
Merasa tidak mungkin untuk menuju rumah keluarga mamanya, akhirnya Cassandra mengikuti Raditya yang menginap di Ambarukmo Palace hotel. Untungnya, Raditya ambil satu kamar sendiri dengan pesan secara online, tetapi ternyata Rommy sudah memesan juga. Agar satu kamar tidak mubadzir, akhirnya Cassandra menempati satu kamar kosong yang dipesan atas nama Raditya.
“Sandra.. masih mau ngobrol dulu, atau mau langsung istirahat. Sekarang sudah jam 21.00 lebih nih.” Sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, Raditya bertanya pada gadis muda itu.
“Kamu sendiri bagaimana Dity.., kalau aku sih.. jujur saja pingin segera berbaring dan memeluk bantal. Sejak pagi aku berada di kantor Dity.., dan langsung cabut ke bandara Ketika jam kerja usai.” Sambil tersenyum, Cassandra menanggapi perkataan Raditya.
“Ha.. ha.. ha.., benar nih, sama. Aku juga pingin segera istirahat saja, besok pagi saja kita ketemu di restaurant ya, kita breakfast bareng sambil ngobrol tentang banyak hal.” Rupanya Raditya juga menginginkan istirahat.
“Okay.. kita pisah disini ya Dit.., kamarku disini soalnya.” Karena sudah sampai di depan pintu kamar hotel, akhirnya Cassandra berpamitan untuk masuk ke dalam.
Raditya melambaikan tangannya, dan laki-laki itu melangkah ke depan. Ternyata Raditya mendapatkan kamar di samping kamar tempat istirahat Cassandra.
*******
Setelah memasuki kamar, dengan malas Cassandra membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran king size bed. Ketika gadis itu akan memejamkan matanya, tiba-tiba Cassandra teringat jika belum mandi sore. Akhirnya dengan malas gadis itu melangkah ke kamar mandi, dan menyiapkan air hangat untuk berendam.
“Mmm.. ternyata beda hotel berbintang itu ada di fasilitasnya ya. Ada aroma theraphy juga.. hmm.. lemon grass..” Cassandra tersenyum melihat botol kecil aroma theraphy dengan brang Young Living ada di bawah cermin yang ada di dalam bath room.
Cassandra segera memasang penahan air, dan mulai menyalakan kran untuk mengalirkan hangat ke dalam bath up. Setelah mengukur tingkat kepanasan, gadis itu meneteskan essential oil aroma theraphy sebanyak tiga tetes. Beberapa saat, Cassandra memasukkan telapak tangan ke dalam air, kemudian mengambil air dengan menggunakan telapak tangan dan menciumnya beberapa kali.
“Aakh.. lumayan menyegarkan.” Setelah merasakan aroma lemon grass tercium di air yang ada di dalam bath up, Cassandra segera melepaskan bajunya kemudian masuk ke dalam bath up untuk berendam.
Beberapa saat, gadis muda itu merasakan rasa rileks Ketika berendam dengan air hangat. Sambil menikmati aroma lemon grass, Cassandra menyandarkan kepalanya di atas pinggiran marmer bath up, kemudian memejamkan matanya sebentar. Betul-betul Cassandra merasakan healing, dengan berendam air hangat beraromakan essential oil.
“Kring.. kring.. “ aktivitas menyegarkan diri Cassandra terganggu, dering telpon terdengar sampai di tempatnya berendam.
Gadis itu tersentak, kemudian segera menyelesaikan ritual mandinya. Beberapa saat kemudian, dengan menggunakan towel bathroom berbentuk kimono, tanpa mengenakan pakaian di dalamnya, Cassandra keluar dari kamar mandi. Karena hanya berada sendirian di kamar, Cassandra merasa aman dengan pakaian yang dikenakannya. Berpikir, jika pagi hari harus sudah meninggalkan hotel, Cassandra malas harus membuat pakaiannya kotor.
Di depan cermin, gadis itu menyisir rambut, dan mengoleskan toner dan cream malam untuk menjaga agar kulit wajahnya tidak kering. Beberapa saat, gadis muda itu mengambil ponsel yang diletakkan di meja kecil samping kiri
king size bed. Melihat screen ponsel, kening Cassandra berkerut melihat nama wakil CEO Alexander yang melakukan panggilan kepadanya.
