
Tuan Wijaya sangat gembira ketika menantunya Cassandra, dan putra semata wayangnya sudah mengajaknya untuk kembali pulang. Meskipun masih terlihat lelah, namun rona kebahagiaan terpancar jelas dari mata laki-laki tua itu. Alexander mendorong kursi roda, dan membawanya ke mobil SUV yang sudah menunggu di lobby rumah sakit, Andreas Jonathan terus berada di samping Cassandra, dan melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu. Laki-laki muda itu seakan-akan ingin menunjukkan kepemilikannya atas Cassandra, perempuan yang sudah memberikan seorang Altezza kepadanya.
"Honey.. apakah kita akan merayakan kepulangan papa dengan lunch bersama keluarga semua..?" sambil berjalan, Andreas Jonathan bertanya pada istrinya.
"Kita tidak boleh berspekulasi dengan kesehatan papa kak.. papa saat ini masih tahap recovery, jadi masih harus banyak istirahat. Kita bisa mengundang chef, atau restaurant untuk datang ke rumah, kita bisa merayakan kepulangan papa di Pent house. Bukankah itu akan jauh lebih aman.." Cassandra membuat sebuah usulan.
Menanggapi usulan cerdas istrinya, laki-laki itu tampak tersenyum bahagia. Dan tanpa memperhatikan dimana mereka saat ini berada, dan dalam lingkungan apa, tiba-tiba Andreas Jonathan memiringkan wajahnya, kemudian memberikan ciuman di pipi gadis itu.
"Kak Andre.." Cassandra memerah pipinya, dan mendorong lengan kanan laki-laki itu. Gadis itu berusaha menjauh, namun dengan cepat Andreas Jonathan mendekatkan lagi tubuh istrinya dalam pelukan
"Tenang nona muda.. kami tidak melihatnya kok. Jadi santai saja, anggap saja lingkungan rumah sakit ini juga tidak bisa melihat kemesraan kalian." dengan nada sarkasme sambil mendorong kursi roda, Alexander berkomentar.
"Maaf kak Alex.. maaf pa.. atas sikap tidak sopan kami berdua." secara reflek Cassandra meminta maaf.
"Ha.. ha.. ha.. tenanglah menantuku, papa akan sangat bahagia jika melihat putra kesayangan papa, Andreas Jonathan juga bahagia. Tidak ada yang merasa terganggu dengan sikap kalian berdua.." ternyata tidak diduga, tuan Wijaya turut berkomentar.
Ke empat orang itu dengan empat orang pengawal yang mendampingi perjalanan mereka, tertawa dengan bahagia. Keluarga itu mencerminkan keluarga yang penuh aura kebahagiaan dan aira positif yang memagnet orang-orang di sekelilingnya. Dan Andreas Jonathan semakin tidak tahu malu, laki-laki muda itu terus menunjukkan kasih sayangnya di muka umum pada istrinya.
**********
Nyonya Sandrina dan Jennifer terduduk lemas di ruang pemeriksaan kantor Polresta Jakarta Utara. Kedua perempuan itu tidak dapat berkutik, ketika diringkus oleh aparat kepolisian. Keduanya terduduk dan saling berpandangan lesu, dan banyak wartawan di luar kantor kepolisian ingin mewawancarai Jennifer. Gadis itu menjadi target yang empuk bagi awal media, karena posisinya sebagai artis ibukota. Untungnya pihak kepolisian masih dapat bekerja sama, untuk tidak mengijinkan sembarang orang untuk menemui mereka.
"Apa maksud dari perbuatan Ibu Sandrina dengan membawa ramuan bunga dan daunan kering ke dalam rumah tuan Andreas Jonathan..?" terlihat seorang penyidik bertanya pada perempuan paruh baya itu.
"Kalian semua salah paham dan asal menuduhkan sesuatu pada saya. Mansion di PIK II adalah rumah putra saya, tidak perlu ditanyakan lagi, jika selaku mamanya saya memiliki kebebasan untuk berbuat apapun di rumah itu. Apalagi membuat hal itu untuk menjatuhkan tuduhan pada saya." perempuan paruh baya itu masih mencoba berkelit untuk menghindari tuduhan.
"Tidak perlu berputar-putar Bu Sandrina.. jawab saja pertanyaan saya. Jangan mencoba mengalihkan pada fokus yang lain." dengan nada tinggi, penyidik menekan Nyonya Sandrina.
