
Kediaman Jery...
Ketika Calista dan Barra sibuk perang mulut karena saling menyalahkan satu sama lainnya. Namun keduanya memang mempunyai cara masing masing untuk menunjukkan perasaannya. Meskipun caranya mungkin di anggap tak terlalu mencolok oleh semua orang.
Di rumah yang berbeda juga saat ini, Jery tengah duduk di samping istrinya dengan baby Marchel yang ada di pangkuannya. Dan Maura yang sedang tiduran dengan paha bunda nya sebagai bantalnya.
Weekend kadang memang Jery gunakan untuk berkumpul bersama keluarga nya. Dan menghabiskan waktu seharian. Tanpa ada selingan pekerjaan kalau tidak begitu penting tentunya.
" Permisi Tuan, Nyonya. Di luar ada Bu Evi dengan putranya juga ingin bertemu tuan dan Nyonya". Seorang Art datang menghampiri Velyn dan juga Jery.
" Oh, iya bik. Suruh tunggu ya!!!. Kami akan segera keluar kok". Velyn tampak semangat saat mendengar Evi datang bersama putranya. Karena Velyn juga penasaran seperti apa wajah putra asisten pribadi suaminya itu.
Sebab, Evi juga tampaknya lebih senang menyembunyikan identitas sang putra selama ini. Bahkan Evi pun menyekolahkan putranya di salah satu pesantren yang jauh dari pusat kota di luar kota.
" Kamu kok semangat sekali sayang??? ". Jery sampai bingung akan tingkah istrinya saat ini.
" Siapa tahu jadi besan Mas". Seloroh Velyn sembari melirik Mayra yang masih tetap tak mau beranjak dari paha Bundanya.
" Kamu ini ada ada saja. Belum tentu setelah dewasa nanti mereka saling menyukai. Karena Cinta itu tidak bisa di paksakan sayang". Jery tak berniat untuk menjodohkan anak anaknya meskipun ada teman ataupun rekan bisnis nya menginginkan hal itu.
Sebab, Bagi Jery cinta itu mengalir seperti air. Dan tidak tahu kapan dia akan datang dan pergi. Karena akan sulit jika timbul cinta karena di paksa. Jery sendiri yang telah mengalami nya sendiri. Meskipun pada akhirnya perjuangan dan usahanya tidak sia sia. Namun, tetap ia akan membiarkan anak anaknya memilih jalan nya masing masing . Dan menemukan cintanya dengan cara mereka sendiri.
" Aku tahu sayang. Dan bukankah kita sendiri telah melaluinya?". Senyum Velyn begitu tulus, membuat Jery ikut tersenyum dan mengusap wajah istrinya lembut. Sedangkan Baby Marchel malah mendongak menatap wajah Papanya.
" Untuk apa??? ". Tanya Velyn bingung.
" Semuanya sayang". Jawab Jery tersenyum teduh dan mulai bangkit dari sofa. " Ayo kita temui calon mantu". Seloroh Jery mengulum senyum gelinya. Membuat Velyn terkekeh akan ucapan suaminya itu.
Velyn pun langsung mengajak Mayra untuk segera bangun juga. Tapi, sayangnya Mayra malah lebih asyik nonton film kartun kesukaannya. Dan menolak saat di ajak menemui Evi dan putranya.
Evi tersenyum dan bangkit dari tempat duduk nya saat melihat kedatangan Jery dan juga Velyn. Dengan baby Marchel yang tetap berada dalam gendongan Jery sang Papa.
Tatapan Velyn langsung tertuju pada anak laki laki yang usianya satu tahun lebih muda daripada Mayra. Tapi tubuhnya tinggi dan auranya juga tak kalah dingin dari sang Mama.
" Marvin , ayo beri salam!!! ". Ucap Evi sembari melirik putranya yang masih tetap diam sambil berdiri di samping Mamanya.
Anak laki laki yang wajahnya terlihat tampan itu. Kini pun menganggukkan kepalanya. Dan mulai menyalami tangan Jery dan juga Velyn secara bergantian. Membuat Velyn tersenyum bangga. Ternyata Evi mempunyai seorang putra yang begitu tampan dan sangat sopan.
" Wah, putamu sangat tampan Evi". Puji Velyn tanpa basa basi lagi. Membuat Evi hanya bisa tersenyum saja.
" Saya akan menyekolahkan Marvin disini Nyonya. Setelah Marvin masuk SMP nanti". Ucap Evi jujur. Karena ia tidak mau lagi selalu berjauhan dengan putranya. Selama ini Evi hanya ingin menghindari mantan suaminya yang memang hubungan nya tidak terlalu baik dengannya.
Bahkan biaya Marvin saja tidak pernah Evi sedikitpun meminta bantuan dari mantan suaminya itu. Masa lalunya membuat Evi menjadi benar benar berpikir ulang untuk membuka hatinya kembali. Dan bahkan luka masa lalunya masih melekat erat sampai saat ini.
" Wah, bagus dong. Nanti bisa satu sekolah juga sama Mayra. Iya kan mas? ".Jery pun hanya mengangguk kan kepalanya sembari tersenyum smrik.