CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 112 Penempatan Baru



Surabaya


Di dalam ruangan kerja sebuah perusahaan\, terlihat Herlambang sedang melakukan pemeriksaan berkas-berkas pengiriman barang dan mencocokkannya dengan invoice dan laporan keuangan. Meskipun sudah memiliki posisi yang bisa hanya memberikan perintah pada bawahan\, untuk mengerjakan apa yang saat ini sedang dilakukannya\, namun hal itu jarang dilakukan Herlambang. Laki-laki muda itu selalu bekerja secara tekun\, dan bahkan bisa dikatakan anak muda itu sebagai ***workaholic.***Hal itu dilakukan untuk menghabiskan waktu dalam urusan pekerjaan\, karena untuk menepis pikiran tentang Cassandra. Keadaan yang dialami gadis itu\, selalu menimbulkan kekhawatiran siapapun yang melihatnya. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh anak muda itu\, namun kabar keberadaan tentang Cassandra belum juga didapatkannya\,


"Tok.. tok.. tok.." tiba-tiba pintu ruang kerja Herlambang berbunyi.


Anak muda itu menghentikan aktivitasnya sebentar, kemudian mengangkat wajahnya ke atas. Merasa malas untuk membukakan pintu, akhirnya


"Masuk.. " satu kata cepat dan padat dikeluarkan oleh laki-laki itu. Herlambang masih tetap fokus dalam pekerjaan terakhirnya.


Tidak lama kemudian, pintu ruangan didorong dari luar, dan terlihat Amin petugas administrasi masuk serta berdiri di depan laki-laki itu. Herlambang mengangkat wajahnya ke atas dan ketika melihat Amin, laki-laki muda itu sedikit heran, karena merasa tidak mengundang anak muda itu untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Ada apa mas Amin.. apakah ada yang bisa saya bantu. Duduklah di kursi dulu." Herlambang memang selalu ramah, dan selalu bersahabat dengan semua karyawan perusahaan tempatnya bekerja, tidak memandang dari bagian mana karyawan itu berasal,


"Tidak perlu duduk saja tuan. Saya hanya menyampaikan pesan dari manajer untuk memberi tahukan pada  tuan Herlam.. manajer perusahaan saat ini menunggu tuan Herlambang di meja sidang. Mendadak tuan Anggoro meminta saya untuk memanggilkan tuan Herlambang, dan beliau saat ini sudah berada di ruangan tersebut." Amin menyampaikan kepentingannya datang ke ruangan tersebut.


Herlambang berpikir apakah ada tugas yang belum dilakukannya, atau ada kekeliruan dari pekerjaan yang sudah dilaksanakan. Namun anak muda itu tidak menemukan satu hal dari yang berada dalam pikirannya. Laki-laki itu menghela nafas, kemudian menatap Amin..


"Baik mas Amin.. aku bereskan dan susun kembali berkas di atas meje ini. Setelah semuanya sudah rapi kembali, aku akan segera menuju ke ruang sidang. Kembalilah ke ruanganmu, dan terima kasih.." akhirnya Herlambang menyetujui pesan yang disampaikan oleh Amim.


"Jika begitu, saya ijin untuk kembali ke ruangan saya tuan Herlambang.." Amin segera kembali keluar meninggalkan ruang kerja Herlambang.


Untuk berjaga-jaga jika ditanyakan tentang progress dari pekerjaan yang sedang dilakukannya, Herlambang membawa flash disk dan gadget ditangannya. Anak muda itu selalu mendasarkan setiap kata dan keputusan yang dikeluarkannya dengan mendasarkan pada data, sehingga susah untuk didebat. Karena ada beberapa karyawan yang hanya menggunakan kemampuan untuk berdiskusi secara verbal, namun akan terhenti ketika dikejar perihal data yang digunakan.


"Aku tidak perlu khawatir, karena aku memang tidak melakukan kesalahan apapun. Market share perusahaan malah meningkat setelah aku bergabung dengan perusahaan ini, dan bahkan kesalahan dalam bidang keuangan aku yang menemukan celahnya penyimpangan anggaran." Herlambang bergumam sendiri, mencoba menenangkan hatinya.


