Married Accident

Married Accident
Baby twins Khenzo dan Khanza



Bara sejak tadi menatap tegang saat istrinya ternyata sudah ingin melahirkan. Apalagi saat ini keduanya sama sama berada di dalam ruangan persalinan. Dimana, Calista sudah siap akan melakukan operasi cesar. Karena tak memungkinkan untuk lahiran normal.


Bara menatap sedih dengan sorot mata yang berkaca kaca. Ia begitu tidak tega saat Calista terus merintih menahan sakit dan nyeri dibagian pinggangnya.


" Sayang, apa sesakit itu? ". Pertanyaan konyol Bara mulai terlontar kembali.


" Lebih enak bikinnya". Seloroh Calista membuat para team dokter langsung menahan tawanya. Mendengar jawaban Calista yang tak berfilter itu.


" Benarkah? ". Bara lagi lagi kembali seperti orang bodoh. Sepasang suami istri itu malah terlihat seperti pasangan aneh di mata team medis.


Apalagi ketika Calista menganggukkan kepalanya tanpa malu. " Tapi, setelah ini kita mesti puasa pi". Suara Calista terdengar melas.


" Berapa lama? ". Tanya Bara mulai was was.


" Berapa lama dok? ". Calista malah bertanya pada dokter perempuan yang akan menangani persalinanya itu.


Calista pun saat ini sambil menahan rasa kram dan nyeri. Bahkan, pinggangnya terasa akan patah dan lepas dari tubuhnya. Cuma, Calista hanya mengalihkan kesakitannya agar tak terlalu berpengaruh pada dirinya. Dan malah membuat suaminya tampak semakin khawatir.


" Selama lebih kurang 40 hari Nyonya. Tapi, karena Nyonya melakukan operasi cesar. Bisa saja lebih dari itu. Sebab, menunggu luka bekas operasi nya benar benar pulih. Dan itu tergantung dari diri pasien masing masing Nyonya ".


Jawaban dokter itu membuat Bara lemas. Ia tidak bisa membayangkan lagi jika harus puasa selama itu. Padahal, dulu bersama Melly. Bara malah tampak biasa saja. Sama sekali, tidak keberatan jika harus puasa. Karena, Bara juga dulu sangat jarang melakukan nya dengan Melly. Dan hanya bersama Calista. Bara merasakan nyut nyutan ketika tidak senam ranjang.


Bara hanya pasrah saat istrinya mulai hilang kesadarannya. Ketika obat penenang nya sudah bekerja. Semua yang di lakukan team medis tak hilang dari pantauan Bara. Ia benar benar melihat dengan jelas saat satu persatu baby nya di keluarkan dari rahim istrinya.


Sungguh saat ini Bara tak bisa berkata apa apa lagi. Ia menitik kan air mata kebahagiaan nya. Sekarang ia benar benar jadi seorang Papi sebenarnya. Karena buah cintanya dengan Calista sudah hadir kedunia ini.


Bara menatap baby twins satu persatu yang saat ini berada di dalam Box baby nya. Wajah kedua anak nya begitu tampan dan cantik. Senyum Bara terbit ketika baby girl mulai membuka matanya yang bulat itu.


Alis yang tebal dan juga bulu mata yang lentik. " Welcome world baby Khanza ". Seru Bara tersenyum menatap sang putri.


" Kalau baby boy siapa pi namanya? ". Tanya Calista yang saat ini berada di ranjang nya sembari makan buah apel yang sudah Bara potong potong.


" Untuk baby boy papi akan beri nama Khenzo". Tambah Bara tersenyum menatap putranya yang masih terlelap di dalam box nya.


Calista pun tersenyum karena ia setuju setuju saja. Karena semua nama baby twins ia serahkan pada suaminya itu.


" Sayang, bagaimana kalau aku ingin? ". Bara melangkah menghampiri istrinya yang masih asyik memakan buah segar di dalam piring itu.


Calista menyerahkan piring buahnya pada suaminya. Lalu ia menatap wajah suaminya dengan senyum dibibirnya. Calista sudah benar memikirkan cara terbaik untuk memuaskan suaminya. Sampai dirinya pulih dan baby twins bisa tidur pisah dengan mereka.


" ******". Jawab Calista sambil menaik turunkan alisnya.


" Mau coba dulu tidak untuk pertama kalinya?. Hitung hitung latihan untuk kedepannya nanti! ". Seloroh Bara sambil tersenyum menggoda.


" Disini? ".


" Kenapa tidak? ".


Pasangan itu benar benar tidak tahu tempat sama sekali. Padahal baru beberapa jam yang lalu Calista melahirkan baby twins tapi si Papi memang gak ada ahklak. Sekarang malah menyuruh istrinya untuk memanaskan lobaknya. Padahal, selama ini juga Calista sering melakukan hal itu sebelum mereka tempur.