"Hmm... kalian tidak mau diajak bekerja sama rupanya. Tunggulah disini sebentar..!" merasa tidak dapat dengan cepat membuat Nyonya Sandrina mengaku, penyidik mulai berang. Laki-laki itu menoleh dan memberikan isyarat pada polisi yang berjaga di pintu.
Jennifer menggeser tempat duduknya lebih mendekat ke arah Nyonya Sandrina. Menggunakan masker, gadis itu sejak tadi menutup mulut, untuk menghindari bidikan wartawan. Setelah beberapa saat mereka menunggu, akhirnya layar LED TV di dalam ruangan itu tiba-tiba menyala. Semula Jennifer dan Nyonya Sandrina saling berpandangan, namun ketika sekilas kamera menyorot tas kresek putih yang dibawa dari paranormal, kedua perempuan itu terlihat pucat pasi.
"Bu Sandrina, mbak Jennifer.. apakah kalian mengenali tas kresek warna putih ini..?" dengan nada tegas, penyidik kembali bertanya pada dua perempuan itu. Terlihat kedua perempuan itu gugup, tetapi kemudian seperti menyiapkan jawaban.
"Tidak ada yang aneh atau mencurigakan pada tas kresek warna putih, bahkan kita ke warung untuk belanja apapun, kita bisa mendapatkan tas tersebut dalam warna dan ukuran yang sama. Apakah hanya karena hal itu, pihak kepolisian menjatuhkan tuduhan pada saya." dengan lantang, Nyonya Sandrina berani menjawab polisi tersebut.
Dua polisi itu tersenyum dan saling berpandangan, kemudian menggunakan remote control yang ada di tangan polisi itu, tiba-tiba rekaman yang ditayangkan di LED TV berubah. Terlihat dengan jelas bagaimana tuan Wijaya membawa kresek putih, dan memberikannya pada Yati dan Siti untuk dibuatkan minuman.
"Oh my God.." Nyonya Sandrina terkejut dengan apa yang dilihat dalam layar LED tersebut, keringat dingin mengalir dan membasahi baju yang dikenakan perempuan itu.
"Tante.. kenapa menjadi seperti ini, bagaimana tante menyimpan bungkusan itu..?" Jennifer yang ikut merasa panik, berbisik pada perempuan paruh baya itu.
"Tante juga tidak mengira jika papanya Andreas akan mempercayai kata-kataku Jenni.." keterkejutan Nyonya Sandrina menjadi semakin panik, ketika melihat bagaimana Andreas Jonathan membawa suaminya pergi keluar menggunakan mobil.
"Baik... Bu Sandrina.. mbak Jennifer.. mungkin anda berdua bisa menyimpulkan, untuk apa kalian berdua kami tangkap. Bahkan jika kalian berdua tahu, tuan muda Andreas Jonathan tidak mau menemui anda berdua, karena khawatir tidak mampu menahan hasrat mereka untuk mencekik kalian berdua. Dan untuk Tuan Wijaya.., laki-laki itu baru saja dijemput pulang oleh Tuan Muda dan nona muda dari rumah sakit. Apakah ada pertanyaan..?" penyidik sambil tersenyum sinis, bertanya dengan nada sarkasme.
Kedua perempuan itu menundukkan wajahnya ke bawah, tidak mampu lagi dan tidak berani untuk menatap penyidik dan polisi yang saat ini memeriksa mereka. Mereka seperti sudah tidak memiliki harapan untuk terbebas dari kasus ini, dan pukulan berat terasa seperti menghantam Nyonya Sandrina. Perempuan itu sangat mengetahui bagaimana karakter suami dan anak dari suaminya itu. Merasa akan mendapatkan pembalasan dari mereka berdua, ketakutan semakin menghantui perempuan paruh baya itu.,
"Pak Tarja.. masukkan dua perempuan itu pada tempat penahanan sementara.." penyidik kemudian berdiri setelah memberi perintah pada polisi yang sejak tadi bersamanya.
"Jangan.. tolong jangan lakukan itu pak, kita bisa bekerja sama. Saya akan memberi berapapun yang kalian minta, tapi bebaskan kami.." mendengar perkataan penyidik, kedua perempuan itu meraung, minta untuk dibebaskan,
***********