CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 208 Liburan Kecil



Altezza sangat menikmati kebersamaan bermain dengan daddy-nya, anak kecil itu sejak tadi terus menggandeng tangan papanya. Cassandra tersenyum dan memberi ruang kedekatan untuk putra dan suaminya. Tidak bisa suaminya Andreas Jonathan setiap hari akan bisa bersama dengan Altezza, tidak seperti dirinya.


"Honey... maukah naik kereta api di atas sana, kita bisa melihat Danau Brienz dan sekeliling pemandangan gunung dari sepanjang perjalanan menggunakan kereta." Andreas Jonathan menunjuk ke arah kereta api yang sedang melintas dan sangat jelas terlihat dari tempat mereka berdiri.


Saat ini mereka sedang bersantai menikmati makanan, setelah turun dari kapal Ferry berlayar berkeliling danau Brienz. Setelah turun, mereka beristirahat sambil menikmati kuliner yang banyak dijajakan di tempat itu. Sebenarnya melihat tempat mereka berada saat ini, Andreas Jonathan tidak mengijinkan, tetapi Cassandra meminta pada suaminya, hanya kali ini saja meminta untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh orangtuanya yang lain. Akhirnya dengan berat hati, dan meminta pengawal untuk memperketat penjagaan, kaki muda itu mengabulkan apa yang dimaui istrinya.


"Sandra ikut saja kak Andre.., tapi Altezz bagaimana. Jika Altezz takut, jangan dipaksa kak, agar tidak menjadikan trauma pada putra kita." melihat medan di sekitar mereka, Cassandra khawatir jika Altezza tidak berani.


"Altezz berani mommy... kan Altezz anak kuat, pemberani. Iya kan pap..." dengan polosnya Altezza menatap ke wajah papanya.


"Hebat sekali memang putra papa..., ayo honey.., kita keburu sore turunnya. Karena menjelang sore, kabut biasanya sudah akan turun yang akan membatasi jarak pandang." Andreas Jonathan segera mengangkat Altezza dan menggendongnya, kemudian laki-laki itu memegangi tangan Cassandra.


Pengawal yang ada bersama dengan mereka, segera mengatur agar tuan muda dan keluarganya bisa menuju ke tempat pemberangkatan kereta api dengan aman. Hal-hal kecil seperti itu menjadi perhatian dari para pengawal, mengingat keberadaan tuan muda mereka di Inter Laken karena untuk tujuan mencari ketenangan, dan menghindarkan dari masalah keamanan yang mengintai keberadaan mereka di Indonesia.


"Tuan muda, nona muda... saya akan ambil mobil dulu, kemudian kami akan mengantar tuan muda dan keluarga ke sisi timur danau. Berjalan kaki bisa saja, hanya saja di tengah keramaian seperti ini, kami tidak recommended untuk menjaga keamanan tuan kecil Altezza terutama.." mengingat keberadaan stasiun kereta api hampir satu kilometer dari keberadaan mereka saat ini, salah satu pengawal mengusulkan untuk mengambil mobil.


"Yap.. ambil saja." Dua pengawal tetap berjaga di sekitar keluarga kecil itu, dan satu pengawal berlari menuju ke parkiran mobil.


Tidak lama kemudian, mobil mewah yang diambil pengawal sudah berhenti di jalan kecil depan restoran, tempat keluarga Andreas Jonathan tadi menikmati kuliner. Kedua pengawal segera memberi akses bagi ketiga anggota keluarga itu untuk masuk ke dalam mobil. Beberapa saat, mobil itu segera meluncur menuju ke arah stasiun yang ada di sisi timur Danau Brienz. Tidak sampai lima belas menit perjalanan, mobil yang membawa keluarga itu sudah berhenti di depan stasiun. Tampak petugas stasiun sudah mencegat mereka, dan memberikan akses jalan agar keluarga itu masuk, untuk beberapa saat menunggu kereta dengan berbaur dengan para wisatawan lainnya. Ternyata pengawal sudah menyiapkan semua, termasuk tiket untuk naik kereta wisata.


"Mommy... ayo kita masuk kereta, lihat kereta apinya sudah datang..." tiba-tiba suara Altezza mengagetkan Cassandra, dan ternyata penumpang kereta sudah dipersilakan masuk ke dalam,


Lagi-lagi, pengawal membuat pengaturan, dan tidak lama kemudian mereka sudah masuk ke dalam gerbong kereta. Dan ternyata untuk memastikan keamanan keluarga Andreas Jonathan, pengawal itu menyewa satu gerbong penuh kereta. Sehingga keluarga ini bisa lebih terjamin keamanannya, karena tidak tercampur dengan penumpang yang lainnya. Andreas Jonathan tersenyum, merasa puas dengan pengaturan itu.


