
Cassandra menghampiri mamanya yang sedang berbaring, kemudian memeluk tubuh perempuan lemah itu tanpa bicara. Hanya tangisan dari mereka berdua yang tampak memenuhi ruangan itu, keduanya seakan mengadukan kejadian yang membuat mereka menderita dan tersiksa. Tiga orang dewasa, yang tadi sebelum gadis itu datang selalu membentak Nyonya Dhini, saat ini mereka merubah sikap mereka. Ketiganya saling berpandangan mata, kemudian tersenyum.
“Putriku Cassandra.., akhirnya kamu datang juga nak untuk menjenguk kami. Ternyata pikiran kami salah selama ini, kami semuanya berpikir jika putra dari Hanafi sudah melupakan mamanya Dhini Amrita. Ternyata tuduhan kami salah nak, selamat datang Kembali pada keluargamu..” Jatmiko yang tadi terdengar kasar, berubah 360 derajat dalam menghadapi Cassandra.
Matanya mengamati tubuh Cassandra dari ujung kaki sampai ke ujung rambut, begitu juga dengan putranya Candra. Anak muda itu juga melakukan hal yang sama, dan tampak tertarik dengan kemolekan dari putri ibu tirinya itu.
“Bagaimana kabarmu nak.., jangan panik dan tidak perlu khawatir Sandra. Mama hanya kelelahan saja, butuh beberapa hari untuk istirahat di tempat ini. Kamu tidak perlu bersedih melihat keadaan mama., Bahkan melihat kedatanganmu, kondisi mama langsung membaik nak..” mengabaikan suami dan putra tirinya yang sejak tadi memperlakukannya dengan kasar, dan juga adik iparnya, Dhini dengan ramah berusaha menenangkan Cassandra.
“Iya mam.. Sandra tahu dan ingat. Mama Sandra adalah perempuan yang kuat, perempuan yang hebat. Dan pasti tidak akan mudah untuk ditindas oleh laki-laki bejat yang tidak bertanggung jawab, dan juga seorang anak yang tidak tahu terima kasih. Lawan mereka ma, ada Cassandra yang akan berdiri di belakang mama..” ucap Cassandra menyemangati mamanya.
“Cassandra.. apa maksud perkataanmu bocah tengil. Datang, datang tidak berbicara atau menyapa pihak yang lebih tua dengan sopan, malah berbicara yang tidak jelas, dan tidak ada jluntrungannya.” Terdengar suara kasar dari anak muda di belakangnya.
Cassandra menegakkan Kembali tubuhnya, kemudian membalikkan badan dan menatap satu persatu tiha orang di depannya itu. Dengan pongahnya, terlihat Candra putra tiri mamanya yang berarti juga menjadi saudara tirinya, tampak menatapnya dengan tidak bersahabat. Tetapi hal berbeda terlihat pada papa tiri, dan tante tirinya.
“Siapa kamu, apakah kamu yang menyebutku sebagai bocah tengil? Tidak bisakah kamu bersikap sopan pada yang lebih tua, atau memang begitu garis keturunanmu..” dengan nada sarkasme, sambil menatap Candra, Cassandra berbicara pada anak muda itu.
Anak muda itu dan papa, serta tantenya terkejut melihat keberanian Cassandra. Gadis yang dulu terlihat lemah, dan memilih mengalah dengan pergi dari kehidupan mamanya itu, saat ini terlihat kuat. Dengan balutan fashion yang branded, dan kulit yang halus, bersih serta mulus, menandakan jika kehidupan gadis itu sudah jauh lebih baik.
“Jaga nada bicaramu Sandra, apakah aku akan tidak tega memperlakukanmu kasar, hanya karena melihat dirimu saat ini sudah berubah.” Dengan suara lantang, Candra membalas kata-kata dari Cassandra.
“Putriku Cassandra, hentikan nak. Tidak ada gunanya berdebat atau beradu mulut dengan mereka. Mengalahlah putriku.. uhuk..” terdengar dengan suara lemah, Nyonya Dhini menahan putrinya.
