CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 101 Over Thinking



Alexander, Cassandra dan diikuti tiga pengawal segera masuk ke dalam kamar, dan Cassandra langsung menunjuk ke tempat bunga kering dan daun pandan itu berserakan. Dengan berani, Alexander langsung mengambil daun dan bunga kering itu kemudian menciumnya. Ternyata di dalam tas kresek, ada petunjuk cara penggunaan yang ditulis dalam sebuah kertas dengan menggunakan tulisan tangan. Dahi Alexander berkerut, tetapi kemudian laki-laki itu menghela nafas.


"Bagaimana kak Alex.. apakah perkiraanku tidak salah?? Aku tidak asing lagi, itu kalau di masyarakat Jawa dikatakan sebagai kembang telon, atau ada juga yang menyebutkan sebagai kembang setaman. Dan maaf, hal itu biasa digunakan sebagai sesaji atau perdukunan.." dengan nada cemas dan takut, Cassandra bertanya pada Alexander.


"Tenang  nona muda.. jangan diambil mentah-mentah informasi itu. Kita saat ini berada pada masyarakat modern, hilangkan kekhawatiran dan prasangka. Karena hal-hal itu yang malah akan bisa menarik magnet kepercayaan itu bisa menjadi nyata." Alexander yang masih melihat, dan mengabsen bunga-bunga itu menyampaikan pendapatnya.


Laki-laki itu merapikan kembali, bunga dan daun kering itu, kemudian memasukkan ke dalam tas kresek., Setelah beberapa saat kemudian..


"Nona muda.. kita memang harus melakukan penyelidiikan , dari mana ramuan ini berasal. Ya pasti, perut tuan besar akan bermasalah, bahkan bisa mengalami keracunan karena ada juga aroma minyak duyung dalam daun-daunan ini. Kita berdoa saja, semoga tuan muda segera bisa tertangani dengan baik." ucap Alexander pelan.


"Kita baru bisa melakukan penyelidikan, jika papa sudah siuman dan sehat kak. Karena papa sendiri, yang memberikan ramuan ini pada ART., dan meminta mereka untuk menyeduhnya dan mengatakan jika ramuan ini adalah wedang uwuh.." Cassandra menjelaskan,


Alexander berpikir, dengan tanpa ada pikiran akan efek dari ramuan itu, dari mana tuan besar Wijaya mendapatkan ramuan itu. Tapi untuk mengurangi ketegangan itu, Alexander diam dan meminta Cassandra untuk kembali beristirahat. Tapi mengingat bunga-bunga kering yang terlanjur tersebar di kamarnya, Cassandra tidak berani untuk tidur di dalam kamarnya. Gadis itu masuk ke kamar Altezza untuk meneruskan istirahat di kamar itu.


"Saya harap, nona muda tidak berpikir yang tidak-tidak, karena pikiran memiliki gaya tarik untuk mengundang. The law of attraction.., jadi nona muda abaikan saja apa yang tadi dilihat di dalam kamar utama." sambil menutup pintu kamar, Alexander berpesan pada Cassandra. Meskipun saat ini, Cassandra istri dari tuan mudanya, namun sebelumnya gadis itu menjadi bawahan di perusahaan, sehingga gadis itu masih mendengarkan omongan dari laki-laki itu.


"Bawakan laptopku kemari, masih ada di dalam mobil!" ALexander langsung duduk di kursi tengah, dan memberikan perintah pada pengawal.


"Siap tuan Alex.." ucap pengawal yang bergegas meninggalkan ruangan itu.


Tidak lama kemudian, pengawal itu datang dengan menenteng laptop, dan menyerahkan tasnya pada tuan Alexander. Tanpa bicara, Alexander segera membuka laptop itu di atas meja. Beberapa saat, Alexander menghabiskan waktu untuk memeriksa saluran pada laptopnya. Setelah memasukkan kata sandi, laki-laki itu menelusur ke channel CCTV rumah ini yang terkoneksi dengan laptop, dan juga gadget Andreas Jonathan.


