Married Accident

Married Accident
Mengerjakan Tugas Sekolah



Kediaman Jery....


Mayra saat ini tengah menikmati makan siangnya, di meja makan juga tak hanya dirinya sendiri. Ada Bunda Velyn dan juga Marvin. Evi masih berada di luar kota bersama Papa Jery. Jadi, Marvin untuk sementara waktu akan tinggal di rumah Jery . Sebab, Velyn juga tak keberatan jika harus mengurus tiga anak sekaligus.


Semua tampak fokus pada makanan masing masing. Hingga Marvin mulai meletakkan sendok dan garpunya keatas piring nya yang telah kosong.


" Gak mau tambah Vin? ".Tanya Velyn sambil tersenyum.


" Tidak Bun, Marvin sudah kenyang ". Jawabnya sopan. Ia pun langsung pamit duluan untuk kekamarnya. Karena memang ada tugas dari sekolah.


Mayra tetap saja diam tanpa ingin menoleh sedikitpun. Hal itu membuat Velyn menggeleng kan kepalanya saja. Mayra malah jadi jutek dan cuek. Padahal jika bersama Celine Mayra akan sangat cerewet sekali. Begitu juga ketika bersama dengan sepupunya yang lainnya.


" Mayra sudah selesai Bun. Mayra juga mau kekamar, masih banyak PR yang harus Mayra kerjakan ". Pamit Mayra pada Bundanya. Velyn pun mengangguk kan kepalanya saja sembari tersenyum.


Velyn menatap punggung Mayra yang telah hilang di balik tembok. Lalu senyum Velyn kembali terbit. Ia merasa gemas sendiri akan sikap keduanya. Sama sama cuek dan dingin. Seakan keegoisan masing masing lah yang saling dominan. Hingga sampai saat ini belum ada obrolan apapun antara Marvin dan juga Mayra.


Mayra menghentikan langkahnya saat ingin naik ke lantai atas. Dimana ia malah melihat Marvin sedang mengajak Marchel bermain. Padahal tadi Marvin bilang ingin mengerjakan tugasnya juga.


Marvin menoleh saat merasa ada orang yang sedang mengawasi nya dan Marchel. " Kita belajar bersama saja!. Bukankah kau juga belum begitu paham tadi di kelas dengan tugasnya? ".Ucap Marvin sedikit pelan. Namun, nada bicaranya tidak begitu dingin lagi.


Mayra sampai melotot tidak percaya jika seorang Marvin bisa bersikap lembut seperti ini. Dengan sedikit berpikir akhirnya Mayra pun mengangguk kan kepalanya. Karena memang ia butuh teman untuk mengerjakan tugas sekolah mereka hari ini.


" Baiklah, aku ambil buku dulu di atas". Jawab Mayra yang di jawab anggukan kepala oleh Marvin.


Melihat Mayra yang sudah menaiki anak tangga Marvin pun menarik sudut bibirnya. Ia bukannya sombong ataupun apa. Yang Marvin tahu sebagai seorang laki laki yang nantinya akan dewasa jika Allah memberikan umur panjang untuknya. Marvin hanya ingin menjaga jarak dan tidak mau berdosa karena mendekati zina. Sebab, yang namanya Zina itu tak harus selalu berhubungan badan. Tapi, Dari mata, telinga atau sentuhan kecil lainnya.


Velyn melihat Mayra dan Marvin sedang mencari belalang dan kupu kupu bahkan sampai cacing tanah juga di taman belakang. Sepertinya hal itulah yang membuat Mayra menyetujui untuk mengerjakan tugasnya sama sama.


Karena Velyn tahu jika Mayra sangat geli dengan cacing tanah. Makanya ia setuju dengan ajakan Marvin tadi.


" Coba saja kalau akurnya tiap hari begitu? Pasti lebih nyaman nantinya". Guman Velyn tersenyum akan tingkah kedua bocah itu.


Sesekali Mayra tertawa karena Melihat wajah Marvin yang terkena cipratan tanah . Hingga cemong, dan mengundang gelak tawa Mayra. Bahkan Marvin sempat diam dengan menatap Mayra. Namun, itu hanya beberapa detik, Karena Marvin sadar itu tidak benar.


" Bagaimana?. Dapat gak cacingnya? ".Tanya Velyn yang kini sudah berdiri tepat di belakang kedua anak itu. Velyn juga sembari menggendong baby Marchel yang ikut menatap kedua kakaknya.


" Belum Bun, mungkin sebentar lagi". Jawab Mayra sembari terus memperhatikan tanah yang mulai di gali oleh Marvin menggunakan kayu ranting sedang.


Mayra langsung berdiri saat Marvin mulai menarik cacing tanah yang ukuran nya sedikit besar. Membuat Mayra geli dan jijik akan hal itu.


" Iyuuuu... Langsung masukkan saja ke dalam toplesnya vin!!". Serunya sambil terus memasang wajah takutnya.


" Sayang, cacingnya tidak akan gigit kok".Velyn ikut terkekeh akan ekspresi wajah Mayra saat ini.


" Tapi, itu sangat menjijikkan Bunda".


Marvin mengulum senyumnya saja. Tak menyangka jika anak seperti Mayra malah takut dengan cacing tanah.


TBC