
Mata Jennifer menatap tajam pada Cassandra yang sedang berbincang akrab dengan tuan besar Wijaya. Gadis itu seperti tidak suka jika Cassandra dekat dengan keluarga Andreas Jonathan. Melihat gelagat buruk dari tatapan Jennifer, Alexander memegang bahu Cassandra, kemudian..
"Sandra.. apakah sudah dilihat lagi, apakah ada agenda siang ini yang harus ditanda tangani oleh tuan muda..?" untungnya Cassandra mengetahui maksud Alexander. Gadis itu merasa tahu diri, dan memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Sandra akan melakukan pengecekan lagi tuan Alex.. Sepertinya ada undangan yang harus dihadiri oleh tuan muda, karena yang mengundang adalah menteri BUMN, bapak Erick Thohir tuan Alex. Tapi saya akan memastikannya terlebih dahulu." sebelum Cassandra berjalan menuju ke kursinya, gadis itu menjawab pertanyaan Alexander.
Tuan besar Wijaya tersenyum memandang punggung Cassandra yang berjalan meninggalkannya. Tetapi tidak dengan Nyonya besar Sandrina dan Jennifer, dengan tatapan menghunus, kedua perempuan itu melihat ke arah Cassandra dengan pandangan tidak suka.
"Ayo pa.. kita segera kembali ke mansion, anak itu saat ini tidak bisa diajak untuk bicara. Membikin darah tinggiku naik saja, seenaknya dan tidak ada sopan-sopannya pada orang tua." mengungkapkan kekesalan hatinya, Nyonya besar Sandrina masih berbicara dengan nada tinggi.
"Mam.. apakah mama tidak malu, suara mama memenuhi ruang kerja ini. Kita ini berada di perusahaan mam, bukan berada di lapangan. Tahan dan kendalikan dirimu.." melihat sikap istrinya, Tuan besar Wijaya mengajaknya berbicara.
Tetapi tidak diduga, perempuan itu malah menarik tangan Jennifer, dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Dari belakang, tuan besar Wijaya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap keras kepala istrinya. Laki-laki itu kemudian mengangkat tangannya dan memegang pundak Alexander.
"Alex.. titip putraku ya, awasi tuan muda. Dan sepertinya sekretaris eksekutif yang baru itu boleh juga, dia sepertinya bisa mengendalikan putraku." Tuan besar Wijaya melihat ke arah Cassandra, dan mengetahui hal itu, Alexander tersenyum dan menganggukkan kepala.
Tuan besar Wijaya kemudian berjalan mengikuti dua perempuan di depannya. Sedangkan Alexander berbalik badan, dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Sesaat ruang kerja CEO kembali sepi, tidak terdengar lagi suara bising orang teriak-teriak.
*********
Di dalam mobil, Nyonya besar Sandrina masih melanjutkan kata-katanya. Tangan perempuan paruh baya itu terus menggenggam tangan Jennifer seakan tidak mau melepaskannya. Dan sebagai seorang artis, Jennifer terlihat berakting dengan menunjukkan wajah sedihnya,
"Tenang Jenni.., aku akan berusaha membantumu untuk memikat putraku Andreas Jonathan. Kita lihat, tidak akan butuh waktu lama, putraku pasti akan bertekuk lutut padamu. Percayalah padaku.." ucap Nyonya besar Sandrina.
"Hheh.." terdengar tuan besar Wijaya mengambil nafas panjang. Laki-laki itu sampai bingung bagaimana harus bersikap mengendalikan istrinya.
"Jenni cukup tahu diri tante.., sepertinya kak Andre memang sudah melepaskan Jenni, dan tidak tertarik lagi. Jenni akan mengalah saja tante, mencoba untuk melupakan dan merelakan kepergian kak Andre.." sambil berekspresi sedih, Jennifer mencoba untuk mengalah berusaha.
"Hush.. hentikan kata-katamu, kamu yang harus menjadi pendamping putraku. Sampai kapanpun tante tidak akan mengijinkan putraku Andreas Jonathan memiliki istri bukan dirimu. Tenanglah, tante sudah memiliki strategi untuk menundukkan putraku." Nyonya besar Sandrina terus mengambil hati Jennifer.
"Strategi apa lagi tante.. sepertinya semua cara sudah Jenni lakukan. Tapi memang kak Andre sudah berubah semuanya pada Jennie.." Jennifer menoleh ke arah Nyonya besar Sandrina.
