
Canada
Untuk menghormati dan menjaga perasaan Nyonya Sheilla, tuan Wijaya menempatkan perempuan itu di rumah yang ada di samping tempat laki-laki tua itu tinggal. Tuan Wijaya ingin membangun kembali rasa mereka berdua, dengan secara alami bukan karena balas budi, ataupun alasan lainnya. Asset-asset gono gini perceraian mereka dulu, yang seharusnya diserahkan pada perempuan paruh baya itu ketika mereka bercerai, baru saat ini secara ksatria diserahkan oleh papa Andreas Jonathan pada mantan istrinya,
"Nyonya besar..., apa ada yang nyonya besar butuhkan.., kebetulan saya mau minta ijin untuk pergi ke groceries sebentar. Saya harus mengirimkan beberapa barang untuk putri saya di desa..." maid yang menemani Sheilla tinggal di rumah barunya, bertanya pada perempuan itu.
Sheilla yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh panas di pinggir kolam renang, mengangkat wajahnya dan melihat ke arah perempuan tersebut. Terlihat maid yang memiliki anak dua, dan ditinggalkan pada kedua orang tuanya di desa itu sedang menatap kepadanya.
"Sekalian saja, kamu cari dan belikan barang-barang kebutuhan bulanan Clara.. Aku tidak dapat menemanimu pergi, ajak sopir untuk menemani dan membawakan barang-barangmu. Hari ini tidak tahu mengapa, tiba-tiba saja aku mendadak merasakan kesepian. Semua asset atau harta seakan tidak ada harganya, aku kesepian Clara. Aku merindukan putra dan putriku, juga menantu serta cucuku.." tanpa sadar, Sheilla malah mengadukan perasaannya pada perempuan itu,
Clara tersenyum, dan perempuan yang sudah memiliki kedekatan dengan Nyonya Sheilla itu, duduk di samping majikannya.
"Mungkin Nyonya besar bisa membuka hati tuan Wijaya kembali..., Clara lihat apa yang saat ini nyonya Sheilla alami, sama dengan yang dialami oleh tuan Wijaya. Mungkin sudah saatnya untuk melupakan permasalahan di masa lalu nyonya besar, toh saat ini juga sudah tidak ada lagi yang akan mengganggu atau membuat masalah baru dalam kehidupan kalian berdua.." sambil tersenyum, Clara yang memang sangat mengetahui hubungan antara Sheilla dan Wijaya di masa lalu, mencoba memberikan salam.
Nyonya Sheilla mengalihkan pandangannya ke arah langit, dan menatap langit biru dengan awan yang ada di atasnya. Senyum kecut tiba-tiba muncul di wajah paruh baya, yang masih tampak kecantikannya. Bukan hanya Wijaya, beberapa laki-laki seusia Sheilla pun masih memiliki ketertarikan pada perempuan paruh baya itu. Namun dua kali pernikahannya di masa lalu, cukup membuat traumatik pada pshikologis perempuan itu.
"Apakah saran yang saya berikan tidak berkenan di hati nyonya besar, jika begitu maafkan Clara.. Nyonya besar..?" melihat perempuan paruh baya yang duduk di depannya itu malah menjadi terdiam, dan melamun membuat Clara menjadi gusar.
Perempuan paruh baya itu kembali menundukkan wajahnya ke bawah, dan kedua tangannya diangkat kemudian diletakkan di kedua pundak perempuan di depannya. Perlahan senyuman terbit di bibir perempuan paruh baya itu.
"Terima kasih Clara.., kamu memang mengetahui tentang perasaanku. Aku akan serahkan semuanya pada sang waktu, bagaimana waktu akan membawaku. Jika memang Wijaya, memang merupakan jodoh kembali untuk menghabiskan masa tua kami bersama-sama, mungkin aku akan menerimanya Clara. Doakan saja selalu yang terbaik untuk kami berdua Clara.." akhirnya dengan suara lirih, jawaban dari Nyonya Sheilla melegakan hati Clara.
Mendadak Clara mencondongkan tubuhnya ke depan, dan dua perempuan itu saling berpelukan. Keberadaan Clara di rumah ini, menjadi hiburan dan juga teman untuk meluapkan semua keluh kesah, dan permasalahan yang dipikirkan oleh Sheilla.