“Tidak ma.., Sandra bukan lagi seorang anak yang lemah, yang harus mengalah pada seorang pecundang seperti mereka. Sudah cukup ma, ikuti kata-kata Cassandra. Pergi, ikutlah dengan Sandra. Jangan lagi mau diperbudak dengan manusia tidak punya hati, dan juga tidak punya terima kasih seperti mereka.” Jari telunjuk Cassandra terangkat ke atas. Satu persatu, tiga orang dewasa itu ditudingnya.
Jatmiko tersentak dan merasa kaget dengan sikap kelewatan gadis yang berdiri di depannya. Laki-laki itu sudah mencoba untuk mengalah, karena ingin mengambil hati Cassandra, saat ini muncullah kemarahan di hatinya.
Mendengar perkataan itu, Cassandra tersenyum sinis, sambil menatap papa tirinya. Sedikitpun tidak ada rasa hormat yang tercurah untuk laki-laki itu dan keluarganya. Yang ada hanyalah rasa muak dan jijik melihat mereka.
“Sudah.., sudah, tidak perlu ada yang diributkan di antara kita. Harusnya kali ini kita Bahagia, meskipun mbak Dhini masih terbaring di rumah sakit, tapi mbak Sandra sudah kembali ke Kalasan, dan berkumpul dengan kita lagi. Hal itu jauh lebih baik..” perempuan yang merupakan tante dari Candra, dan adik dari Jatmiko itu bersuara.
Tetapi jelas terlihat jika gaya bicaranya terkesan dibuat-buat. Matanya nanar sejak tadi, melihat tas selempang, sepatu dan merk baju yang dikenakan Cassandra. Gadis itu memang tanpa sengaja, membawa baju yang diambil dari butik pilihan tuan mudanya. Sehingga penampilan gadis itu saat ini terlihat berkelas, dan menunjukkan strata yang dimilikinya.
“Maaf bulik.., saya sudah tidak bisa percaya lagi, dengan ucapan yang keluar dari mulut keluarga om Hanafi. Siapapun yang sudah menyebabkan mama menjadi begini, maka Sandra tidak akan berhenti untuk menyiksanya balik. Jangan remehkan kami bulik, sudajh cukup lama saya memilih diam dan tidak terpancing dalam keributan, karena melihat mama. Tetapi begitu, melihat mama diperlakukan dengan tidak baik, maka aku akan marah.” Dengan suara tegas, Cassandra membuat peringatan, dan mata perempuan adik ipar mamanya itu menatapnya dengan tidak percaya.
“Dasar anak tidak tahu diuntung, beraninya kamu melawan kami. Akan kami perlakukan mamamu dengan tidak bermartabat, jika kamu tidak mau menurut dengan kata-kata kami.” Tidak diduga, dari sampingnya dengan mata merah Hanafi menatap Cassandra dengan tatapan tidak bersahabat.
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh laki-laki itu, tiba-tiba saja Cassandra memiliki ide buruk. Sudah saatnya, gadis itu mengakhiri penderitaan mamanya yang selalu ditindas dan diperlakukan buruk oleh keluarga papa tirinya,
“Om Hanafi.. tidak perlu ada yang saya takutkan Om. Dengan atau tanpa persetujuan mama, aku mengusir Om, tante dan juga Candra dari rumah Kalasan. Rumah itu bukan milik Om, melainkan rumah peninggalan almarhum papa, dan tidak ada hak untuk kalian tinggal disana. Oh iya om.. satu lagi. Dalam waktu dekat, aku akan mengurus perceraian Om Hanafi dengan mama. Mamaku sudah tidak butuh laki-laki bejat seperti om Hanafi.” Dengan berani, Cassandra menantang papa tiri dan keluarganya.
“Memang hanya tamparan yang bisa membuatmu diam perempuan laknat..” Hanafi mengangkat tangannya ke atas, dan Nyonya Dhini hampir terjatuh dari atas ranjang Ketika tangan itu terarah ke rahang putrinya.
“Bukk.. duakk..” tangan Hanafi terhempas ke bawah. Sebuah pukulan di rahang dan di dada laki-laki tua itu telak bersarang.
“Aduh..” Hanafi berteriak kesakitan.
Semua mata memandang tidak percaya, seorang laki-laki berwajah tampan tampak menghajar Hanafi tanpa perhitungan sama sekali. Di belakang laki-laki itu, terlihat tiga laki-laki muda yang juga tampan, tampak memberikan pengawalan pada laki-laki itu.
*********