"Bagaimana tuan Alex.., apakah sudah ada kejelasan penyebab tuan besar masuk rumah sakit.?" pengawal yang juga merasa panik, memberanikan diri bertanya pada ALexander.


"Belum.. kalian kembali berjaga di luar saja. Aku masih butuh waktu lama, untuk tarik ulur kejadian ke belakang." ucap Alexander.


"Siap tuan muda.." sahut pengawal, yang langsung keluar meninggalkan laki-laki itu.


Beberapa saat, Alexander terfokus pada layar di depannya, dan beberapa kali laki-laki itu melakukan zoom, dan menghentikan rekaman CCTV, kemudian mereplay lagi untuk memperjelas apa yang dilihatnya. Kening Alexander berkerut, karena merasa ragu-ragu dengan persepsi yang dibangunnya.


Alexander terus menelusur rekaman CCTV ke belakang, dan terlihat jika Nyonya besar Sandrina keluar dari mobil Jennifer dengan membawa tas kresek berwarna putih itu. Sampai disitu, Alexander berhenti tidak mau menelusur lagi, sepertinya laki-laki itu sudah membuat sebuah kesimpulan.


"Aku harus menemui Jennifer, harus mencari tahu dari mana asal kresek putih ini, dan untuk tujuan apa. Karena tidak mungkin, jika tuan besar Wijaya memerintahkan pada Nyonya besar Sandrina untuk mengupayakan hal ini. Bisa jadi, terjadi kesalah pahaman antara Tuan Wijaya dan nyonya Sandrina, sehingga hal ini bisa terjadi, yang berdampak pada kecelakaan seperti ini." Alexander masih terus membuat kemungkinan-kemungkinan.


**********


Keesokan paginya


Tanpa memberi tahu mama mertuanya, setelah menyiapkan perlengkapan Altezza, dengan diantarkan oleh Alexander, Cassandra menyusul suaminya ke rumah sakit. Rasa panik ingin segera mengetahui kondisi papa mertuanya, membuat Cassandra lebih pagi sudah bersiap untuk berangkat. Untungnya Alexander juga sudah siap, dan sudah bangun lebih dulu daripada gadis itu.


"Bagaimana kak Andra.. apakah sudah menemukan darimana asal bunga dan irisan daun pandan kering itu. Apakah benar itu ditujukan untuk minuman  seduh, dan memang dikhususkan untuk papa?" sambil berjalan, Cassandra bertanya pada Alexander.


Laki-laki itu tersenyum, dan sekilas teringat ketika gadis yang duduk di sampingnya itu menjadi sekretaris eksekutif di perusahaan. Bagaimana semua pekerjaan dengan mudah dan cepat dihandle oleh Cassandra. Tetapi untungnya Alexander segera tersadar, jika posisi mereka saat ini sudah berbeda. Gadis itu sudah menjadi istri dari tuan mudanya.


"Dari penelusuran kamera CCTV, bunga kering itu dibawa masuk ke rumah oleh Nyonya Sandrina. Yang menjadi pertanyaan, kenapa bunga kering itu bisa berada di tangan tuan besar, dan malah diseduh seperti wedang uwuh. Apakah terjadi kesalah pahaman antara tuan besar dan nyonya besar..?" akhirnya Alexander menceritakan pada Cassandra.


Cassandra terdiam,  dan tidak lama kemudian gadis itu melihat ke arah Alexander yang berada di belakang kemudi.


"Apakah kak Alex punya pikiran sama denganku, jika sebenarnya bunga dan daun kering bukan ditujukan untuk papa, tapi sebenarnya ditujukan untukku. Kenapa tiba-tiba perasaan Sandra bicara seeprti itu." ucap Cassandra tiba-tiba.


Alexander menoleh ke arah gadis itu, tetapi hanya tersenyum dan tidak memberikan komentar apapun.


"Jangan over thinking nona muda.. saya sudah memanggil ustadz untuk membersihkan aura negatif dari bunga dan daun kering itu. Semoga tidak ada efek negatif yang tertinggal di rumah.., dan menjadi tugasku untuk menyelesaikan semuanya." laki-laki itu terlihat tenang, dan membuat pernyataan yang menenangkan Cassandra.


**********