CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 270 Kontraksi



Menjelang petang, Andreas Jonathan segera mengajak istri dan putranya untuk kembali ke mansion mereka. Tuan Wijaya dan Nyonya Sheilla sengaja menginap di rumah putrinya Stevie, karena gadis muda itu yang memintanya. Terlihat kegugupan pada diri gadis muda itu ketika mengetahui dirinya sedang hamil yang pertama. Dukungan dari mamanya, yang sudah melahirkan dua putra dan putri, sangat dibutuhkan oleh gadis muda itu. Sejak mamanya datang, Stevie tidak mau berpisah dengan mamanya dan Alexander membiarkan istrinya untuk sementara bersama dengan Nyonya Sheilla.


"Bagaimana perasaanmu Stevie.., apakah rasa pusing di kepalamu sudah hilang?" dengan suara pelan, Nyonya Sheilla bertanya pada gadis muda itu.


"Rasa pusing hanya sering muncul di pagi hari mama... kemudian sering muntah jika mencium makanan yang mengandung dairy, dan susu. Tapi bisa teratasi setelah konsumsi teh panas, dan crackers.. Kemarin kak Alex.. sudah minta kiriman gabin dari Kalimantan, untuk asupan nutrisi sebagai pengganti karbohidrat." Stevie menanggapi perkataan mamanya, dan gadis muda itu meletakkan kepala di pangkuan perempuan paruh baya itu.


"Apapun asalkan masuk ke perut, harus diusahakan makan Stevie.. Jangan terlalu pilih-pilih makanan, apapun yang penting bisa masuk, konsumsi saja. Karena tidak hanya dirimu, tetapi bayi dalam rahimmu juga butuh asupan nutrisi. Juga jangan malas untuk olah raga meskipun tidak begitu mengeluarkan tenaga yang banyak, agar otot-otot terbiasa melakukan olah gerak." dengan suara pelan, Nyonya Sheilla menasehati putrinya..


"Iya mam... maunya Stevie juga begitu. Tapi perut serasa menolak, dan kalau sudah mual, yang ada malah makanan di dalam perut keluar semua. Jika sudah begitu, yang ada hanya rasa pusing yang muncul jadinya. Dan itu terjadi hampir setiap hari mam.. sampai Stevie terkadang merasa bingung sendiri bagaimana mencegahnya.." bukan bermaksud untuk beradu kata, Stevie menyampaikan keluhan yang dirasakannya pada nyonya Sheilla.


Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum, karena memang bawaan kehamilan yang dialami antara orang satu dengan yang lain itu sering tidak sama. Ada yang selalu aman dan tidak ada masalah dalam kehamilan, tetapi ada juga yang merasa kesusahan. Nyonya Sheilla mengakomodir semua itu. Dengan penuh kelembutan, perempuan paruh baya itu mengusap rambut putrinya. Dari dalam kamar, Alexander tersenyum melihat betapa manjanya Stevie jika sudah bersama dengan mamanya.


"Apa yang kamu lihat Alex.. sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatianmu..?" tiba-tiba Alexander dikejutkan dengan suara Tuan Wijaya. Anak muda itu mengangkat wajahnya, dan menatap ke arah laki-laki tua itu sambil tersenyum.


"Melihat Stevie pa... ternyata anak itu menjadi manja jika sudah bersama dengan mama. Tapi jika bersama Alex.., Stevie sering pura-pura menjadi tegar dan kuat. Padahal sepertinya anak itu menjadi rapuh.." tanpa sadar, Alexander berkeluh kesah pada papa mertuanya.


"Ha.. ha.. ha.., istrimu itu sepertinya terobsesi pada kakak iparnya. Stevie sangat mengagumi dan mereplikasi sikap dan karakter Cassandra. Tetapi sikap dan karakter itu tidak bisa direplikasi secara instan. karena terbentuk sejak mereka terlahir ke dunia ini. Cassandra bisa menjadi keras dan tegas pada saat dibutuhkan. Tetapi juga bisa menjadi lembut ketika bersama dengan suaminya Andreas Jonathan." tanpa sadar tuan Wijaya memuji menantunya.


