
Nyonya Sandrina berjalan di belakang Jennifer, mereka mulai menapaki teras yang tampak bersih itu. Halaman depan dan teras yang saat ini mereka injak, tidak menunjukkan ada keanehan apapun. Semuanya mirip dengan rumah dan halaman dengan rumah-rumah yang sudah mereka lewati. Tiba-tiba pintu berderit, dan dibuka dari dalam. Seorang laki-laki muda yang berpakaian serba hitam, dengan penutup kain di atas kepalanya keluar menemui mereka.
"Selamat pagi.., apakah dengan nona Jennifer saya bicara?" laki-laki muda itu bertanya pada kedua perempuan itu.
"Benar, dan saya sudah membuat janji pada bapak mas.., apakah kami berdua sudah bisa masuk ke dalam." Jennifer tampak antusias dan ingin segera bertemu dengan paranormalnya,
"Silakan masuk mbak, dan tunggu di dalam.." laki-laki itu mempersilakan kedua perempuan itu masuk, kemudian membawa keduanya masuk ke dalam ruangan.
Bau harum aroma dupa menyeruak masuk ke hidung Nyonya Sandrina, dan lampu ruangan yang didominasi agak berwarna kemerahan, membuat perempuan paruh baya itu terlihat gemetar ketakutan. Di kursi panjang, anak muda itu memersilakan kedua perempuan itu untuk kembali duduk menunggu paranormalnya keluar. Jennifer yang sepertinya sudah terbiasa dengan keadaan itu, tampak terlihat tenang-tenang saja, sedikitpun tidak terpengaruh dengan suasana di ruangan tersebut.
"Kita tunggu sebentar bapaknya keluar ya tante,,?" Jennifer mengajak bicara Nyonya Sandrina.
Perempuan paruh baya itu menganggukkan kepalanya, dan matanya beredar mengelilingi ruangan itu. Tidak ada hal yang aneh yang ditemukan oleh perempuan itu, hanya beberapa wayang kulit terpajang di atas dinding, dan beberapa batang keris serta tombak banyak terpajang di tempat ini.
"Masuklah ke dalam, dan duduklah di atas tikar yang sudah aku gelar.." sebuah suara berat dan serak terdengar dari dalam ruangan.
Nyonya Sandrina kaget, namun Jennifer segera menggandeng perempuan tua itu, kemudian mengajak perempuan paruh baya itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Seorrang laki-laki yang mengenakan kalung dari taring harimau duduk bersila di atas tikar yang terbuat dari daun mendong yang dikeringkan. Tatapan laki-laki itu tajam, seakan menembus ke arah dua perempuan yang duduk di depannya.
"Bapak.. saya Jennifer, yang kali ini sowan (datang) pada bapak, dengan membawa teman bapak.." Jennifer memberi salam pada laki-laki itu.
"Hmm.. kenalkan dirimu dan ceritakan masalahmu. Walaupun aku sudah bisa menebak jika masalah yang saat ini sedang kamu hadapi adalah masalah rumah tangga. Kamu memiliki ketidak sepakatan yang dilakukan oleh anggota keluargamu, tetapi kamu tidak dapat berbuat apapun.." paranormal itu menebak-nebak yang dialami oleh nyonya Sandrina.
"Iya.. iya.., apa yang Bapak katakan hari ini, sama dengan masalah yang sedang saya hadapi pak.. Putra laki-laki saya sepertinya sedang terpelet oleh seorang perempuan dari kampung pak, dan saya memiliki kecurigaan jika gadis itu menggunakan pelet. Anak laki-laki saya sudah berani membantah demi untuk membela perempuan yang sudah dinikahinya itu." Nyonya Sandrina mulai menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.
Beberapa saat waktu dihabiskan hanya untuk mendengarkan Nyonya Sandrina bercerita, dan beberapa kali Jennifer melengkapi cerita itu. Setelah keduanya selesai bercerita,
"Hmm.. sepertinya memang harus dilakukan Parang Rusak, yang mempunyai arti perang atau menyingkirkan segala yang rusak, atau melawan segala macam godaan. Motif ini mengajarkan agar sebagai manusia mempunyai watak dan perilaku yang berbudi luhur sehingga dapat mengendalikan segala godaan dan nafsu. Putramu terlihat sudah melewati batasan itu, dan keputusanmu datang kesini merupakan sesuatu yang tepat." suara paranormal yang berat itu memenuhi ruangan.
