
Semua yang berada dalam ruangan itu melihat pada Alexander, yang sambil memeluk sisi bahu gadis muda itu satu tangannya diangkat ke atas. Melihat hal tersebut, Andreas Jonathan hanya bisa mengambil nafas dalam, bagaimanapun selama ini Alexander selalu menjadi garda depan, orang yang dipercaya dan menjadi tandem dari semua aktivitas laki-laki muda itu.
"Alex mohon... semua berhenti memojokkan Stevie, Alexander sebagai suami Stevie berjanji akan menanggung semua kesalahan, jika memang ada yang salah, atau disembunyikan oleh istri Alex. Kali ini, Stevie belum memiliki kebesaran hati untuk jujur pada kita, meskipun ALex juga belum tahu apa sebabnya. Apakah karena pressure dari orang-orang itu, ataukah karena alasan lain. Mohon beri hukuman pada Alex..." melihat sikap suaminya yang rela bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, Stevie merasa tertekan dan prihatin,
Gadis muda itu berinisiatif langsung memeluk suaminya, dan menciumi sebagian wajah dari Alexander. Sesaat, pasangan suami istri itu saling bertatapan, dan Alexander tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Maafkan Stevie kak, sudah membuat kak Alex menanggung semuanya. Jika semuanya sudah bisa Stevie atasi dari, Stevie akan jujur pada kak Alex..." ucap Stevie tertekan.
Andreas Jonathan dengan wajah memerah menahan marah akan bicara, tetapi untungnya Cassandra tanggap apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Perempuan muda itu memegang salah satu lengan bagian atas suaminya, dan Andreas Jonathan menoleh pada perempuan muda itu,
"Kak Andre.. kendalikan diri kak Andre.. Berikan kesempatan pada Kak Alex, untuk bisa memahami istrinya, mereka butuh waktu kak... Suatu saat kita akan tahu, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Stevie, kita hanya menunggu saja.." dengan suara lirih, Cassandra berusaha mempengaruhi suaminya,
"Tapi.. sampai kapan itu honey.., apakah keburu melihat hal sial atau celaka menimpa keluarga kita, baru anak itu bicara dan memberi tahu pada kita.." Andreas Jonathan masih bersuara dengan nada agak tinggi. Semua yang duduk di ruang tengah, melihat ke arah mereka berdua. Tetapi sepertinya Andreas Jonathan tidak mempedulikannya, karena bagi laki-laki itu, keamanan dan keselamatan keluarganya menjadi tanggung jawab besarnya. Sehingga sedikit apapun muncul peluang yang bisa membahayakan, anak muda itu bertekad untuk menutup peluang tersebut.
"Kakak... istighfar kak.., jangan suka over thinking.. Ingat kak, ada the law of attraction, apa yang kita pikirkan, bisa menarik semuanya, dan malah akan terjadi. Jadi.. usahakan untuk selalu berpikir positif dan mengambil hikmah dari semua kejadian kak... Kita tidak boleh egois, harus bisa menerimanya. Kita ini berserah kak, bukan pasrah.." Cassandra terus menasehati suaminya, Mendengar istrinya yang terus berbicara, dan semua dilakukan untuk keutuhan keluarga mereka, akhirnya Andreas Jonathan bisa menerima penjelasan itu.
"terima kasih honey.., aku bersyukur bisa memilikimu. Kamu selalu bisa memadamkan, setiap bara api yang muncul, dan akan membakarku. Tetaplah untuk selalu disampingku dan Altezz.., I love you..." sambil berbisik di telinga Cassandra, Andreas Jonathan memeluk erat tubuh istrinya. Cassandra tersenyum, dan membalas pelukan itu. Suasana menjadi hening di dalam ruangan itu,
Melihat pemandangan itu, semua yang berada di ruang tengah bernafas lega, dan tuan Wijaya memberi isyarat pada menantunya Alexander untuk membawa Stevie pergi dari tempat itu. Perlahan tanpa pamit pada keluarga kakak iparnya, Alexander membawa istrinya Stevie meninggalkan ruangan itu untuk pulang ke rumahnya sendiri.
