CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 171 Berupaya Lebih Keras



Di dalam kamar, Stevie dan nyonya Sheilla sedang berbincang. Karena kasus terakhir yang hampir saja mencelakakan Stevie, Andreas Jonathan memang meminta adik perempuan dan juga mamanya bergabung dengan mereka di Pant House. Dengan mereka berkumpul bersama, pengawasan dan penjagaan menjadi lebih mudah. Tetapi kedua perempuan itu harus tinggal dalam satu kamar, karena keterbatasan kamar yang ada di Pant House.


"Mama.. apakah mama tidak membuka hati mama untuk papa Wijaya..? Sepertinya kak Andre, juga memiliki pikiran yang sama dengan Stevie ma.. Kembalilah, dan bersatu dengan papa Wijaya ma.., Stevie menunggu dan merindukannya, bagaimana kalian berdua merawat Stevie. Kesempatan ini sudah hilang ma, tetapi masih bisa kembali diwujudkan di masa sekarang.." terdengar Stevie meminta mamanya untuk kembali bersatu bersama dengan papa Wijaya.


Nyonya Sheilla terdiam, tampak masih terlihat ada kegamangan dalam tatapan mata perempuan paruh baya itu. Beberapa saat kemudian, perempuan itu menghela nafas..


"Apakah mimpimu tidak terlalu ketinggian Stevie.., terlalu sakit jika mama mengingat masa lalu putriku. Bagaimana dalam keadaan hamil, kala itu papa mengusir mama pergi dari Canada. Dengan alasan yang tidak bisa didengarkan, dan akhirnya Armansyah yang memberikan pertolongan pada mama, sehingga akhirnya kita bisa menetap di negara Singapore kala itu," kata-kata nyonya Sheilla terdengar lirih.


Stevie ikut terdiam, memang sebelum kedatangan kakak kandungnya Andreas Jonathan ke SIngapura saat itu, yang tahu-tahu sudah berada di apartemennya, Stevie masih menyangka jika Tuan Armansyah adalah ayah kandungnya. Bagaimanapun perlakuan dari laki-laki paruh baya itu, namun ketika Stevie sakit di masa kecil, mamanya sedang bekerja, laki-laki itu yang selalu menemaninya, mengompres dahinya. Sungguh perlakuan itu, tidak menunjukkan jika ternyata laki-laki itu bukan papa kandungnya.


"Pikiran anak muda memang akan sulit disamakan dengan pikiran orang yang lebih tua. Mama yang menjalaninya Stevie.., bagaimana mama harus bertahan hidup untuk membesarkanku sendirian, menghilangkan jejak keberadaan dari papamu WIjaya dari hidup mama. Tidak muda waktu itu untuk mama putriku... Dan saat ini, jika tiba-tiba papa Wijaya muncul, dan ingin kembali bersama mama, ingatan mama akan waktu itu muncul lagi.." nyonya Sheilla terlihat tersenyum kecut.


"Stevie paham ma.., tetapi bukankah papa juga tidak selamanya dalam posisi keliru. Bisa jadi, karena kala itu, kenyataan dan bukti-bukti memang sengaja ditunjukkan papa kebenarannya, dan papa terlalu naif untuk mencari kebenaran mama. Stevie memang tidak tahu, dan juga tidak bisa ikut merasakan seperti apa yang mama rasakan. Hanya doa Stevie selalu mama, selalu yang terbaik untuk hubungan mama Sheilla dan papa Wijaya.. Ada kalanya, meskipun sudah terlambat, Stevie ingin merasakan tidur di antara kalian berdua, dengan Stevie berada di tengahnya ma.." Stevie tidak dapat berbuat banyak.


Nyonya Sheilla tersenyum, kemudian perempuan paruh baya itu mendekati tempat duduk putrinya. Nyonya Sheilla tiba-tiba memeluk erat putrinya, yang karena keadaan baru bisa bertemu dan mengenal papa kandungnya. Ada sedikit rasa perih dalam hati perempuan paruh baya itu, namun memang hatinya sampai saat ini belum bisa dengan tulus memaafkan tuan Wijaya. Perlahan Stevie menyandarkan kepalanya di dada perempuan paruh baya itu, kembali merasakan kasih sayang dari perempuan luar biasa yang terus mendampinginya itu.


