Married Accident

Married Accident
Godaan Calista



" Ahhhh... ". Calista langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk ranjang pengantin nya. Sebuah kamar Presidential suite yang saat ini telah di sulap menjadi kamar yang sangat terkesan romantis. Dengan taburan bunga mawar berbentuk hati di tengah tengah ranjangnya.


" Siapa sih yang naburin bunga disini?. Yang naburin bunga pasti gak tau kalau pengantin nya udah bukan malam pertama lagi". Calista terkekeh sendiri menertawakan dirinya yang sudah hilang kesucian jauh sebelum menikah.


Bodoh memang, kalau bukan bodoh bukan Calista namanya. Tapi ia bodoh karena terbuai akan sentuhan Barra seorang. Sebab, selama ini ia juga bisa menjaga dirinya dengan baik. Meskipun ia selalu membuat masalah yang memusingkan kepala kedua orang tuanya.


Ceklek...


Pintu kamar kembali terbuka menampakan wajah tampan dan rahang tegas milik pria yang kini telah berstatus suaminya itu. Membuat Calista langsung tersenyum penuh arti.


Calista bangkit dari ranjangnya dan kini berdiri dengan kedua tangan yang ia letakkan di di depan dadanya. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuh rampingnya dengan memperlihatkan punggung mulusnya.


Barra melirik sekilas lalu ia berlalu begitu saja. Meletakkan jas nya di sofa empuk yang ada di dekat meja rias. Lalu Barra juga mulai membuka kancing kemejanya.


Tapi gerakan tangan Barra malah langsung terhenti saat tangan halus dengan jari jari lentik itu mulai menyentuh pundaknya. Barra hanya menoleh sekilas sebelum Calista membalikkan tubuhnya. Hingga kini mereka berdua saling berhadapan.


" Ada apa??? ". Tanya Barra pura pura bodoh.


Tapi, bukannya menjawab Calista malah tersenyum . Dan tangannya juga mulai bergerak menyentuh dada bidang Barra dengan gerakan nakalnya. Membuka satu persatu kancing kemeja suaminya.


" Ini malam pengantin kita bukan?. Apa kau tidak ingin menghabiskan malam denganku yang kini sudah sah menjadi istrimu?. Hm? ". Calista mulai menggoda Barra.


Barra hanya diam sambil menahan sesuatu di dalam dirinya. Jujur sejak di atas panggung pelaminan sampai saat ini Barra berusaha mati matian menahan dirinya. Apalagi melihat punggung mulus Calista yang sejak tadi selalu terekspos dengan sempurna di depan matanya. Membuat Lobaknya selalu bergerak dengan sendirinya.


Belum lagi saat ini, Calista malah mulai menggerayangi tubuhnya. Membuat Barra memejamkan matanya saat satu tangan Calista menyentuh Lobaknya yang sudah on fire tanpa aba aba lagi.


" Dia sudah berdiri suamiku". Bisik Calista dengan nada sensualnya. Membuat Barra langsung memanas. Bagi Barra Calista tak hanya sempurna tapi ia juga penggoda yang sangat handal.


Barra menarik tekuk leher Calista dan menyambar bibir tipis itu dengan pagutan yang sangat rakus dan menuntut. Membuat wanita itu ikut membalas nya dengan tak kalah rakusnya.


Kini tubuh Calista hanya berbalut pembungkus terakhir nya saja. Dengan penutup bukit kembar bewarna hitam dan juga segita dibawah sana yang warnanya juga senada.


Tangan Barra kini berpindah pada kedua aset kembar Calista. Hingga de-sahan Calista mulai keluar tanpa permisi lagi.


"Aakhhh... ".


Calista kembali melenguh ketika kini tangan Barra sudah menyentuh sarang burungnya dibawah sana. Dengan salah satu jarinya yang sudah mulai ikutan masuk juga. Barra juga sudah menyesap dan menggigit kecil leher jenjang istrinya hingga meninggal kan bekasnya disana.


Barra kembali menatap wajah istrinya yang kini sudah di penuhi kabut gairah. Lalu Barra mendorong pelan tubuh Calista hingga ia kini sedikit bersender pada badan sofa.


Barra menurunkan kepalanya untuk sejajar dengan sarang burung walet di bawah sana. Kaki Calista pun ia naikkan satu pada bahunya. Hingga ia mulai memainkan benda tak bertulang itu untuk terus menyusuri dan membasahi sarang burung tersebut dengan mudah dan leluasa.


"Ohh... Barra".


Calista mulai meracau tak karuan merasakan sesapan nikmat yang menyedot nyedot dibawah sana. Bahkan Calista sampai menjambak rambut Barra.


Barra tersenyum licik saat Calista sudah tak sabaran lagi ingin segera di masuki. Tapi, di luar dugaan Barra malah berhenti begitu saja. Dan kini berdiri .


" Hei kau mau kemana??? ". Calista tak terima ketika melihat suaminya malah akan beranjak pergi. " Ini bagaimana??? ". Kesal Calista


" Bukankah sudah basah?. Jadi bersihkan dirimu!!. Dan istirahat lah!! ".


Tak terima di tinggal begitu saja saat dirinya sudah ingin menikmati malam panjangnya. Calista menarik tangan Barra hingga pria itu jatuh terduduk di sofa. Dan tanpan membuang waktunya lagi Calista malah ikut duduk di pangkuan Barra.


" Kau yakin ingin menganggurkannya begitu saja??? ". Tanya Calista sembari membuka penutup bukit kembarnya.Dan meletakkan tangan Barra pada benda itu.


Tak hanya itu saja Calista juga mulai menggerakkan pinggul nya di atas sana. Dan ia pun bisa merasakan milik Barra sudah mengeras di bawah sana.