
Malam harinya di rumah sakit tepatnya di dalam ruangan rawat Calista sudah ramai. Akan kedatangan para sepupu Calista. Di antaranya Jery dan juga Al. Mereka tidak menyangka jika Calista akhirnya bisa punya anak juga dari Bara suaminya yang kaku dan datar itu.
Saat ini baby Khanza sedang berada di dalam gendongan Jery. Karena Mayra dan Celine tidak mau jauh dari baby menggemaskan itu. Sementara Marchel dan Fatih sama sama dalam gendongan Umi dan Bundanya.
Itulah enaknya kalo punya rumah sakit sendiri. Mereka bisa memilih ruangan semaunya. Bahkan, ruangan rawat Calista saat ini sudah seperti hotel bintang lima. Fasilitas yang lengkap dan nyaman. Seperti bukan kamar rumah sakit saja.
Bagaimana tidak rumah sakit itu adalah Rumah sakit keluarga Bagaskara. Dimana Sherly dan Al lah pemiliknya. Kebetulan mension Bara tidak begitu jauh dari rumah itu. Makanya, Bara lebih cepat tiba di rumah sakit saat istrinya sudah pecah ketuban.
" Kemana asistenmu itu Bar? ". Tanya Al yang begitu tidak sopan nya akan suami sepupunya itu.
" Ah, iya. Sejak tadi aku belum melihat barang hidung Joe pi. Kemana dia? ". Calista ikut bertanya. Karena tak biasanya Joe tidak sigap kalau menyangkut urusan Bara.
Bara hanya diam dan mengangkat bahunya acuh. Meskipun ia tahu apa yang sedang Joe lakukan saat ini. Karena dua pria itu tidak akan menyimpan rahasia satu sama lainnya.
" Papa Joe lagi asyik pacaran Mi". Celetuk Celine dengan sangat jujur.
Calista melotot tak percaya jika Joe sekarang sudah punya kekasih. Apalagi, setahu Calista Joe adalah pria yang sangat sama dengan suaminya. Sama sama datar dan menyebalkan tentunya.
" Benar begitu sayang?. Joe sudah punya kekasih?. Siapa?. kenapa aku tidak tahu? ". Cecar Calista mulai kepo.
" Bu guru Rinda Mi . Wali kelas nya Celine di sekolah". lagi lagi Celine kembali membuat Calista terkejut. Dan yang lain pun hanya bisa terkekeh.
" Sejak kapan pi? ". Calista bertanya kembali pada suaminya.
Calista mencebikkan bibirnya kesal. Namun, ia juga ikut bahagia. Kalau Joe bisa serius dan berniat menikahi wali kelas Celine. Dimana Calista juga sedikit tahu bagaimana wali kelas Putrinya itu. Karena dari segi penampilan Calista bisa menebak jika Rinda bukan dari keluarga berada.
🌿🌿🌿🌿🌿
Sedangkan di rumah sakit yang berbeda. Malam ini Rinda baru saja tiba untuk menggantikan Ayahnya menjaga ibunya. Karean Sang Ayah harus kejar setoran buat tambahan biaya pengobatan ibunya.
Meskipun Joe sudah memberitahu jika masalah biaya rumah sakit tidak usah di pikirkan lagi. Namun, Ayah Rinda merasa tidak enak. Dan sangat tahu malu. Sebab, Joe begitu baik pada mereka. Sedangkan Ayah Rinda sadar jika putrinya dan Joe hanya berteman saja tidak lebih.
" Yah, kalau capek ayah istirahat saja!. Tidak usah narik lagi. Lusa Rinda udah gajian Yah. Jadi, bisa buat bayar sekolah nya Dimas juga". Ucap Rinda menhampiri Ayahnya yang tengah duduk di salah satu kursi di samping brankar ibunya.
" Simpan saja uang gajimu nak!. Untuk persiapan kamu staditur bulan depan!. Urusan biaya sekolah Dimas biar Ayah yang usahakan!. Insyallah kalau Ayah sehat akan ada rezekinya nak". Pria paruh baya itu menatap sendu pada putrinya.
Sebagai kepala keluarga tentunya dia merasa gagal. Karena tidak begitu mampu untuk membiayai keluarga nya sendiri. Apalagi istrinya yang selalu keluar masuk rumah sakit. Dan butuh biaya yang sangat besar.
Bahkan, hutangnya pada rentenir harus ia cicil setiap bulannya. Dan itupun tanpa sepengetahuan Rinda dan istrinya.
" Gak papa yah. Rinda masih bisa juga cari rezeki lain buat staditur bulan depan. Lagian, itu juga tidak begitu wajib kok Yah. Rinda bisa meminta pengecualian dari kampus". Rinda sama sekali tidak mau membuat Ayahnya selalu ngoyo cari rezeki.
Apalagi usia Ayahnya sudah tidak muda lagi. Ayahnya sering masuk angin karena lelah. Dan Rinda juga tidak bisa melihat kedua orang tuanya sama sama sakit.