Married Accident

Married Accident
Ungkapan Cinta



Barra menatap wajah cantik wanita yang telah ia nikahi beberapa bulan lalu. Kini wanita itu pun sudah mengandung benihnya yang selalu ia tebar setiap harinya. Barra hanya bisa menatap dalam seperti ini ketika Calista sedang tertidur pulas. Gengsinya sangat tinggi sekali. Sehingga baginya bertindak lebih nyata itu adalah hal yang penting. Ketimbang harus membual tanpa tindakan sama sekali.


Jangankan untuk mengungkapkan kata Cinta. Menatap saja jika Calista sedang sadar Barra pun tak pernah lama. Ia hanya melirik dan mencuri pandang saja. Sungguh pria yang kaku dan sangat arrogant tentunya. Masa lalu mungkin yang juga membuatnya seperti ini. Terlalu mencintai wanita baginya hanya sebagai petaka untuk kehidupan nya.


Mungkin Calista memang berbeda dari masa lalunya. Namun, bagi Barra hal yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah bertindak dan juga menjaga haknya. Selebihnya ia tidak akan pernah mengulang kesalahan masa lalunya. Yang begitu mengungkapkan Cinta dengan sepenuh hati. Namun, pada akhirnya ia dikhianati dan dijatuhkan serendah rendahnya.


Jam di dinding menunjukkan pukul 12 malam. Namun, Barra masih enggan untuk memejamkan matanya. Sedangkan Calista sudah terlelap sejak tiga jam yang lalu. Ketika Barra masih berada di dalam ruangan kerjanya. Bahkan, Calista sampai tertidur di kamar Celine. Membuat Barra harus menggendong tubuh Calista dengan bobot tubuh di atas rata rata. Sebab, Calista saat ini tengah hamil baby twin's yang usianya sudah empat bulan.


" I love you". Ucap Barra lirih bahkan nyaris tak terdengar sama sekali. Ungkapan Cinta itu akhirnya keluar juga. Meskipun istrinya sedang berlari ke alam mimpi.


Bahkan saat ini Barra sedang tersenyum sendiri. Dia meledek dirinya sendiri yang barusan mengungkapkan kata Cinta dengan orang yang sedang tidur pulas. Konyol memang, bahkan sangat konyol. Barra terlihat seperti pria yang tidak gentleman sama sekali. Tapi, mau bagaimana lagi itulah Bara.


" Twins kalian tahu?. Jika Papi saat ini bagaikan orang bodoh". Lirih Bara lagi sembari mengusap perut buncit Calista karena posisi Calista sedang tidur miring kearahnya.


Cup...


Satu kecupan Bara daratkan pada bibir tipis Calista. Yang sebenarnya sudah menggodanya sejak tadi. Namun, Bara harus bisa menahan nya sebab sejak perut Calista semakin membuncit. Bara jadi tidak tega untuk membuat istrinya lelah. Dan setelah mengecup bibir sang istri. Bara pun memilih untuk memejamkan matanya. Berharap bisa ikut menyusul ke alam mimpi istrinya juga.


🌿🌿🌿🌿🌿


" Pi... Papi, Bangun!!! ".


Celine mengguncang bahu Bara karena hampir lima menit ia membangunkan Papinya. Namun, Bara malah hanya berbalik badan dan menggeliat saja tanpa berniat ingin membuka matanya.


" Papi... Bangun!. Nanti Mami marah loh. Ini udah waktunya sarapan pi. Buruan!! ".


Celine masih saja berusaha membangunkan sang Papi. Tapi lagi lagi Bara hanya berdehem ria. Rasa kantuknya masih saja menempel. Karena semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan matanya. Dan Bara baru bisa tidur saat akan pajar tiba.


" Ya Ampun. Daritadi Papi belum bangun juga?? ". Calista yang baru masuk kedalam kamar membuat Celine hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


" Papi gak mau bangun Mi. Mungkin Papi gak ngantor hari ini". Ucap Celine asal yang berhasil membuat Calista menghela nafasnya.


" Oke Mami, I love you".


" Love you too sayang". Calista tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Celine pelan. Sebelum Celine beranjak dari tempat tidur kedua orang tuanya.


" Oke sekarang tinggal bangunin bayi gede dulu ". Guman Calista setelah Celine keluar dari kamarnya.


Calista pun mulai naik ke atas ranjang. Dan malah mendudukkan diri tepat di atas perut suaminya setelah ia berhasil membalikkan tubuh Barra. Sehingga Barra langsung tertidur terlentang.


" Ouw Shitt... ". Upat Barra saat perutnya terasa sesak akan bobot tubuh Calista yang menggembol dua bayi di dalam perut nya.


" Sayang, kau bisa membuatku mati jika begitu caramu membangunkan suamimu". Seru Bara yang malah membuat Calista berbinar dan langsung tertawa lantang.


" Oh astaga, Aku sedang tidak bermimpi bukan??? ". Calista tak kalah serunya dari Bara. Membuat Bara menautkan kedua alisnya bingung.


" Ya Tuhan, Apa suamiku sedang bermasalah?. Atau kau sedang sakit? ". Ucap Calista sambil tertawa.


" Kau barusan memanggil ku dengan sebutan apa?. Sayang...? ". Lagi lagi Calista tampak senang bukan kepalang. Hal itu baru membuat Bara sadar jika ia barusan keceplosan.


" Sudah sana turun!!. Kau itu berat ". Ketus Bara menahan rasa malunya sendiri.


" Panggil aku sayang lagi!!. Biar aku mau turun". Bumil itu malah meminta penawaran pada gunung es yang susah cair.


" Kau pikir ini bisnis? .Tidak ada tawar menawar! ".Bara yang sudah sadar akan kembali dengan sikap datar dan ketusnya itu lagi. Hingga Calista pun hanya mencebik kesal dan akhirnya memilih untuk turun dari atas tubuh suaminya.


Sedangkan Bara pun ikut menyibak selimut dan langsung beranjak atas ranjang. Namun, sebelum ia masuk kedalam kamar mandi. Bara sempat menoleh kearah istrinya yang masih saja cemberut sembari merapikan tempat tidur.


" I love you ". Ucap Bara tiba tiba hingga mampu membuat Calista melotot sempurna akan kalimat itu. Sebuah kalimat singkat namun sangat bermakna bagi seorang Calista.