Married Accident

Married Accident
Satu Minggu



Satu Minggu telah berlalu sejak Jery memanggil Velyn ke ruang kerjanya. Dan sudah satu minggu ini juga Velyn tinggal satu rumah tapi tidak satu ranjang dengan suaminya. Hubungan mereka masih datar, lempeng dan tidak ada kemajuan sedikitpun.


Meskipun Velyn sudah di sediakan kamar sendiri oleh Jery. Namun bumil itu lebih memilih satu kamar dengan Mayra anak sambungnya. Pesan terakhir Manda padanya selalu terniang niang di telinganya dan selalu ada di dalam pikirannya.


Bahkan Velyn lebih bersikap melebihi ibu kandung Mayra sendiri. Ia rela mengantar jemput gadis kecil itu setiap harinya ke sekolah. Hanya untuk menghindari Jery. Setiap kali Jery turun ke lantai bawah ketika pagi hari. Velyn dan Mayra sudah pergi ke sekolah.


Tapi Velyn juga tak pernah absen untuk menyiapkan keperluan Jery. Dari mulai pakaian kerjanya, sarapan dan juga kebutuhan lainnya. Jery memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Karena Mayra juga sering masuk ke kamar Papanya.


Sedangkan sampai saat ini Jery masih belum mengetahui ke jadian sebenarnya. Dan siapa Velyn. Karena asisten Evi saat ini sedang cuti. Sebab putra semata wayangnya baru saja pulang dari rumah sakit. Sedangkan Brian juga sudah satu minggu ini berada di luar Negeri karena urusan bisnisnya.


Bahkan Velyn sendiri lebih memilih bungkam. Dan tidak pernah berusaha untuk menjelaskan hal sebenarnya pada Jery suaminya. Bagi Velyn sudah cukup ia tidak di anggap sama sekali. Dan jangan sampai Jery semakin membenci nya karena kebodohannya sendiri malam itu.


Seperti pagi ini,Jery yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Sayang, mana baju gantiku??? ".Teriak Jery . " Manda sayang baju gan... ".Jery langsung berhenti berteriak ketika ia tanpa sadar menyebut nama istrinya.


Ia berdiri di depan ruangan walk in closet dengan tatapan mata yang mulai sedikit mengembun. Kehilangan istrinya membuatnya benar benar seperti mayat hidup. Jika saja bukan karena Mayra yang harus tetap ia jaga. Dan ia besarkan sesuai harapkan mendiang istrinya. Mungkin saat ini Jery sudah gila.


Ia sudah berusaha untuk bangkit dan berusaha untuk terbiasa hidup tanpa sang istri. Nyatanya semua itu sangatlah susah. Bahkan saat akan tidur ia selalu teringat canda tawa Manda. Sudah satu Minggu ini ranjangnya sepi. Biasanya sebelum tidur istrinya selalu saja menghibur nya dengan kata kata konyolnya.


Tapi sekarang rasanya sangat hampa. Waktu itu ia menjadi cuek saat mengangap Manda pergi karena selingkuh. Karena Jery masih bisa membawa Manda untuk pulang ke rumahnya dan memperbaiki keadaan. Tapi, takdir malah berkata lain. Sekarang istrinya tidak akan pernah kembali lagi.


"Kau bahkan sudah memberitahu dan mengajari art kita untuk menyiapkan ini sayang. Sepertinya kau memang sudah tahu kapan kau akan pergi".Guman Jery sambil meraih kemeja warna putih yang ada di atas ranjang.


Jery tidak pernah tahu jika orang yang telah menyiapkan semua kebutuhannya selama satu minggu ini adalah Velyn. Karena bumil itu selalu masuk ke dalam kamar Jery. Saat Jery sedang mandi.


Velyn tidak mau jika Jery tahu dia masuk kedalam kamarnya dan mencoba membantunya menyiapkan segala keperluan nya. Malah membuat Jery menolak dan malah marah. Jadi, Velyn memilih sembunyi sembunyi.


Setelah selesai memakai setelan kerjanya. Seperti biasa Jery langsung turun kebawah. Untuk sarapan. "Mayra sudah berangkat lagi bi??? ".Tanya Jery pada art nya.


" Iya tuan, tadi sama Nyonya. Tadi Nyonya juga pesan. Kalau hari ini mereka akan pulang sedikit terlambat tuan. Karena Nyonya akan berkunjung kerumah kakeknya sekalian periksa kandungan juga".


Jery nampak diam sejenak. Tapi ia langsung menganggukkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa sedikit tidak tega dengan Velyn. Meskipun ia masih menganggap bayi yang ada di kandungan Velyn bukan anaknya. Tapi rasa perikemanusiaan Jery tidak akan hilang.


Ia tetap orang baik sama seperti sebelumnya. Dan ia juga heran kenapa sampai sekarang Velyn pun tidak pernah merepotkan nya. Bahkan kartu ATM yang ia berikan pada wanita itu. Tak pernah Velyn pakai sedikitpun. Jumlahnya masih utuh sampai sekarang.


Jery memang tidak pernah berbicara dekat dengan Velyn. Tapi bukan berarti Jery lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Hanya saja ia belum siap untuk dekat dengan wanita mana pun juga. Sekalipun itu Velyn yang sudah ia nikahi didepan mendiang istri tercinta nya.


Jery langsung merogoh ponselnya dan ia malah menghela nafasnya pelan. Karena niatnya ingin menelpon Velyn. Tapi ia baru ingat jika sampai saat ini ia tidak memiliki nomor ponsel wanita itu.