
"Saya pergi bersama Brian. Dan hanya party kecil saja. Cuma berdua".Jawab Jery jujur.
Terdengar helaan nafas lega dari seberang telpon. Membuat Jery mengulum senyumnya. Karena asisten pribadinya itu selalu saja mengkhawatirkan dirinya. Evi begitu tulus mengabdikan dirinya pada Jery dan keluarga besar Bagaskara.
Itulah yang membuat Jery selalu percaya pada Evi. Dan semua yang ia alami selalu ia ceritakan. Hingga hampir tak ada rahasia di antara mereka berdua. Selain itu juga Evi sudah menanggap Jery sebagai kakak nya sendiri. Meskipun usia keduanya tidak beda jauh. Tapi Evi sangat menghargai Jery sebagai atasannya di perusahaan.
"Apa perlu saya siapkan jet pribadi anda untuk terbang ke Surabaya tuan??? ".Tanya Evi lagi
" Tidak perlu Evi. Karena aku ingin naik pesawat umum saja".
"Baik tuan. Em mengenai ponsel dan dompet tuan...
" Tolong antarkan saja!!!. Nanti saya kirim alamatnya!!! ".
Setelah mendengarkan kesanggupan dari Evi. Jery pun langsung mengakhiri panggilan telpon nya. Dan memberikan kembali ponsel milik Brian.
" Men, semalam beneran kan loe kagak main sama wanita disana??? ".Tanya Brian tiba tiba karena Brian masih ingat saat ia kembali semalam keadaan Jery begitu sangat kacau. Bahkan kancing kemeja nya sudah terbuka semua dengan resleting celana panjang nya yang sedikit terbuka.
" Bukannya loe sendiri yang bilang jangan memasukkan wanita ke dalam ruangan kita??? ".Jawab Jery datar.
Brian pun langsung terkekeh".Kan itu demi kebaikan loe juga men. Lagian perempuan disana tidak terjamin kesehatan nya men. Masa gue punya sahabat kena Hiv gara gara coblos satu kali sama mekdi mbalon".Kekehan Brian terdengar meledek.
" Sialan loe".Jery mendorong pelan tubuh Brian hingga Brian terpojok kearah dinding lift.
Jery memang terlihat cuek. Tapi ia juga berusaha mengingat apa yang ia lakukan saat Brian keluar ruangan semalam. Tapi sayangnya ia tidak ingat apapun. Hanya ada wajah Manda yang melekat dalam pikiran nya saat ini.
🌿🌿🌿🌿🌿
Setelah sarapan bersama Brian. Di sebuah cafe di depan Apartemen mewah milik Brian. Jery pun langsung pamit pulang pada sahabat nya itu. Evi juga sudah stay di depan Cafe. Menunggu kedatangan bos nya.
" Siap... ".Brian mengacungkan jempolnya. " Hati hati di jalan men!!! ".Serunya setelah Jery masuk kedalam mobil bersama Evi.
Jery pun hanya mengangkat tangan nya di atas. Setelah itu Evi langsung tancap gas meninggalkan cafe dimana Brian masih berdiri di depan cafe tersebut.
" Kita pulang dulu kerumah sebentar!!! ".
"Baik tuan".
Jery pun kembali menyenderkan kepalanya di jok mobil. Evi hanya melirik sekilas tapi tak berniat untuk memulai pembicaraan. Sebenarnya Evi juga tidak tega melihat Jery begini. Namun, ia tidak bisa berbuat lebih.
" Tuan, maaf sebelumnya kalau saya sudah lancang".Ucap Evi yang mulai memberanikan diri untuk berbicara pada Jery.
"Ada apa Evi??? ".Jery mulai membuka matanya dan melirik sekilas pada asisten pribadinya itu.
" Saya sudah memindahkan kembali nona Karin ke cabang perusahaan sebelum nya tuan. Maaf saya tidak meminta persetujuan dari tuan terlebih dahulu".Evi sudah pasrah jika sampai Jery marah padanya. Karena yang ia lakukan adalah yang menurutnya baik untuk kenyamanan Jery di perusahaan.
"Tidak perlu minta maaf. Saya percaya padamu Evi. Dan itu lebih baik".Jawab Jery santai.
Ia memang berniat memindahkan kembali Karin ke cabang perusahaan nya. Tapi, karena begitu banyak masalah di dalam rumah tangganya. Membuat Jery lupa untuk mengatakan nya pada Evi sang asisten nya.
Jery juga tidak mau kalau sampai Karin terus salah paham dengan semua kebaikan nya selama ini. Hal itu Jery lakukan karena ia sudah menganggap Karin sebagai adiknya sendiri. Jika dulu ia sempat memiliki perasaan yang sama dengan Karin. Itu mungkin hanya sekedar rasa sementara saja. Karena Jery merasa kagum akan kerja keras Karin.
Tapi semuanya juga sudah usai . Bukan sekedar karena rasa tanggung jawabnya pada Manda saja. Namun, rasa cintanya pada istri nya yang perlahan mengubah semuanya.
Harapan Jery saat ini adalah Manda mau berubah pikiran. Dan kembali padanya, mengurus Mayra bersama dengan nya. Melupakan semua masalah yang pernah terjadi. Karena Jery tetap tidak mau kehilangannya. Dan apalagi sampai mengorbankan kabahagiaan Mayra.