CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 147 Menyatukan Hati



Stevie memberi isyarat pada Alexander untuk mengantarkannya kembali ke kamar, dan membiarkan mamanya Sheilla dengan papa Wijaya saling berbicara. Untungnya Alexander memahami isyarat yang disampaikan oleh gadis itu, dan laki-laki itu menganggukkan kepala. Keduanya perlahan kemudian berjalan meninggalkan restaurant tanpa berpamitan pada papa dan mamanya. Sebenarnya tuan besar Wijaya mengetahui ketika putrinya dan Alexander berjalan meninggalkan mereka, namun laki-laki tua itu malah merasa bersyukur dan bernafas lega.


"Sheilla .., apakah pintu hatimu masih tertutup untukku sayang..? Aku betul-betul minta maaf, dan berjanji untuk tidak akan mengulangi lagi kesalahanku di masa lalu. Maafkan aku Sheilla, dan jangan perlakukan aku seperti ini..!" tuan Wijaya kembali berusaha mendekati mantan istrinya.


Dengan tatapan judes, Nyonya Sheilla mengangkat wajahnya ke atas dan menatap tuan Wijaya dengan tatapan judes dan kesal. Tuan Wijaya hanya tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan oleh perempuan itu. Mereka seperti kembali menjadi seperti anak muda kembali, yang sedang bermarahan.


"Aku sudah mati rasa terhadapmu Wijaya, pergilah dari hidupku. Hal yang sama pernah kamu lakukan padaku, bagaimana kamu menuduhku selingkuh dengan Armansyah, padahal laki-laki itulah yang memberiku pertolongan. Dibalik sikap keras dan beringasnya, laki-laki itu masih lebih baik jika dibandingkan denganmu Wijaya." kata-kata pedas, mengalir keluar dari bibir Nyonya Sheilla.


"Terus caci maki aku Sheilla, aku sangat merindukannya. Aku akui semua kealpaanku di masa lalu, aku juga tidak tahu kenapa dulu aku sangat mengikuti, dan sangat percaya dengan kata-kata yang keluar dari bibir Sandrina. Tanpa aku sadari, ternyata perempuan itu hanya mengincar semua asset-assetku saja. Maafkan aku, dan apapun yang akan kamu berikan kepadaku sebagai hukuman, aku akan menerimanya Sheilla. Asalkan kamu memaafkan aku, apalagi kedua putra dan putri kita juga sudah besar, dan saatnya mereka memiliki kehidupan sendiri. Kembalilah kepadaku Sheilla.., aku mohon..." dengan tatapan penuh pengharapan, Tuan Wijaya tampak menghiba di depan perempuan paruh baya itu.


"Kata-kata yang keluar dari mulutmu Wijaya, masih saja sama gombalnya dengan pertama kali kamu berusaha menaklukkanku, dan akhirnya kamu membohongiku, mengusirku, dan seperti hanya menganggapku sebagai onggokan sampah.." Nyonya Sheilla mengeluarkan isi hatinya. Rasa pedih yang sudah lama dipendam oleh perempuan itu, tanpa sadar seperti mengalir keluar seiring dengan amarah yang terus diuraikannya.


Tuan Wijaya menggeser kursi mendekati tempat duduk Nyonya Sheilla. Di depan perempuan paruh baya itu, tuan Wijaya meraih jari-jari tangan nyonya Sheilla kemudian mengangkatnya ke atas, dan menciumnya beberapa kali. Nyonya Sheilla yang masih terbawa dalam perasaan sedihnya seperti tidak menyadari akan perlakuan yang diberikan oleh Tuan Wijaya.


"Maafkan aku Sandrina.. kita akan memulainya dengan hal yang baru. Semua asset atas namaku, akan aku alihkan menjadi atas namamu sayang, sebagai bukti keseriusanku kepadamu.." tidak tahu kapan memulainya, tubuh Nyonya Sheilla sudah terkulai lemas dalam dekapan tuan Wijaya.


Mantan pasangan suami istri itu saling berpelukan di restaurant, hanya berdua. Nyonya Sheilla seperti terbawa dalam perasaan, dan tidak menyadari apa yang terjadi kepadanya. Beberapa pengawal yang masih mengawasi mereka di luar pintu restaurant, tersenyum melihat kemesraan tuan besar dan mantan istrinya itu. Malam semakin merambat larut, tanpa sadar Tuan Wijaya merangkul nyonya Sheilla kemudian membawanya kembali ke dalam kamar tempat mereka beristirahat.


