
Selepas makan malam, Nyonya Sandrina merasa tersingkir dari keluarga, perempuan itu bergegas meninggalkan ruang makan. Tidak lama kemudian, perempuan itu masuk ke kamar dan berusaha mencari-cari tas kresek berwarna putih, yang diperolehnya dari paranormal yang didatanginya bersama dengan Jennifer. Perempuan itu mengobrak-abrik meja riasnya, namun tidak juga menemukan barang yang sedang dicarinya.
"Dimana peralatan itu, aku harus segera mencobanya, dan akan aku lihat bagaimana Andreas Jonathan akan meninggalkan gadis itu, dan aka bertekuk lutut di kakiku." sambil bergumam perempuan itu berusaha mencari tas kresek berwarna putih. Namun sampai berkali-kali, Nyonya Sandrina membuka dan menutup setiap draw yang ada di meja riasnya, barang itu tetap tidak dapat ditemukannya.
"Hmm.. kemanakah barang itu, aku merasa menyimpannya di meja rias ini. Tidak mungkin papa mengambilnya, karena papa tidak pernah duduk ataupun berdiri di meja rias ini.." kembali Nyonya Sandrina bertanya pada dirinya sendiri.
"Atau tanpa sadar aku membuangnya di tempat sampah ya..?" menyadari apa yang dipikirkannya, perempuan itu bergegas menuju tempat sampah di dekat pintu masuk kamar. Jangankan memegangnya, biasanya perempuan itu melihatnya saja sudah merasa jijik, tapi karena kepentingan untuk menemukan benda keramat itu, perempuan itu tetap mengobrak-abrik isi di dalamnya. Namun belum juga diketemukannya..
"Siapakah yang mengambil atau menyingkirkannya, sepertinya sejak aku datang, tidur, kemudian makan malam, belum ada ART yang masuk ke dalam kamar. Kenapa barang-barang itu tiba-tiba saja menghilang.. apakah papa yang mengambilnya. Jika benar papa, bagaimana aku menanyakan ada dimana barang itu, dan kalau papa bertanya, untuk apa barang itu. Waduh... mati aku.." Nyonya Sandrina membayangkan jika suaminya sampai tahu, jika dia sudah datang ke paranormal untuk mengembalikan putranya kepadanya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan terlihat Tuan besar Wijaya berhenti menatap istrinya yang berjongkok di balik pintu. Dengan dahi berkerenyit, laki-laki itu memperhatikan sebentar, tetapi tidak lama kemudian, tuan Wijaya berlalu dan langsung duduk di sofa untuk mengecek kerjaan dari gadgetnya. Melihat keberadaan suaminya, Nyonya Sandrina tidak berani untuk meneruskan pencarian, perempuan itu berjalan ke wastafel untuk membersihkan tangan. Dia berniat untuk melanjutkan pecarian di waktu lain, ketika suaminya tidak ada di rumah.
*********
Tengah malam terdengar keributan di ruang tengah, Andreas Jonathan yang belum tidur karena habis menengok putranya di kamar, bergegas untuk beranjak keluar melihat keadaan di ruang tengah.
"Mau kemana kak.. malam-malam begini..?" rupanya Cassandra belum tertidur, perempuan itu menanyakan kepergian suaminya.
"Ke ruang tengah honey.. dari tadi aku mendengar ada yang heboh di ruang tengah, aku akan melihatnya sebentar." Andreas Jonathan sudah akan menuju ke arah pintu.
"Sandra ikut kak.. siapa tahu ada sesuatu yang penting, Sandra takut terlewatkan.." gadis itu segera beranjak dari atas ranjang, kemudian mengikuti suaminya berjalan keluar ruangan. Sesampainya di ruang tengah, pasangan suami istri itu terkejut melihat tuan Wijaya tampak kesakitan, sambil menyeka perutnya.
"Papa... what happend..?" dengan panik, Cassandra berlari menghampiri papa mertuanya. Andreas Jonathan mengikuti di belakangnya.
"Tidak tahu Sandr,. Andre.. perut papa sakit sekali sejak tadi. Sudah beberapa kali papa ke kamar mandi, dan sudah minta ART untuk buatkan obat, tapi perut papa masih terus sakit melilit." jawab tuan besar Wijaya sambil meringis.