Nyonya besar Sandrina tiba-tiba mendekatkan mulutnya ke telinga Jennifer, dan gadis itu terkejut dengan usulan ekstrim dari Nyonya besar Sandrina. Tetapi dalam hati, Jennifer merasa senang dan merasa sebentar lagi sudah akan memaksa Andreas Jonathan untuk menikahinya. Akhirnya senyuman mengakhiri bisik-bisik dua perempuan itu. Dari kursi depan, tuan besar Wijaya hanya geleng-geleng kepala melihat hal itu.
**********
"Tuan muda.. untuk undangan pak Menteri BUMN, apakah tuan muda bisa menghadiri sendiri, atau mau mewakilkan saja." memahami kondisi emosi tuan mudanya, Cassandra memberi pilihan pada Andreas Jonathan.
"Kirimkan manajer operasional saja Sandra, aku sepertinya tidak akan kemana-mana hari ini. Aku akan mengistirahatkan badanku di kamar." sambil menanda tangani berkas, Andreas Jonathan menjawab pertanyaan gadis itu.
"Baik tuan muda.., akan segera Sandra kondisikan agar semua bisa berjalan dengan baik." sahut Cassandra sambil merapikan berkas yang sudah ditanda tangani oleh laki-laki itu.
Andreas Jonathan tidak menjawab perkataan Cassandra, laki-laki itu malah mengalihkan diri dengan melanjutkan aktivitas yang lain. Cassandra juga terus keluar dari dalam ruang kerja tuan mudanya, gadis itu segera membawa berkas dan mendistribusikan kembali ke unit yang terkait.
Setelah berkas terdistribusi, Cassandra segera mengangkat gagang telpon, menyambungkan ke divisi operasional. Tidak lama kemudian, dari pihak yang ditelpon mengangkat sambungan itu.
"Iya Miss Sandra.. ada apa?" manajer operasional langsung bertanya kepentingan gadis itu melakukan panggilan kepadanya.
"Iya pak Robert.. diminta untuk mewakili tuan muda menghadiri undangan di Grha Bisnis Jakarta. Ada pertemuan dengan pak Erick Thohir, jadi pak Robert bisa mempersiapkan diri, apa yang perlu dibawa dan disiapkan. Kebetulan tuan muda dan tuan Alex ada agenda lain, jadi tidak bisa hadir pada acara tersebut," dengan lancar, Cassandra menyampaikan maksudnya.
"Siap Miss Sandra.. aku akan mengajak Andi untuk menemaniku kesana Miss. terima kasih pemberi tahuannya, dan kirimkan secara online saja undangannya ke nomor whattsapps ku." dengan cepat, pak Robert menyanggupi pelimpahan tugas itu,
Cassandra segera meletakkan kembali gagang telpon pada tempatnya. Gadis itu segera mengirimkan invitation letter yang dimaksud ke nomor ponsel Robert. Tidak mau menghabiskan waktu untuk melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat, Cassandra baru tersadar jika waktu sudah memasuki jam istirahat. Gadis itu teringat dengan bekal yang sudah disiapkan tadi pagi dari apartemen.
"Aku hampir lupa, padahal tuan muda yang tadi memintaku untuk menyiapkan makanan ini. Apakah tuan muda masih berkenan ya, atau aku tanyakan dulu. Jika berkenan, aku harus memanaskan dulu di microwave, agar makanan kembali hangat." Cassandra mengeluarkan food box yang sudah berisi makanan, dan cukup untuk dimakan bertiga.
Perlahan gadis itu berdiri, kemudian berjalan mendatangi ruang kerja Andreas Jonathan kembali. Tanpa mengetuk pintu, gadis itu mendorong pelan, dan terlihat tuan mudanya sedang mengangkat wajahnya ke atas, menatap gadis itu.
"Maaf tuan muda mengganggu waktunya. Ini sudah memasuki jam makan siang, tuan muda hendak makan di luar, atau Sandra pesankan makanan saja." gadis itu langsung bertanya langsung pada laki-laki itu, karena merasa sudah mendapatkan black card dari laki-laki itu.
"Untuk apa pesan, bukankah tadi pagi aku sudah memintamu untuk menyiapkan bekal. Itu saja, bawa kemari." Cassandra bergegas kembali ke luar ruangan untuk menyiapkan permintaad dari tuan mudanya.
**********