"Terus.. apa yang harus saya lakukan pak, agar putraku bisa kembali dan meninggalkan gadis kampung itu.." dengan antusias nyonya Sandrina mengejar paranaormal utu,
Laki-laki itu terdiam sebentar, kemudian mengambil sebuah buku lusuh yang diletakkan di dalam sebuah kotak lusuh dan kuno. Sepertinya kotak lusuh itu jarang dibuka, dan beberaoa saat kemudian sebuah buku ditarik keluar oleh laki-laki tua itu,
Perempuan paruh baya itu menoleh pada gadis yang duduk di sampingnya itu, dan setelah melihat Jennifer menganggukkan kepala, barulah Nyonya Sandrina berani untuk mengambil buku itu, dan perlahan membukanya. Tanpa meminta pertimbangan pada Jennifer, Nyonya Sandrina memilih mahar 30 juta untuk menghilang Rubeda atau dalam istilah bahasa Indonesia memiliki makna Alangan, rintangan, pakewuh. Perempuan itu menganggap jika Cassandra adalah sebuah rubeda yang harus dihilangkan,
"Mahar ini bapak yang harus saya pilih.." suara Nyonya Sandrina bergetar sambil menunjuk angka mahar yang dipilihnya. Paranormal itu tersenyum melihatnya.
"Pilihan yang bagus, bayarlah dulu maharnya dengan mengirimkan transfer pada nomor rekening yang tertulis," suara paranormal itu kembali terdengar.
Dengan cepat, Nyonya Sandrina mengambil ponsel dan masuk ke mobile banking, dan tidak lama kemudian bunyi notifikasi jika transfer sudah masuk berbunyi.
"Sudah bapak.." sahut Nyonya Sandrina sedikit gugup, bagai perempuan paruh baya itu, uang sebesar itu bukanlah apa-apa.
"Bagus,, kerja yang cepat. Duduklah.. aku akan membuatkan mantra untukmu.." suara paranormal itu kembali memenuhi ruangan,
Laki-laki itu menyalakan cenndana ke dalam ruangan, kemudian menambahkan bubuk kuning di atasnya. Kembali aroma harum menyesakkan itu beredar dan memenuhi ruangan itu, dan menyebabkan kepala Jennifer dan Nyonya Sandrina itu menjadi terkulai. Kedua perempuan itu menjadi pingsan, dan tergolek di dalam ruangan. Setelah melihat kedua perempuan itu tidak berdaya, bapak-bapak tua itu bertepuk tangan. Tidak lama kemudian, laki-laki muda yang tadi awal menyambut kedatangan Nyonya Sandrina dan Jennifer masuk ke dalam ruangan,
"Bagaimana mbah..?" laki-laki itu bertanya pada laki-laki itu.
"Urus kedua perempuan itu, dan jangan lupa ubo rampe juga disiapakan. Aku mau istirahat dulu untuk beristirahat.." setelah memerintah anak muda itu, paranormal itu kemudian berdiri dan meninggalkan kamar itu,
"Baiklah mbah, sendhiko dhawuh.." dengan patuh laki-laki muda itu kemudian menyiapkan segalanya. Sebuah tas kresek berwarna putih berisi ubo rampe dan petunjuk penggunaan segera disiapkannya,
Kemudian dengan wajah datar, laki-laki muda itu menatap kedua perempuan yang tampak dalam keadaan pingsan itu. Senyuman sinis keluar dari bibir anak muda itu, kemudian..
"Orang-orang jika sudah tersesat dengan pikiran atau ambisi untuk mengalahkan orang lain, akal sehatnya seperti menghilang dari kepalanya." gumam laki-laki muda itu.
Tidak lama kemudian, anak muda itu keluar dari dalam kamar untuk memanggil kedua teman yang lain, untuk membantunya.
********