*********
Tanpa mengucapkan salam, WIjaya tiba-tiba datang berkunjung ke rumah Sheilla dengan membawakan kue bikinan maid di rumahnya. Sheilla sangat menyukai kue buatan maid di rumah Wijaya, karena sejak mereka dulu menjadi pengantin baru, maid itu sudah tinggal bersama dengan mereka. Masakannya sangat lezat, dan jarang mereka bisa menemukan masakan serupa yang dihasilkan oleh orang lain.
"Assalamu alaikum Sheilla..." melihat Sheilla yang sedang membuka-buka majalah di ruang tengah, Wijaya mengucapkan salam.
"Wa alaikum salam.." Sheilla mengangkat wajah dan menatap ke arah laki-laki itu. Wijaya tampak mendatangi mantan istrinya dengan senyum manis di bibirnya. Laki-laki tua itu kemudian duduk di samping Sheilla, dan mengambil majalah yang masih membuka dari pangkuan perempuan paruh baya itu.
"Ada apa Wijaya.., kenapa sejak tadi senyum-senyum sendiri. Apakah ada kabar baik yang ingin kamu sampaikan padaku.." Sheilla mengalihkan pandangan dari mantan suaminya itu, dan mengambil air mineral kemudian meminumnya beberapa teguk.
"Hemm..., tidak ada yang penting Sheilla. Hanya saja, aku tersenym dan merasa bahagia bisa melihatmu seperti Sheilla di masa lalu. Jika tidak ada aktivitas, selalu membuka-buka majalah, meskipun kamu tidak membacanya. Aku bersyukur, masih bisa melihatmu melakukan hal yang demikian. Hal yang sepele, namun memiliki makna yang dalam, yang menunjukkan bagaimana kesabaran yang kamu miliki.." tidak diduga, Wijaya mengambil kedua telapak tangan mantan istrinya, kemudian memberinya ciuman di atasnya.
Sheilla juga tidak bereaksi dengan menarik tangannya, namun malah seakan menikmati perlakuan manis dari laki-laki yang pernah menjadi suaminya di masa dulu itu. Keduanya terdiam dalam waktu beberapa saat, dan pikiran Sheilla seakan kembali ke masa lalu. Wijaya selalu memperhatikan kepentingan dan hal-hal kecil lainnya, dan sangat perhatian serta menyayanginya kala itu. Hampir setiap pagi, laki-laki itu mengajaknya berjalan-jalan, kemudian melakukan makan pagi bersama. Kala siang hari mereka juga selalu makan siang bersama, dan jika Wijaya tidak ada waktu untuk pulang ke rumah, maka dialah yang akan menyusulnya dengan datang ke perusahaan.
"Apa yang kamu lakukan Sheilla, apakah ada kesempatan untuk kita berdua, kita mengulang kembali masa-masa lalu kita." tiba-tiba Wijaya turun dari kursi kemudian duduk di atas lantai, di depan perempuan paruh baya itu.
Tatapan Wijaya dengan lembut menembus bola mata Sheilla, dan ketika Sheilla mengalihkan pandangannya ke arah lain, tangan Wijaya menahannya dengan memegang dagu perempuan paruh baya itu. Keduanya saling bertatapan kembali, dan tidak diduga hati dan jantung Sheilla seakan berdegup kencang. Perempuan paruh baya itu, seperti kembali di bawa ke masa lalu. Masa dimana Wijaya berusaha mendekatinya, dan mencoba menjalin kedekatan kepadanya.
"Do you want to marry me again.. Sheilla..?" tiba-tiba kata-kata yang diucapkan terakhir oleh Wijaya, sangat mengejutkan perempuan paruh baya itu.
Untuk sesaat nyonya Sheilla seperti kehilangan keseimbangan, tiba-tiba saja perempuan paruh baya itu bingung. Tatapannya menatap balik mata Wijaya, dan senyuman Wijaya seakan mengaduk-aduk perasaanya.
"Sheilla.. I need you.., aku membutuhkan untuk saat ini dan di masa depan. Aku berjanji, hanya maut yang akan memisahkan kita kembali Sheilla.. Trust me... please,!" dengan penuh harap, Wijaya menanti jawaban dari mantan istrinya itu.
************