
Beberapa hari kemudian
Cassandra tampak sedang berbincang dengan mama mertuanya, sambil mengasuh Altezza. Mereka masih berada di negara Singapura karena untuk mengurus perpindahan Stevie ke Jakarta. Tanpa mau tahu, Andreas Jonathan memaksa untuk membawa Stevie ke Jakarta, setelah mengetahui jika gadis itu adalah adik kandungnya. Sebenarnya gadis itu menolak, merasa jengah juga dengan perlakuan Alexander kepadanya, namun tuan muda Andreas Jonathan memang tidak akan bisa dilawan.
"Sandra.. bulan depan, berarti ALtezz sudah bisa MPASI ya. Apakah kamu sudah mempersiapkannya untuk tumbuh kembang putramu.." sambil memegang botol untuk meminumkan ASI pada Altezza, Nyonya Sheilla bertanya pada menantunya.
"Iya mama.. Sandra sudah mempersiapkannya. Karena setiap waktu, Sandra harus selalu bersama dengan kak Andre, maka rencana Sandra akan menggunakan metode BLW (Baby Led Weaning). Berdasarkan pengalaman, metode ini akan melatih motorik Altezza untuk makan makanannya sendiri, serta lebih mudah memberi makanan saat bepergian." Cassandra menceritakan metode MPASI yang akan dilakukannya.
"Bagus sekali Sandra.. kamu memilih metode seperti yang dilakukan para orang tua di luar negeri. Hanya saja, kamu harus tetap melakukan pengawasan ketika ALtezz makan, untuk menghindarkannya agar tidak tersedat, karena makanan padat yang kamu berikan. Dan sepertinya, kalau mama membaca bagaimana netizen di Indonesia berkomentar tentang metode itu, menurut mereka tidak ada benarnya. Jadi.. kamu juga harus mempersiapkan secara mental juga." Nyonya Sheilla memberikan pandangan.
"Iya mam.. memang masih ada beberapa orang yang menganggap seorang ibu terlihat kejam, jika menggunakan metode BLW. Tapi, Sandra juga sudah berdiskusi dengan papanya Altezz, dan kak Andre juga sudah menyetujuinya mam.." Altezza menegaskan.
Nyonya Sheilla tersenyum dan perempuan paruh baya itu mengambil tissue untuk mengusap ASI yang menetes melalui sudut mulut cucunya. Cassandra tersenyum melihatnya, melihat bagaimana oma yang baru diketemukannya beberapa hari lalu, ternyata bisa sedekat itu dengan putranya. Tanpa kedua orang itu sadari, laki-laki tampan melihat kedekatan mereka dari pintu kamar. Perlahan laki-laki itu segera menghampiri mereka berdua.
"Honey.. apakah sudah selesai menemani ALtezz..." Cassandra menoleh, dan gadis itu sudah beberapa kali memperingatkan pada suaminya, untuk selalu mendahulukan mamanya. Namun.. rupanya laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya. meskipun mengetahui jika Nyonya Sheilla adalah mama kandungnya, memang anak muda itu masih belum bisa menjadikannya sedekat dengan orang-orang yang terlebih dahulu mengenalnya. Karena bagaimanapun, Andreas Jonathan masih merasa memiliki pertanyaan pada perempuan paruh baya itu, bagaimana seorang ibu bisa meninggalkan putranya yang masih bayi untuk bersama dengan perempuan lain.
"Kak Andre..., bisakah memberi salam pada mama terlebih dahulu.. Sejak tadi mama sudah menemani Altezz bermain, dan hal itu sangat membantu Sandra." dengan suara lirih, Cassandra mengingatkan suaminya.
Andreas Jonathan menatap mata istrinya, namun Cassandra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah memeluk dan memberi ciuman di kening istrinya, Andreas Jonathan barulah menoleh ke arah Nyonya Sheilla, dan perempuan paruh baya itu tersenyum menatap putranya. Sebenarnya Nyonya Sheilla juga merasa ada perbedaan perlakuan kepadanya, namun mengingat jika mereka telah terpisah dan tidak bertemu untuk waktu yang lama, akhirnya perempuan paruh baya hanya bisa menerimanya.
