
Brakkk...
" Aawww... ". Pekik Calista saat tubuhnya jatuh kelantai
" Sayang... ". Rupanya Barra masih ada di balik pintu kamarnya. Dan ia langsung masuk kembali kedalam kamar. Saat mendengar suara istrinya.
" Aduh sakit... Hiks... Hiks... " . Calista terus memegangi perutnya membuat Barra makin panik setengah mati.
Barra menghampiri istrinya dan langsung bertanya " Kenapa??. Apa kalian terluka?. Dimana yang sakit? ".Tanya Barra dengan rasa panik yang mendalam.
Calista menyipitkan matanya. Untuk melirik suaminya. " Disini!!! ". Tunjuk Calista pada dada sebelah kanan nya. Saking panik nya Barra malah jadi orang bodoh. Ia pun memegang dada Istrinya begitu saja.
" Coba lihat bagian dalamnya!!! ".Ujar Calista dengan jahilnya. Dan lagi lagi Barra malah langsung membuka kancing kemeja istrinya. Dan mulai meraba bagian yang ditunjuk Calista.
Barra benar benar konyol saat sedang panik melihat istrinya jatuh. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Sampai sampai otak cerdasnya tak ia pakai saat ini. Hal itu justru membuat Calista semakin jahil saja.
Padahal ia jatuh menimpa selimut tebal jadi tak membuat dirinya celaka. Ataupun merasakan sakit sedikit pun. Bodohnya Barra malah langsung mengikuti kejahilan istrinya.
" Akh... Aku ingin lebih sayang!!! ". Bisik Calista membuat Barra langsung menatapnya tajam. Suara sensual Calista benar benar membuat otaknya konslet.
" Kau mengerjai ku??? ". Barra berucap dengan suara beratnya. Karena ia sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
Calista tersenyum menggoda dan malah membuka semua kancing kemeja dengan paksa. Hingga merusak nya sendiri. Kini bukit padat nan berisi itu sudah terlihat terbelah dengan jelas. Hanya di bungkus dengan busa sedikit tebal.
" Yakin mau menolaknya??? ". Tanya Calista dengan wajah menggodanya.
" Kau benar benar menguji kesabaran ku sayang". Barra pun langsung menyambar bibir Calista menyesapnya tanpa ampun lagi. Karena bibir itu mampu membuat hasratnya turun naik.
Tangan Calista pun tak mau diam. Ia sibuk membuka semua kancing kemeja suaminya. Meraba bagian dada bidang nan berotot itu. Membuat Barra semakin terbakar api gairah.
Barra memindahkan tubuh Calista ke atas ranjang. Sambil terus menyesap bibir nya rakus. Tangan Barra mulai menjalar kemana mana. Hingga kini bertengger nyaman di bagian favorit nya.
" Euummmm... " .
" Shittt... " . Upat Barra kesal karena ia pun lupa akan hal itu. Barra segera bangkit dari atas tubuh istrinya dengan penampilan yang sudah acak acakan.
Sepeninggal Barra untuk mengunci pintu kamarnya. Calista malah langsung melucuti semua benang yang ada di tubuhnya. Kini ia mulai kembali berulah. Calista tidur dengan setengah duduk di atas ranjang. Dengan posisi yang begitu menggoda. Hingga ketika Barra menoleh ia tampak sulit menelan salivanya sendiri.
Bagaimana tidak Calista malah tampak seperti wanita penggoda yang saat ini malah memainkan pucuk bukitnya sendiri. Wajah Calista tampak begitu seksi dengan ekpresi seperti itu. Tak mau menyia nyiakan kesempatan. Barra langsung menanggalkan semua pakaian nya. Dan kini langsung menghampiri istrinya yang sangat laknat itu.
" Kau benar benar ingin di siksa rupanya". Seringai licik Barra mulai terbit membuat Calista malah semakin girang saja.
Ia membuka kakinya lebar lebar. Hingga Barra dengan mudahnya mulai melancarkan aksi gilanya.
" Oohhh... Barra... "
Suara manja nan seksi mulai Calista lontarkan seraya menikmati bagaimana sentuhan benda tak bertulang yang membuat basah kerang dara nya dibawah sana.
Tangan Calista terus menjambak rambut Barra. Ketika lidah Barra semakin membasahi si kerang dibawah sana.
" Oh good... Yess... "
Racau Calista sambil terus melentik bak busur panah. Saat Barra semakin membuatnya tak berdaya.
" Stop....!!! ". Pekik Calista ketika Barra malah semakin memperdalam penelusuran nya.
" Tak semudah itu sayang". Jawab Barra menyeringai licik dan malah semakin menggila.
" Ohh... No... No ".
Calista terus menjerit nikmat ketika ia benar benar tak bisa menahan nya lebih lama lagi. Membuat Barra baru menyudahi aksinya itu.
" Bagaimana? Apa kau ingin menyerah??? ". Tanya Barra dengan sengaja dan senyum dibibirnya.
" Tak semudah itu sayang". Jawab Calista mengulang kalimat yang tadi sempat di ucapkan oleh Barra untuknya.