"Tetap hati-hati Altezz..., jangan jauh-jauh dari Uncle pengawal.." Cassandra berpesan pada putra kesayangannya, ketika anak kecil itu melepaskan diri dari gandengan papanya.


"Baik mommy.." ALtezza segera berjalan ke belakang dengan pengawalan ketat dari pengawal keluarga Andreas Jonathan. CEO PT. Indotrex. Tbk itu memeluk istrinya, dan kereta api segera mulai berjalan di sepanjang Brienz Rothorn Railway. Kereta api itu akan menuju stasiun puncak di Rothorn Kulm. Sepanjang perjalanan, mereka disuguhkan pemandangan Danau Brienz dari ketinggian dan perbukitan yang mengelilinginya.


Sementara keluarga Andreas Jonathan sedang menikmati liburan kecil di Danau Brienz, Inter laken Switzerland, di markas Thanom yang berada di pegunungan kawasan Thailand Selatan, tampak sebuah pertemuan kecil. Tampak dengan serius, Armansyah, Thanom, Sandrina, dan Jennifer yang sudah mulai bisa berbaur dan menyesuaikan dirinya dengan keadaan sedang duduk di meja melingkar. Beberapa anak buah Thanom tampak juga berada di dalam ruangan itu.


"Aku mendapat informasi baru dari anak buahku yang masih ada di Jakarta.," Armansyah mulai membuka percakapan.


"Informasi tentang target sasaranmu pergi meninggalkan Jakarta via Halim Perdana Kusumah, apakah itu yang akan kamu ceritakan Arman.." dengan cepat, Thanom menangkap pembicaraan itu.


"Bagaimana kamu juga tahu Thanom, apakah sudah ada yang menceritakan hal ini kepadamu.." Armansyah menatap ke wajah Thanom dengan serius.


"Tidak penting dari mana aku juga mendapatkan informasi. Tuan muda Indotrex itu, sedang melakukan perjalanan ke luar negeri dan ternyata setelah aku lakukan track, perjalanan akhir private jet yang membawa tuan muda itu, berhenti di Zurich, Switzerland. Aku curiga, keluarga laki-laki itu diungsikan ke negara itu, terbukti juga ketika Stevie putra tirimu itu menikah dengan Alexander, perempuan bernama Cassandra dan putranya Altezza tidak datang menghadiri pernikahan adik kandung Andreas Jonathan." Thanom menjelaskan apa yang berada dalam pikirannya.


"JIka begitu.. akan lebih mudah jika kita menangkap perempuan muda itu dan putranya di Switzerland, aku yakin mereka tidak akan memiliki banyak pengawal seperti di Jakarta, atau di Canada." Sandrina yang sedikit banyak mengetahui bagaimana mantan putra tirinya itu ikut menyambung pembicaraan,


"Hemm... hati-hati jika berbicara Sandrina, negara Switzerland memiliki tingkat kriminalitas hampir nol, dan keamanan sangat terjamin di negara itu. Aku yakin alasan Andreas Jonathan memilih negara itu untuk melindungi keluarganya, atas alasan itu. Jadi kita tidak boleh bertindak sembrono di negara itu." Thanom memotong perkataan Sandrina.


Semua yang berada di dalam ruangan itu terdiam, masing-masing berpikir bagaimana bisa mengelabui anggota keluarga dari Andreas Jonathan, tanpa banyak yang tahu.


"Uncle.. aku ada apartemen tua di negara Swiss Uncle, peninggalan dari grandpha yang diberikan untukku. Hanya saja, kamar di apartemen itu, sudah lama tidak aku kunjungi. Jadi kita bebersih dulu, jika kita akan menuju ke negara itu.." Arron yang sejak tadi diam hanya memeluk Jennifer, tiba-tiba turut berbicara,


"Bagus Arron.. kita bisa fokus menggunakan apartemen itu untuk base camp kita selama berada di negara itu. Hanya saja, kita masih harus kerja keras untuk mencari tahu keberadaan keluarga itu.." Armansyah menyahut.


"Kita bisa pura-pura mencari data di embassy, tentang keberadaan warga negara yang berada di negara itu, aku yakin mereka memiliki data base nya." Jennifer ikut bersuara.


********