"Mama.. selamat pagi.." anak muda itu mendekati mamanya, kemudian mencium punggung tangan Nyonya Sheila. Dengan penuh keharuan, perempuan paruh baya itu mengusap punggung putranya beberapa kali. Dari depan mereka, Cassandra tersenyum melihat mereka. Ada setitik kebahagiaan melihat suaminya dapat bersikap akrab dengan mama kandungnya.
********
Alexander yang sedang membawa Stevie untuk mengurus kependudukan di kantor imigrasi Singapura, dengan sabar menemani dan mengurus semuanya. Stevie hanya dibiarkan duduk menunggu, dan gadis muda itu seperti menikmatinya. Alexander membantu pengurusan passport dan visa tinggal di Indonesia untuk gadis itu. Dan hal itulah yang membuat Stevie malas, karena merasa jika keberadaannya di Jakarta bersama dengan keluarga kakaknya, hanya akan mengikat kebebasannya.
"Tidak bisakah diwakilkan interviewnya, baru malas nih. Tidak jadi passport sama visanya juga ga pa pa.." Stevie yang sedang menyandarkan kepala di sandaran kursi, sambil memejamkan mata merasa terganggu dengan perkataan ALexander.
Alexander mengambil nafas panjang, kemudian laki-laki muda itu menghampiri gadis yang masih saja duduk sambil bermalas-malasan.
"Jika tidak ada yang berdiri, dan segera masuk ke dalam, maka jangan salahkan aku Stevie. Aku akan menciummu di depan umum, apakah kamu menerimanya sayang.." dengan tatapan smirk, Alexander menggoda gadis itu,
Mendengar perkataan bernada mesum itu, mata Stevie langsung terbuka lebar dan menatap Alexander dengan tatapan tajam. Tiba-tiba saja gadis itu sudah berdiri dan dengan kasar mendorong dada Alexander, karena merasa terhalangi jalannya.
"Minggir.. menuh-menuhi tempat saja.." sambil bersungut, Stevie segera memasuki ruang wawancara. Alexander tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kekerasan hati gadis itu.
"Hmm.. Stevie, aku akan melihat bagaimana kamu akan bertahan dalam kekerasan hatimu. Aku yakin, tidak akan lama lagi, aku pasti sudah akan bisa menundukanmu, dan membawamu untuk menemaniku di pelaminan." sambil menatap punggung Stevie yang sudah berjalan meninggalkannya, Alexander berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki muda itu memiliki harapan besar untuk dapat menundukkan adik kandung dari Andreas Jonathan itu.
Tiba-tiba Alexander melihat ada cafe yang menjual minuman dan beberapa meal di sudut ruangan kantor imigrasi tersebut. Laki-laki itu kemudian berdiri, dan mendatangi cafe tersebut untuk memesan beberapa meal, dan dua gelas kopi panas.
"Hot americano and hot cappucino." Alexander menyebutkan minuman yang dipesannya. Tangannya memilih makanan yang akan dibelinya. Tidak lama kemudian, laki-laki muda itu mengulurkan black card atas namanya sendiri. dan pelayan cafe dengan nanar melihat laki-laki itu,
Tidak lama kemudian, Alexander meninggalkan cafe tersebut dengan membawa makanan dan minuman yang sudah dibelinya. Laki-laki itu berjalan kembali ke tempat awal dimana tadi menunggu gadis itu. Beberapa saat laki-laki itu menyesap minumannya, akhirnya Stevie sudah terlihat dan dengan wajah cemberut seperti gadis kecil, Stevie menghampiri Alexander.
"Minumlah dulu sayang.. jangan bersikap seperti anak kecil, nanti harga dirimu jatuh.." Alexander mengulurkan gelas cappucino pada Stevie. Tanpa menjawab perempuan itu menerima paper glass dengan hot cappucino di dalamnya. Tidak lama kemudian, gadis itu mulai menyesap minumannya secara perlahan.
"Sudah.. jika sudah, kita harus berpindah dari tempat ini sayang. Kamu akan mengantarku ke catatan sipil untuk mengambilkan akta cerai Nyonya Sheilla dan tuan Armansyah.." kata-kata terakhir yang diucapkan Alexander sangat mengejutkan Stevie. Sudah lama, gadis itu membantu mamanya untuk mengurus perceraian, namun selalu berakhir dengan penyiksaan yang dilakukan oleh papanya. Gadis itu menatap Alexander dengan tatapan tidak percaya, dan laki-laki muda itu tersenyum serta menganggukkan kepalanya.
*********