
"Tahan sebentar ya sayang!!! ".Mayra pun hanya menganggukkan kepalanya saat Velyn mulai menempelkan kapas yang sudah di bubuhi alkohol , mencegah agar luka Mayra terhindar dari bakteri. Lalu dengan telaten dan sangat pelan Velyn pun menempelkan plaster sambil meniupnya pada luka Mayra.
" Bunda kita masih jadi jalan jalan kan??? ".Tanya Mayra dengan memasang wajah gemasnya.
" Mayra masih kuat jalan??? ".Tanya Velyn menggoda gadis kecil itu. Membuat Mayra kembali menganggukkan kepalanya cepat.
Velyn pun ikut tersenyum senang melihat Mayra yang terlihat bahagia. Hanya dengan sekedar di ajak jalan jalan. Setidaknya gadis kecil itu bisa sedikit melupakan Mama nya. Melupakan kesedihan atas meninggalnya Manda. Bukan untuk melupakan kasih sayang mendiang Mamanya.
Mungkin yang di lakukan Velyn saat ini tidak sebanding dengan apa yang Manda korban kan untuknya. Ketulusan Manda sangat jarang di temukan pada wanita yang berstatus istri di luaran sana. Dan lagipula jarang juga ada seorang istri yang bisa tulus ikhlas membagi suaminya dengan wanita lain.
Apalagi sampai mau menghadiri dan menjadi saksi pernikahan kedua suaminya kembali. Mungkin bisa dihitung dengan jari, Wanita yang berpikir logis seperti itu. Mereka tak hanya memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri dan juga tak hanya mementingkan kesenangan dunia. Melainkan lebih mengutamakan kebahagiaan di akhirat nantinya.
Karena jaminannya adalah surga bagi orang orang yang mampu dan bisa menjalani dengan iklhas dan hati yang tulus yang bernama poligami. Setidaknya pria sebagai suami bisa terhindar dari dosa kemaksiatan.
"Baiklah sayang, ayo kita kita telpon Papa dulu!!! ".Velyn pun menyodorkan ponselnya pada Mayra. Agar anak itu menelpon Papanya.
" Bunda tidak punya nomor telpon Papa sayang ".Lirih Velyn sambil nyengir kuda pada gadis kecil berwajah imut yang saat ini ikut menatap kearahnya.
" Mulai sekarang Bunda juga harus nyimpen nomor ponsel Papa juga!!! ".Serunya sembari mulai mengambil ponsel milik Velyn.
Velyn hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kaku. Bagaimana bisa ia menyimpan nomor ponsel Jery. Sedangkan suaminya itu tidak pernah sama sekali menanyakan apapun padany.
Jery hanya menegur disaat ia akan menemui putrinya saja. Dan bertanya perkembangan Mayra di sekolah nya. Selain itu, Jery nampak cuek dan juga tak pernah sedikitpun menanyakan tentang keadaan janin yang ia kandung sedikitpun.
Pria itu seolah membatasi jarak di antara mereka. Jery benar benar menutup dirinya. Ia juga sering pulang terlambat, hanya untuk menghindari makan malam bersama dengan Velyn.
Namun sejauh ini Velyn juga tak pernah ambil pusing masalah itu. Yang Velyn pikirkan hanya Mayra, Dan ia pun tidak akan mengingkari janjinya pada Manda. Selama ia masih mampu untuk bertahan maka Velyn akan tetap bertahan. Apalagi bayinya juga pasti membutuhkan sosok seorang Ayah.
"Assalamu'alaikum Papa".Sapa Mayra ketika ia sudah menelpon Jery dengan ponsel milik Velyn.
" Waalaikumsalam, Mayra. Kamu pakai nomor siapa sayang??? ".Jery di seberang telpon sampai menjeda pekerjaan nya. Yang saat ini sedang memeriksa berkas di meja kerjanya. Bersama sekretaris nya karena Asisten Evi masih belum bisa masuk ke kantor sampai saat ini.
" Nomor Bunda".Jawab Mayra jujur
" Bunda mau bicara sama Papa!!! ".Ujar Mayra membuat Velyn menggeleng kan kepalanya cepat. Karena ia sama sekali tidak ingin bicara dengan Jery yang berstatus suaminya itu.
Namun, Mayra langsung menyodorkan ponsel miliknya pada Velyn. Membuat Velyn menghela nafasnya berat.
" Halo mas".Ucap Velyn pelan dengan suara yang sedikit gugup.
"Hm, ada apa??.. Kalian baik baik saja kan??? ".
Pertanyaan Jery membuat Velyn sedikit terkejut. Tapi Velyn tidak mau menganggap itu sebuah perhatian Jery padanya. Karena pasti hanya akan mengkhawatirkan keadaan putrinya saja. Dan tidak untuk dirinya. Apalagi bayi yang ada di dalam kandungannya.
" Velyn, apa kau masih disana??? ".
" Ah, iya mas. Mayra baik baik saja. Cuma tadi ia jatuh dan lututnya sedikit lecet. Tapi aku sudah...
"Bagaimana bisa Mayra sampai jatuh begitu?. Apa kau tidak bisa menjaga nya dengan baik?. Dimana kalian sekarang??. Segera bawa kerumah sakit!!! ".Bentak Jery dari seberang telpon.
" Mas, Mayra hanya lecet saja. Tidak perlu dibawa kerumah sakit segala lagian...
"Apa kau bisa memastikan lukanya tidak akan infeksi??. Jika terjadi hal buruk dengan Mayra, maka kau adalah orang pertama yang akan aku salahkan".
Lagi lagi Velyn hanya bisa menghela nafasnya kasar. Saat telpon nya langsung di putuskan sepihak oleh Jery. Sudah dapat di pastikan Jery pasti akan langsung pulang.
" Sayang, jalan jalan nya kita tunda dulu ya!!!. Papa menyuruh kita pulang ".Ucap Velyn membujuk Mayra.
" Yah, kok batal sih Bun???. Memangnya kenapa??. Papa gak izinkan kita pergi ya Bun??? ".
Velyn berusaha untuk tetap tersenyum. Ia menangkup wajah imut Mayra dengan kedua tangannya.
" Papa mau pulang sayang. Masa Papa pulang kita gak ada di rumah. Mungkin Papa akan ikut pergi juga jika kita pulang".Velyn tetap memasang senyumnya di hadapan Mayra.
Bumil itu tidak mau melihat Mayra ikut sedih. Jika tahu bahwa Jery akan marah besar padanya. Sampai di rumah nanti. Dan Velyn pun sudah siap nerima amukan Jery. Karena ia juga merasa kurang menjaga Mayra hari ini.