Alexander hanya tersenyum tidak memberikan tanggapan, tetapi dalam hati laki-laki muda itu mengiyakan. Tuan Wijaya kemudian berjalan meninggalkan menantunya, dan bergabung dengan putri dan istrinya.


*********


Di Mansion


Cassandra yang baru keluar dari kamar mandi merasa tidak nyaman, karena ketika mandi perempuan muda itu mengetahui jika dirinya mengeluarkan flek darah. Tetapi karena tidak mau membuat gugup suaminya, Cassandra tetap bersikap tenang. Pernah melahirkan Altezza, dan sendirian datang ke rumah sakit, membuat perempuan muda itu sudah mengetahui tanda-tanda akan melahirkan. Sesampainya di luar kamar mandi, Cassandra segera mengambil trolly bag yang sudah lama disiapkannya di Wardrobe.


"Hemm... untuk jaga-jaga saja pa, siapa tahu Sandra sudah saatnya akan melahirkan adiknya Altezza. Jika kak Andre tidak keberatan, bisa membantu untuk meletakkan trolly bag ini di bagasi mobil. Jadi ketika gejala itu datang, kita tinggal masuk ke dalam mobil, dan langsung pergi ke rumah sakit.." tidak mau membuat laki-laki itu panik, Cassandra tidak mau berbicara yang sebenarnya.


"Okay honey... istirahatlah dulu di kamar.. Aku akan menyiapkan trolly bag ke bagasi mobil, jadi seperti kata honey, kita tinggal berangkat jika honey sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan." laki-laki muda itu segera menarik trolly bag, kemudian keluar dari dalam kamar.


Cassandra segera duduk di atas sofa, merasa nyeri dalam rahimnya masih sangat jarang-jarang, Cassandra yakin jika jarak bayinya akan keluar masih beberapa saat. Perempuan muda itu mengusap perlahan perutnya ke atas dan ke bawah beberapa kali.


"Sayang... jangan sakiti mommy ya.. Jika mau keluar, sayang bisa keluar dengan aman dan tidak begitu menyakiti mommy. Karena mommy akan berusaha dan berjuang untuk melahirkanmu secara normal." Cassandra mengajak bayi di dalam perutnya untuk berkomunikasi, sambil mengusap-usap perutnya beberapa kali. Jika seusai diusap, perutnya akan kembali tenang.. Perempuan muda itu melakukannya beberapa kali,


"Aku harus lebih banyak mengisi perutku, agar aku bisa memiliki tenaga untuk mengeluarkan bayi dalam perutku nantinya. Karena untuk nanti malam, tidak mungkin aku mengabaikan hal ini..": melihat ada snack dengan komposisi utama aneka nuts dan oat, Cassandra segera mengambil dan mulai menikmatinya. Tidak terasa, Cassandra sampai menghabiskan tiga bungkus snack tersebut, kemudian mengakhiri waktu meal itu dengan minum satu gelas air putih.


Cassandra tiba-tiba berdiri, karena merasa gerakan bayi dalam perutnya tambah terasa. Ketika perempuan muda itu berdiri, Cassandra tiba-tiba merasa tegang sampai harus mengambil nafas panjang beberapa kali. Beberapa kali perempuan muda itu kembali mengusap perutnya ke atas dan ke bawah.


"Sepertinya aku tidak bisa menunggu lagi, aku harus segera pergi ke rumah sakit." Cassandra segera mengambil tas selempangnya, dan juga pashmina untuk dikalungkan ke leher mengurangi suhu udara dingin di luar ruangan. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Cassandra segera berjalan menuju ke arah pintu, kemudian...


Karena tidak melihat suaminya di ruang tengah, ataupun di tempat yang dilewatinya, Cassandra segera bergegas menuju ke teras dengan melewati ruang tamu. Ternyata suaminya sedang duduk di ruang tamu, sambil melihat ke arah gadget yang ada di depannya.


"Honey.. mau kemana..?" melihat istrinya keluar dari dalam kamar, Andreas Jonathan sontak bertanya.


"Jika kakak sudah selesai urusan, temani Cassandra ke rumah sakit kak.."


*********