Setelah merasa semua persiapan sudah disiapkannya, akhirnya dengan membawa tas kecil dari kulit sapi, Herlambang perlahan meninggalkan ruang kerjanya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


***********


Ketika masuk ke ruang sidang, ternyata bukan hanya manajer perusahaan yang duduk dalam ruangan itu, namun ada satu lagi laki-laki yang sedang berbicara dengan pak Iskandar manajer perusahaan. Untuk menghormati dua orang tersebut, sebelum masuk ke dalam Herlambang mengetuk pintu, dan menunggu dipersilakan dulu, baru memutuskan untuk duduk bergabung dengan mereka.


"Oh ini pak Herlambang sudah berada di dalam ruangan. Ayo segera duduk pak Herlam.., kenalkan ini utusan dari perusahaan pusat di Jakarta pak Anwar namanya. Pak Anwar.. kenalkan ini pak Herlambang yang tadi sempat pak Anwar tanyakan." Isknadar segera mengenalkan kedua anak muda itu.


Dengan sikap sopan, Herlambang segera mendatangi kedua laki-laki itu, kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak keduanya berjabat tangan. Setelah menyalami keduanya, Herlambang segera memilih kursi di depan dua orang itu, agar bisa berhadapan dan bisa bertatapan dengan mereka ketika berkomunikasi.


"Begini pak Herlambang.. kamu pasti bertanya-tanya kenapa dipanggil untuk bertemu dengan kami, dan padahal kamu juga merasa tidak melakukan kesalahan apapun." pak Iskandar memulai pembicaraan. Menndengar hal itu, Herlambang hanya menganggukkan kepala, dan menunggu kelanjutan dari pembicaraan.


"Pak Anwar ini melakukan tugas dari perusahaan pusat untuk melakukan pengecekan lapangan, karena terkagum dengan pesatnya pasar baru yang berhasil diraih oleh perusahaan ini. Padahal belum genap satu tahun, cabang di kota Surabaya ini berdiri, namun omzet perusahaan sangat meningkat drastis. Pak Anwar menginginkan ada best practices yang bisa diambil dan ditularkan pada orang-orang yang ada di pusat Jakarta sana." lanjut pak Iskandar menjelaskan,


Herlambang masih terdiam, karena belum mendapatkan permintaan untuk menyampaikan pendapatnya.


"Benar pak herlam.. semua yang disampaikan oleh pak Iskandar. Kedatangan saya kesini untuk menyampaikan permintaan dari pusat, untuk merekrut dan membawa kembali pak Herlambang untuk duduk sebagai manajer pemasaran di perusahaan induk yang ada di Jakarta. Jika pak Herlam menerimanya, minggu depan pak Herlam bisa menuju ke Jakarta, dan Senin kita mulai melakukan orientasi ke perusahaan tempat pak Herlambang ditempatkan." pak Anwar menjelaskan semuanya.


Herlambang seperti tidak percaya dengan  berita yang baru saja diterimanya, anak muda itu mengangkat wajahnya ke atas dan melihat pada dua orang yang berada di depannya. pak Iskandar dan pak Anwar tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang baru saja dikatakan oleh pak Anwar.


"Baik terima kasih pak Anwar.. atas informasi yang baru saja disampaikan oleh bapak kepada saya. Sungguh merupakan keberuntungan, dan sangat mengejutkan saya. Namun sebagai anak muda yang harus menyukai tantangan dan mencoba peluang baru, saya bersedia pak. Saya akan mengambil peluang baru ini, mohon arahan dan bimbingannya.." masih dengan sikap sopan, herlambang menerima posisi penempatannya yang baru itu.


Iskandar dan Anwar tersenyum melihat kesanggupan yang ditunjukkan anak muda itu. Karena tidak ada lagi yang akan mereka bahas, pak Iskandar segera memerintahkan Herlambang untuk kembali ke dalam ruangannya. Banyak yang harus disiapkan oleh Herlambang, seiring dengan rencana kepergiannya ke Jakarta.


"Anak itu demikian sopannya. tidak salah tuan Alexander memerintahkan untuk membawa anak muda itu ke Jakarta.." tanpa sadar Anwar bergumam.


"Hmm.. apa ada hubungan antara Herlambang dengan tuan Alexander pak Anwar?? Kenapa tuan Alexander sendiri yang memilih pak Herlam untuk ditarik ke pusat." dengan ingin tahu Iskandar meminta penjelasan,


"Saya juga tidak tahu persis bagaimana ceritanya pak Is.."


***********