
Empat Bulan Kemudian...
Sejak kedatangan Evi kerumah Jery dan Velyn dengan memperkenalkan putranya bernama Marvin. Ternyata Evi malah tidak bisa menahan diri lagi untuk segera dekat dengan sang putra. Hingga pada akhirnya saat Marvin tinggal naik kelas lima enam SD, Evi malah langsung mengurus surat pindah sekolah Marvin dan kini sudah satu sekolah dengan Mayra.
Meskipun bukan kembali ke pesantren, hanya sekolah ternama yang merupakan kumpulan para anak anak yang memang orang tuanya di sibukkan oleh pekerjaan. Terlebih itu adalah SD swasta yang bisa dikatakan jika bayaran Sekolah nya saja sangat mahal untuk golongan orang menengah kebawah.
Namun, Evi tidaklah pusing memikirkan biaya sekolah sang putra semata wayangnya. Sebab, Jery dan Velyn sudah menanggung penuh semua kebutuhan sekolah Marvin. Awalnya Evi menolak karena ia masih sanggup untuk membiayai sekolah putranya. Tapi, Jery dan Velyn tetap mendesak agar Evi mau menerima bantuan mereka berdua. Bukan karena Velyn dan Jery berniat menjodohkan Mayra dan Marvin tapi real hanya ingin putra asisten pribadi Jery bisa menikmati fasilitas yang sama dengan Mayra.
Meskipun satu sekolah yang sama dengan Mayra, tak lantas membuat Mayra dan Marvin bisa akrab. Mereka berdua malah sama sama seperti tak saling kenal dan menyapa sama sekali. Padahal Velyn dan Jery selalu bilang pada Mayra untuk selalu mengajak Marvin pulang bersama.
Tapi Mayra malah menjawab Marvin adalah anak yang datar dan dingin. Malas untuk mengajaknya bicara, Karena Marvin pasti hanya menjawab dengan singkat dan datar. Seperti siang ini saat Mayra dan Marvin harus pulang dengan mobil yang sama. Karena setiap hari Marvin setelah pulang sekolah selalu pulang kerumah Jery. Lantarakan Mama nya harus bekerja.
Setelah Evi pulang, Marvin barulah pulang ke rumah dengan dijemput Evi sang Mama. Mayra turun lebih dulu dari mobilnya tanpa menunggu Marvin lagi. Dan seperti itulah setiap harinya. Bahkan saat di dalam mobil Marvin selalu menjaga jarak padanya.
" Assalamu'alaikum Bunda". Sapa Marvin saat ia sudah berada di depan pintu rumah mewah Jery dan Velyn.
Velyn yang memang sudah menunggu kedatangan anak anak pulang sekolah. Langsung menjawab salam Marvin". Waalaikumsalam ". Velyn menghampiri Marvin dengan senyum dibibirnya.
" Ganti baju dulu sayang!!. Setelah itu kita makan siang bersama!!. Bunda tunggu di meja makan ya! ".Ucap Velyn tersenyum teduh pada putra asisten suaminya itu.
" Marvin sholat dulu sebentar Bun. Kalau Bunda mau duluan gak papa!!! ". Jawab Marvin yang memang waktu sholat zuhur tinggal beberapa menit lagi. Velyn selalu dibuat tercengang akan sikap putra Evi. Ia begitu taat beribadah dan sekalipun ia tidak pernah meninggalkan sholatnya meskipun dalam keadaan sakit.
Beberapa menit berlalu Marvin kembali keluar dan sudah tampak segar dengan memakai baju koko dan peci di kepalanya. Velyn sudah paham jika Marvin akan sholat di masjid. Beruntung masjid di kompleks Jery tidak jauh dari rumah itu.
Senyum Velyn mengembang ketika melihat pemandangan itu. Rasanya sangat adem dan begitu teduh. Masih berusia 10 tahun saja Marvin sudah rajin sholat dan selalu taat agama. Apalagi ketika ia dewasa nanti. Usia Marvin memang satu tahun lebih muda dari Mayra, Namun, mereka berdua bisa satu angkatan yang sama. Karena Marvin tergolong anak yang cerdas jadi, ia bisa diterima sekolah barengan dengan Mayra.
" Bunda Marvin mau ke masjid dulu, Assalamu'alaikum ". Pamitnya pada Velyn yang saat ini masih menyuapi baby Marchel MPAsi.
" Iya sayang, Waalaikumsalam ".
Mayra turun dari lantai dua ketika Marvin sudah keluar rumah. Tatapan Mayra masih sama seperti tak melihat apapun. Kadang hal itu membuat Velyn hanya bisa menggeleng kan kepalanya saja.
" Bunda belum mau sholat juga??? ". Tanya Mayra setelah ia duduk di salah satu kursi yang ada di teras depan. Karena Velyn sedang disana.
" Bunda sedang ada tamu bulanan sayang. Loh kenapa Mayra malah turun?. Gak sekalian sholat dulu aja?". Velyn balik bertanya.
" Mayra mau sholat di musholah saja bun. Lagian belum adzan juga. Marvin saja yang selalu buru buru ". Seru Mayra sedikit kesal akan nada ucapannya.
" Sholat itu gak boleh di tunda tunda sayang. Kan biasanya Marvin sering adzan di masjid. Makanya dia ingin lebih dulu datang ".
Marvin di didik dengan baik oleh Evi. Agar putranya itu tidak meniru sifat buruk mantan suaminya. Dan beruntung Marvin malah menuruni sifat Mamanya. Serta selalu mendapatkan pelajaran yang baik di pesantren. Sehingga ia mulai tumbuh menjadi sosok yang sangat menjaga lisan dan juga perbuatan nya.