*********


Di dalam kamar


Setelah mereka berganti baju, mencuci gigi dan membersihkan tangan dan kaki, Andreas Jonathan segera mengikuti istrinya berbaring di atas king size bed. Laki-laki muda itu sejak tadi berusaha mengendus-endus mencari aroma unik, yang terpapar dan muncul dari tubuh Cassandra. Aroma itu yang selalu membuat laki-laki itu mabuk, dan selalu merindukannya. dan hanya muncul dari tubuh istrinya.


"Honey... kemarilah sayang, mendekatlah kepadaku. Aku hanya ingin memeluk tubuhnya saja, bukan yang lain.." dengan tersenyum smirk, Andreas Jonathan meminta istrinya untuk mendekat kepadanya.


"Kamu laksana sebuah candu untukku honey... I miss you so much..." kata-kata rayuan tanpa sadar mengalir keluar dari mulut Andreas Jonathan, dan tanpa henti bibir laki-laki itu berusaha mendekati wajah istrinya.


"Sudah malam kak.., bukannya tadi kak Andre ingin segera tidur, katanya sudah mengantuk.." tiba-tiba dengan polosnya, Cassandra bertanya pada suaminya.


Andreas Jonathan tidak menjawab dengan kata-kata. Laki-laki muda itu segera merangkul tubuh istrinya, kemudian hanya dengan sekali hentakan tubuh Cassandra sudah berada di bawah tubuh besar dan tinggi ,milik suaminya. Tanpa bicara, bibir Andreas Jonathan sudah merangsek maju. dan bibir mungil Cassandra menjadi pelabuhan pertama bagi laki-laki itu, untuk mendaratkan bibirnya. Lidah laki-laki itu menari-nari, dan membuka bibir istrinya, begitu ada celahan sedikit yang terbuka dari bibir Cassandra, dengan cepat bibir itu masuk ke dalamnya.


Bibir Cassandra dengan cepat merespon lidah suaminya yang menari-nari, membelit lidah dan tanpa sadar gadis itu mengikutinya. Pasangan suami istri itu saling berciuman untuk beberapa saat lamanya, dan bibir itu baru terlepas ketika nafas Cassandra sudah terengah-engah, dan suaminya memberi jeda agar istrinya bisa bernafas. Namun begitu, Cassandra sudah mulai kembali bernafas stabil. Andreas Jonathan akan kembali memberikan ciuman panas untuk istrinya.


"Kita buat malam ini menjadi lebih hangat honey..." dengan nafas terengah-engah, Andreas Jonathan berbisik di telinga Cassandra, dan gadis itu tidak mampu bereaksi. Kembali hembusan nafas panas dari suaminya membuat gadis itu menjadi tidak dapat berkutik.


"Ugh.. blrbbb.. sshh.. ugh...." lenguhan sudah beberapa kali keluar dari bibir Cassandra, demikian juga dengan suaminya, ketika tangan lembut Cassandra tanpa sadar mengusap dan meraba setiap jengkal kulit dari laki-laki itu.


Pasangan suami istri itu seperti mabuk kepayang, keduanya bergantian melakukan serangan. Hasrat dalam diri laki-laki itu seperti merasa terpompa, dengan sikap agresif istrinya malam ini. Begitupun juga dengan Cassandra, yang belum lama menyadari, jika ternyata suaminya memang sangat memanjakan dan menjadikannya laksana sebuah permata.


"Kita lakukan sekarang honey.. apakah sudah siap..?" ketika sesuatu dari dalam tubuhnya sudah mengejang, dan ingin segera dituntaskan, Andreas Jonathan kembali berbisik minta ijin pada istrinya.


"Mmmm... aaakhh... ssshh... lakukan kakk..." bercampur suara de**sahan. Cassandra menjawap pertanyaan dari suaminya.


Andreas Jonathan tersenyum, dan laki-laki itu terus memandangi mata istrinya, perlahan sesuatu sudah masuk ke dalam bagian inti Cassandra. Gadis itu memejamkan matanya, seakan menikmati sesuatu yang sangat memberikan kenikmatan kepadanya itu.


********