"Kita akan berjuang bersama putriku, dan semoga hati mama bisa terbuka untuk bisa menerima papamu Wijaya. Namun... untuk saat ini, maafkan mama Stevie.. mama belum bisa..." ucap nyonya Sheilla lirih.


*******


Tuan besar Wijaya termenung, laki-laki itu duduk sendiri di sudut restaurant tanpa ada seorangpun yang tengah bersamanya. Terlihat beberapa potong sandwich di piring kecil yang ada di depannya, juga secangkir hot black coffee. Tampak laki-laki tua itu melamun sejak tadi, memandangi orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran laki-laki itu.


"Tidak ada yang papa lihat Andre... kemana istrimu Cassandra. Bisa-bisanya makan pagiĀ  sendirian, tidak menawarkan pada istrimu.."


"Cassandra sudah diantarkan sarapannya oleh bagian room service sejak tadi pa, katanya lagi malas keluar dari Pant House. Papa sendiri, kenapa tidak mengajak mama Sheilla untuk makan pagi bersama. Bukankah kalian kali ini sama-sama single, jadi tidak ada masalah bukan, jika papa dan mama melakukan aktivitas bersama.." kata-kata Andreas Jonathan seakan memberikan sindiran secara halus pada papanya.


Laki-laki itu kemudian mulai menyeruput minuman dari dalam gelasnya, kemudian meletakkan kembali cangkir ke atas meja. Andreas Jonathan kemudian mengambil garpu dan pisau, dan mulai menikmati makanan yang terhidang di depannya. Tuan Wijaya hanya melihat apa yang dilakukan oleh putranya.


"Tidak ada yang bisa diharapkan dari mamamu Andre.., sepertinya hati mamamu sudah tertutup buat papa. Mungkin perlakuan papa di masa lalu, sudah terlalu dan sangat menyakitinya, sehingga pintu maafpun sampai sekarang masih tertutup rapat.." tuan Wijaya mengalihkan pandangan keluar jendela kaca yang ada di sampingnya.


"Bisa jadi itu hanya perasaan papa.., terus berusaha pa.. Batu yang keras saja, bisa lobang jika terkena setitik air setiap harinya. Begitupun hatinya mama, Andre rasa mama hanya butuh pembuktian, jika papa betul-betul menyayangi mama, dan tidak akan menyakitinya lagi di masa depan. Jangan patah semangat pa.. terus berusaha." Andreas Jonathan menyemangati papanya.


Tuan Wijaya hanya tersenyum kecut, dan laki-laki tua itu terdiam sejenak mencoba mengingat-ingat kembali bagaimana perlakuan Nyonya Sheilla kepadanya. Beberapa kali, laki-laki tua itu sudah berupaya untuk menjebak perempuan itu, namun semuanya belum mampu menundukkan kembali hati Sheilla.


"Hati mamamu masih terlalu keras, sepertinya kehadiran Armansyah dalam pernikahan keduanya juga meninggalkan luka yang mendalam pada Sheilla. Akhirnya hati mamamu menjadi sekeras batu, masih ada trauma untuk menjalin lagi sebuah ikatan pernikahan.." ucap Tuan Wijaya lirih.


"Untuk itu papa harus berusaha, gunakan Stevie untuk membantu papa melunakkan hati papa. Gadis itu yang sejak bayi tinggal bersama dengan mama, dan kedekatan emosional antara Stevie dengan mama lebih kental, dibandingkan dengan kedekatan Andre sama mama," Andreas Jonathan masih berusaha menguatkan hati papanya.


Laki-laki tua itu hanya tersenyum smirk, tidak dapat diduga apa yang akan dilakukan oleh Tuan Wijaya. Tidur satu ranjang bersama, tinggal dalam satu kamar yang sama, sudah dilakukannya dengan Sheilla. Namun tidak ada yang terjadi antara mantan pasangan suami istri itu, sepertinya nyonya Sheilla sudah mati rasa.


********