“Tuan Alex.. untuk apa tuan Alex malam-malam telpon aku. Apalagi besok kan hari libur, masak Sabtu dan Minggu masih mengkaryakanku.” Cassandra berpikir sendiri, dan sekilas muncul rasa sebal, karena Wakil CEO mengganggu istirahat di hari liburnya.
Tanpa ada yang menyuruh, Cassandra mengambil ponsel kemudian melakukan panggilan balik ke Alexander. Satu kali panggilan, tidak terdengar ada nada menerima. Gadis itu mengulanginya lagi beberapa kali, dan beberapa saat kemudian baru terdengar panggilannya diterima.
“Hai Sandra.. barusan aku menelponmu. Kamu sedang di Jogja ya, kenapa tidak bilang-bilang pada kami. Jika kami tahu, kamu pulang ke Jogja, kan kami bisa sekalian ke kota itu bareng kamu.” Terdengar suara Alexander di seberang telpon.
Dahi Cassandra mengerenyit, dari mana tuan Alex bisa mengetahui kepergiannya ke kota ini. Tidak mungkin Rahman akan memberi tahukan pada laki-laki itu.
“Kenapa kamu malah melamun Sandra.. tidak perlu mencari tahu siapa yang membocorkan. Tadi barusan temanku bertanya, mengirimkan foto kalian yang sedang menikmati dinsum di bandara. Dia bertanya, apakah aku mengenalmu, karena temanku Raditya katanya saat ini sedang bersamamu.” Ternyata Raditya yang memberi tahu Alexander keberadaannya di kota ini.
“Radit.. ternyata tuan Alex juga kenal dengan teman Sandra
ya.. Tadi anak itu tidak bicara apa-apa tentang tuan Alex.” Cassandra
menyebutkan nama Raditya.
“Ha.. ha.. ha.., Raditya itu putra teman Tuan Besar Salim. Beberapa kali, aku dan tuan muda bernegosiasi dengan papanya, dan syukurlah perusahaan papanya Raditya sudah menjadi salah satu user dari produk PT. Indotrex. Tbk. Tanpa sengaja, Radit mengirimkan foto kalian, bertanya kenal tidak dengan temannya yang bekerja di perusahaan kita. Ha.. ha.. ha.. ternyata kamu Cassandra.” Alexander menceritakan awal mula, bisa mendapatkan fotonya dan Raditya.
“Iya tuan Alex.. kebetulan Raditya teman satu event Ketika kami masih kuliah di UGM. Kebetulan beberapa kali, kami sempat berkongsi bareng tuan..” gadis itu menanggapi perkataan Alexander.
“Baguslah kalian berdua sudah akrab, tadi juga aku katakan jika kamu adalah sekretaris eksekutif tuan muda Andreas Jonathan. Untuk jaga-jaga saja, agar anak muda itu tidak membajakmu untuk pindah ke perusahaannya. Karena aku yakin, dengan Raditya pernah bekerja bareng denganmu dalam satu event, pasti dong dia tahu bagaimana track recordmu..” Alexander melanjutkan kata-katanya.
“Wah tuan Alex.. terlalu melebihkan Cassandra saja. By the way.. posisi lagi dimana ini tuan Alex. Sepertinya Cassandra mendengar ada suara music hingar binger sebagai back sound” mendengar suara music yang cenderung bising, Cassandra mencoba menebak-nebak.
“Ketahuan deh kita tuan muda.. Kemana lagi Sandra.. bagi bujangan kayak kita selain mencari hiburan untuk meregangkan urat syarat. Biasalah.. kita saat ini ada di Musk Bar, katanya tuan muda lagi malas untuk pulang ke rumah. Malas ribut dengan Nyonya Besar Sandrina..” Alexander mengatakan keberadaannya dengan Andreas Jonathan saat ini.
Merasa bukan urusannya, Cassandra juga tidak berusaha untuk mencari tahu banyak informasi. Tetapi malah memunculkan ide untuk mengakhiri panggilan itu.
“Ya sudah tuan Alex.. dilanjutkan saja acaranya ya. Salam untuk tuan muda..” Cassandra segera berinisiatif untuk mengakhiri panggilan, karena matanya sudah sangat mengantuk.
Begitu Alexander menutup telpon, Cassandra langsung memejamkan mata dan memeluk bantal sampai lupa menyelimuti tubuhnya sendiri.
***********