Cassandra tanpa merasa sungkan, segera mendekati papa mertuanya. Gadis itu mengangkat punggung tangan, dan meletakkan di dahi Tuan besar Wijaya.
"Kak Andre.. kita harus segera ke rumah sakit kak, papa dahinya panas banget. Kita ke rumah sakit sekarang kak... Sandra takit jika papa nanti mengalami dehidrasi.." celetuk Cassandra terlihat panik.
"Tapi Sandra mau ikut kak.., Sandra merasa khawatir pada papa.." Cassandra berusaha meminta ijin sama suaminya untuk diijinkan ke rumah sakit.
"Nanti ALtezza gimana sayang, sabarlah sebentar. Nanti jika papa harus opname di rumah sakit, aku akan usahakan untuk menambah kamar di rumah sakit, sehingga honey dan ALtezz bisa join di rumah sakit sekarang. Untuk kali ini, biar aku sendiri yang membawa papa dengan para pengawal." Andreas Jonathan menenangkan istrinya.
Tidak tega melihat papa mertuanya yang tampak menahan sakit, dengan mengusap-usap perutnya, akhirnya Cassandra menyetujui usul yang disampaikan suaminya. Perempuan muda itu segera memegangi papa mertuanya, kemudian menuntunnya ke teras rumah. Sesampainya di teras, terlihat pengawal sudah menyalakan mobil, dan tidak lama kemudian tuan Wijaya dipapah Andreas dan pengawal masuk ke dalam mobil.
"Jaga Altezz sayang.. aku berangkat dulu menemani papa.." Andreas Jonathan memberikan kecupan di kening istrinya, kemudian segera masuk ke dalam mobil. Cassandra melihat suaminya sampai mobil yang membawanya keluar dari dalam halaman mansion,
Dengan panik, dan mengucap doa dalam hati, Cassandra masuk ke dalam rumah. Untungnya masih ada dua ART yang belum tidur, dan masih duduk di ruang tengah.
"Yati.. Siti.. apa yang tadi dikonsumsi oleh papa, apakah menu papa tadi sore berbeda dengan yang kita makan. Aku curiga, jangan-jangan ada yang salah dengan makanan yang dikonsumsi papa.." Cassandra yang biasanya diam dan berlaku sopan pada para ART, baru kali ini berbicara dengan sedikit nada keras.
Kedua ART itu kaget dengan perubahan sikap gadis muda itu, baru kali ini mereka nona muda mereka bicara dengan sedikit keras. Namun kedua ART itu meyakini, jika nona muda Cassandra tidak bermaksud bersikap kasar kepada mereka. Hal itu dilakukan, karena kepanikan gadis muda itu melihat kondisi yang dialami mertuanya.
"Sama nona muda.. kami hanya masak sekali, dan setahu kami tidak ada makanan lain yang dikonsumsi oleh tuan besar. Semuanya sama nona.. hanya saja tadi sekitar jam 21.30, tuan besar meminta kami untuk menyeduhkan wedang uwuh. Sebenarnya kami agak curiga, karena biasanya wedang uwuh itu berbau rempah-rempah, tetapi kenapa wedang uwuh kali ini berbau harum.." akhirnya Yati memberi tahu apa yang terjadi.
"Maksud kalian..?" Cassandra lebih menegaskan,
"Iya nona muda, saya sendiri yang menjadi saksi ketika tuan besar menyerahkan tas kresek berwarna putih kepada Yati, minta untuk diseduhkan wedang uwuh." Siti ikut membela Yati.
"Dimanakah sekarang ramuan wedang uwuhnya, apakah masih ada. Jika masih.., bawa barang-barang itu ke kamarku segera.." dengan nada tinggi, Cassandra meminta kedua ART itu mengambilkan ramuan wedang uwuh yang diseduh untuk Tuan besar Wijaya.
"Baik nona muda.. kami akan mengambilnya sisanya di pantry.." yati dan Siti bergegas meninggalkan ruang tengah.
Cassandra menatap punggung kedua gadis itu, kemudian meninggalkan mereka untuk menunggu keduanya di dalam kamar.
***********