Married Accident

Married Accident
Sejenis Hukuman



Calista menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya secara kasar. Apalagi ketika suara pintu kamarnya dibuka. Derap langkah kaki, membuat Calista yakin jika itu adalah Barra suaminya. Lagi lagi Calista hanya bisa menghela nafasnya saja. Ia tidak akan membantah dan juga tidak akan protes jika sampai Barra marah padanya.


Pikiran wanita itu sudah melayang kemana mana. Bahkan ia sudah sangat pasrah jika akhirnya ia di pecat jadi istri. Belum juga Barra mendekati nya. Calista sudah lebih dulu buka suara.


" Berhenti di situ!!! ". Seru Calista tanpa menoleh sedikitpun.


" Biarkan aku mengambil nafas dan mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk menerima kemarahan mu!! ".


" Bahkan aku akan pasrah kalau kau ingin memukulku!!. Mencaci maki ku. Bahkan... " Calista menjeda ucapan nya membuat Barra menautkan kedua alisnya. " Bahkan aku akan terima jika kau ingin mengakhiri pernikahan ini". Lirih Calista dengan suara lemahnya.


Barra menghentikan langkahnya sejenak. Lalu ia kembali menarik sudut bibirnya mendekati Calista yang berbicara panjang lebar tanpa menoleh sedikit pun padanya.


Greppp...


Calista tercengang akan sikap Barra dan langsung memeluk tubuhnya dari arah belakang. Barra juga menempelkan dagunya di bahunya. "Apa kau begitu berharap aku menceraikan mu?. Hm? ". Tanya Barra dengan suara dingin nya.


Calista berniat membalikkan tubuhnya. Namun, tubuh itu ditahan dan semakin di peluk erat oleh Barra. " Kenapa kau berharap aku marah padamu??. Apa kau berniat pergi dariku?? ". Lagi lagi Barra melayangkan pertanyaannya.


Calista tak sempat menjawab saat lehernya mendapatkan sesapan dan gigitan kecil dari Barra. Ia hanya bisa menahan suaranya agar tidak mendesah.


" Jangan harap bisa pergi dariku Calista Sherly Edwar". Bisik Barra yang menyematkan nama Edwar di ujung nama istrinya.


Calista terkejut bukan main. Karena nama keluarga nya di ganti dengan nama suaminya. Ia langsung menoleh dan ingin bertanya.


"Eum... ".


Belum juga sempat bertanya bibirnya malah di bungkam oleh ciuman panas suaminya. " Aku akan menghukummu dengan caraku sendiri sayang". Ucap Barra saat ia menjeda ciuman nya.


Calista terpekik saat tubuhnya di gendong ala baby koala oleh suaminya. Bahkan Barra saat ini masih bisa memagut bibir ranum nan tipis itu. Sembari terus melangkah masuk kedalam kamar.


Calista tersenyum saat tubuhnya sudah di letakkan di atas ranjang empuk dan Barra mulai membuka bajunya dan menurunkan celana panjang nya.


Tatapan Barra tak teralihkan sedikitpun dari sang istri. Ia harus menunda meetingnya hari ini. Hanya untuk menemani istri dan putrinya makan siang. Tapi, malah ia mendapatkan laporan dari anak buahnya jika mantan istrinya ada di cafe yang sama dengan putri nya dan juga istrinya.


Hari ini Barra lebih memilih untuk menghukum Calista daripada ia harus kembali ke perusahaan. Ia butuh kesegaran otak dan pikiran. Setelah tadi emosinya naik saat kembali melihat wajah wanita yang tidak tahu diri itu.


Benar saja beberapa saat kemudian. Di kamar itu hanya ada lenguhan dan rintihan kenikmatan saja. Yang menandakan sepasang suami istri itu kembali adu gairah.


Beruntung Celine sudah Barra titipkan pada babysitter nya. Putrinya itu sedang tertidur pulas setelah ia puas menangis menahan bahunya yang sedikit merah tertumpah makanan hangat.


Setelah hampir satu jam mereka bergumal di atas ranjang dengan gaya yang berbeda beda. Baik dari gaya tikus terjepit maupun tikus terjengkang. Telah Barra dan Calista praktek kan. Hingga akhirnya keduanya sama sama terkulai lemas dengan posisi terlentang di atas kasur empuk itu.


" Kemarilah!!! ". Barra menepuk lengan tangannya yang kekar. Membuat Calista langsung meletakkan kepalanya disana. Dan memeluk tubuh kekar itu dengan senyum dibibir nya.


" Bagaimana keadaan Celine???. Aku benar benar khawatir tadi saat melihat nya menangis. Sungguh aku tidak tahu jika...


"Hussttt... Jangan berisik!!!. Aku lelah. Celine tidak papa dia baik baik saja hanya sedikit merah di bahunya".


Calista merasa lega karena putrinya sambungnya baik baik saja. Ia berniat bangkit dari ranjang nya untuk melihat celine. Tapi gerakan tubuhnya kembali di tahan oleh Barra.


"Jangan berani kabur dariku!!. Kembali ke posisimu tadi!!. Temani aku istirahat!!! ".


Calista Mencebikkan bibirnya kesal. Suaminya itu benar benar manusia es tingkat dewa. Tak mau dibantah sedikitpun. Dengan berat hati Calista pun hanya bisa manut.