawa serahkan pada asisten ku sebelum jam makan siang!!! ".Ucap Jery dengan tegas.
" Maaf tuan muda untuk apa daftar nama mereka semua itu??? ".Tanya pak Sucipto yang menjabat sebagai wakil direktur umum sedikit bingung.
Jery kembali tersenyum licik".Karena perusahaan ku tidak membutuhkan orang orang bermuka dua seperti mereka semuanya. Oleh sebab itulah, sepertinya perusahaan ku ini akan lebih maju jika mereka semua aku pecat dengan tidak hormat dari sini".
Duaarrr...
Yohanes langsung lemas akan kata kata yang keluar dari bibir Jery. Tapi , ia juga tidak nerani untuk mengajukan protesnya.Begitu pula dengan para karyawan disana yang tinggal kempas kempis menahan nafasnya.
Setelah mengucapkan itu Jery langsung melangkah pergi. Sang wakil direktur hanya bisa menurut dan menganggukkan kepalanya lesu.
Mau protes pun percuma karena kuasa penuh perusahaan ada ditangan Jery. Ia hanya seorang karyawan yang beruntung saja. Yang bisa menduduki jabatan itu.
Selepas kepergian Jery, Yohanes tampak memgepalkan tangannya. Ia begitu tidak terima atas apa yang Jery ucapkan tadi. Dan semua itu membuat Karin yang tak sengaja mendengar semua perkataan Jery sejak awal. Menarik sudut bibirnya licik.
"Boom waktu yang akan segera meledak".Guman Karin dengan sudut bibir terangkat.
🌿🌿🌿🌿🌿
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Jery masih saja sibuk dengan semua kegiatannya di perusahaan. Bersama dengan sang asisten nya. Membuat Velyn sedikit bosan karena ia tidak melakukan apapun.
Mau membantu ia juga bingung. Karena dirinya tidak mengerti sama sekali tentang bisnis suaminya. Bisnis keluarga nya saja Velyn tidak mau ikut campur.
Velyn hanya memainkan ponselnya sejak tadi. Hingga lama kelamaan ia malah tertidur dengan posisi duduk di sofa.
Jery pun beranjak dari kursi kerjanya. Menghampiri istrinya yang memang sudah tertidur dengan posisi duduk. Lalu dengan pelan Jery membenarkan posisi tidur istrinya. Menyelimutinya dengan jas miliknya.
" Evi, tolong pesanan makan siang!!!. Kita istirahat saja dulu! ".
" Baik Tuan".
Dan Evi pun langsung melangkah keluar ruangan, untuk memesankan makan siang tuan dan Nyonyanya. Karena sebentar lagi sudah waktunya makan siang.
Begitu keluar ruangan Evi merasakan suasana kantor tampak sedikit hening. Karena sebagian karyawan sudah di pecat oleh Jery.
Pak Sucipto juga saat ini pasti di sibukkan untuk memasang iklan. Mencari karyawan baru lagi. Karena Jery selalu bersikap tegas. Pada siapapun juga , apalagi karyawan yang di anggap tidak kompeten. Sedikitpun tidak ada toleransi darinya.
Kala melihat Evi sudah keluar ruangan. Jery kembali mendekati sofa. Dimana sang istri masih tampak memejamkan matanya. Tangan Jery terulur menggapai kulit wajah Velyn yang sangat mulus.
Jery juga mendarat kan kecupan singkatnya pada kening dan bibir istrinya. "Aku merasa sekarang aku adalah pria yang sangat beruntung, karena aku selalu mendapatkan wanita wanita yang baik dan tulus seperti kalian".Lirih Jery menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
Tak ada hal lain lagi saat ini yang Jery pikirkan. Ia semakin hari semakin bersemangat bekerja. Hanya untuk kebahagiaan putri dan juga istrinya. Bahkan tanpa sepengetahuan Velyn Jery sudah menemui kakeknya Velyn.
Meminta izin pada sang kakek dengan setulus hatinya. Untuk menjaga dan bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang telah ia perbuat pada Velyn. Tak ada sedikitpun kebohongan yang Jery lontarkan. Memang awalnya sang kakek sedikit emosi. Karena dia juga sebetulnya sudah tahu.
Namun karena keberanian dan kejujuran Jery untuk mengakuinya. Hal itu membuat sang kakek salut dan yakin. Jika Jery adalah sosok pria yang baik dan tidak akan mengecewakan.
Sang kakek juga tak menyangka jika cucunya akan menjadi salah satu bagian dari keluarga Bagaskara. Yang sudah terkenal sepak terjangnya itu. Bahkan sang kakek juga tidak pernah terpikirkan apalagi membayangkan sedikit pun. Besan nya adalah orang yang jauh lebih bertahta dan berkuasa.
Kakek Velyn pun sudah menyerahkan perusahaan nya ketangan Jery. Meskipun awalnya Jery menolak lantaran ia tidak memiliki hak atas itu. Tapi, Kakek Velyn tetap memaksanya. Akhirnya Jery mau menerimanya tapi dengan syarat. Perusahaan itu di atas namakan dengan nama Velyn. Jery sebagai suami hanya mengurus dan menjalankan nya saja.