**********
Pagi Harinya
Seperti hari-hari biasa, pagi ini Andreas Jonathan menyempatkan diri untuk menemani istrinya berjalan pagi dengan Altezza putra mereka. Jika biasanya Cassandra hanya ditemani oleh suster pengasuh, dan beberapa pengawal yang bersembunyi mengikuti perempuan muda itu, kali ini Andreas Jonathan menyertai istrinya sendiri, Sejak tahu istrinya tengah mengandung calon putra mereka yang kedua, laki-laki muda itu memang lebih mencurahkan waktu untuk melayani istrinya. Hal itu dilakukan laki-laki itu, untuk menebus rasa bersalahnya karena ketika hamil Altezza, dirinya tidak bisa mendampingi Cassandra.
"Coklat..., apakah di ruang makan tidak tersedia coklat di mansion kita Altezz..?" Andreas Jonathan yang terlalu over protective, sedikit enggan menuruti apa yang diinginkan oleh anak kecil itu. Tetapi ada sedikit rasa bersalah di hati laki-laki muda itu, karena tidak setiap saat selalu bisa mendampingi putranya beraktivitas.
"Kak Andre... bisakah sedikit bersikap lunak pada putra kita Altezza.. Di mansion ada, tetapi putra kita juga butuh untuk mengenal dengan lingkungannya, bagaimana cara membeli, cara memesan. Karena hal itu akan menjadi bekal untuknya, ketika besar nanti Altezza harus berbaur di masyarakat." dengan suara lirih, Cassandra membuat peringatan untuk suaminya.
Andreas Jonathan terdiam sebentar, dan setelah seperti berpikir beberapa saat, akhirnya laki-laki muda menggandeng tangan Altezza, dan istrinya Cassandra. Kedua orang itu, mommy dan putranya merasa bingung.., tapi...
"Papa juga pingin membeli satu gelas coklat panas, sepertinya bisa menghangatkan tubuh kita di pagi hari yang dingin ini..." ucap Andreas Jonathan sambil melihat ke arah putra kecilnya.
"Really pa..., ayuk Altezz sukaaaa..." Altezza berteriak, dan anak kecil itu melepaskan pegangan tangan dari papanya, kemudian Altezza berjalan sendiri. Cassandra tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah putra laki-lakinya itu.
Sinar matahari pagi seperti tampak malu-malu menerpa kulit keluarga kecil itu, dan sedikit kehangatan menyelimuti mereka. Kota Inter laken memang tidak seperti kota-kota lainnya di negara Swiss, karena keberadaannya di dataran tinggi. Jadi meskipun musim semi maupun musim panas, di kota itu tetap merasa dingin setiap harinya.
"Ternyata sangat menyenangkan melakukan hal sederhana seperti ini ya honey.. Bisa melihat pemandangan bagus, dengan didampingi oleh anggota keluarga kita.. Tetapi sayang, karena posisi keluargaku, kita sangat jarang bisa melakukan hal ini.." sambil berjalan, Andreas Jonathan berkata pada istrinya.
"Hmm... tidak boleh lungkrah atau menyesal seperti ini kak.. Kita ini harus selalu banyak-banyak bersyukur dengan semua nikmat, semua karunia Tuhan. Di sela-sela kesibukan kak Andre.., masih bisa mendampingi Altezz dan Sandra. Lihatlah keluarga yang lain, terkadang mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka saja, mereka masih merasa kesulitan kak.." kembali Cassandra memberikan nasehat pada suaminya.
"Kamu memang malaikat dan bidadariku honey.. Aku sangat bahagia dan bersyukur bisa mendapatkanmu untuk menjadi milikku.." bisik Andreas Jonathan dan memberikan ciuman di pipi perempuan muda itu.
"Jangan terlalu menyukai apa yang sudah kita dapatkan kak, yang wajar saja. Karena bisa jadi, Tuhan murka dan akan mengurangi kebahagiaan ini dari keluarga kita.." sambil tersenyum, Cassandra berjalan lebih cepat meninggalkan suaminya.
***********