CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 180 Persetujuan



Di Jakarta


Tuan Wijaya terhenyak dan kaget mendengar keberanian Alexander untuk melamar putrinya yang belum lama bertemu dengannya. Laki-laki tua itu menatap wajah Alexander dan Stevie secara bergantian, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya untuk memberikan tanggapan. Melihat sikap kaku papanya, Stevie merasa jengah karena khawatir dialah yang dituduh ikut merencanakan apa yang dilakukan Alexander. Padahal dirinya pun juga terkejut mendengar hal itu.


"Papa... jika tidak setuju katakan saja pada kak Alex langsung pa.. Stevie juga tidak tahu rencana ini, dan bahkan kak Alex juga tidak bicara apa-apa sebelumnya pada Stevie." untuk merubah pandangan papanya tentang dirinya, Stevie berusaha merubah pandangan papanya.


Alexander tersenyum mendengar kata-kata Stevie, dan tuan Wijaya masih terdiam sambil melihat ke arah dua anak muda itu. Nyonya Sheilla juga tidak banyak bicara,. perempuan itu hanya mengambil nafas untuk mengatur detak jantungnya. Tidak tahu apa.yang akan diikutinya nanti, jika putrinya juga segera menikah seperti putra pertamanya.


"Bagaimana pendapatmu Sheilla.. apakah kamu merestui hubungan mereka? Kamu lebih lama.tinggal dan hidup dengan Stevie. Sepertinya kamu lebih pas untuk memberi jawaban pada Alexander." tuan Wijaya melemparkan jawaban pada mantan istrinya.


Namun karena masih merasa bingung, nyonya Sheilla hanya mengangkat kedua bahunya ke atas. Melihat hal itu, tuan Wijaya tersenyum kemudian kembali menatap semua yang ada di tempat itu. Beberapa saat kemudian...


"Dalam situasi ketidak pastian seperti ini, memang akan lebih mudah untuk melepaskan Stevie pada pendamping hidupnya. Andreas Jonathan sudah pergi duluan membawa anak dan istrinya, dan saat ini tinggallah kita. Kita butuh orang yang akan bisa memastikan kita semua agar selalu dalam keadaan aman, dan papa menunjuk Alexander sebagai orang teraman." tuan Wijaya mulai menyampaikan pendapatnya.


Stevie terkejut, gadis itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah papanya. Di tempat duduknya, Alexander tersenyum mendengarnya dan tidak menyangkut akan mendengar respon positif dari papa tuan mudanya.


"Jadi.. papa menerima lamaran Alexander untuk mengamankan keluarga kit. Namun .. papa juga tidak mau dicap sebagai papa yang egois oleh putriku. Untuk itu semua jawaban setuju atau tidak, aku serahkan semuanya pada Stevie." akhirnya laki-laki tua itu melanjutkan kata-katanya.


Lagi-lagi Stevie merasa terkejut karena merasa ditodong papanya langsung di depan Alexander. Gadis itu mengangkat wajahnya ke atas menatap Alexander, dan laki-laki itu melihatnya sambil tersenyum kepadanya. Terlihat besar sekali harapan Alexander untuk diterima lamarannya oleh gadis itu. Apalagi tuan Wijaya sudah mengatakan persetujuan untuk menerima sebagai menantunya.


"Mam... bantu Stevie mama.. Stevie bingung..." dengan ucapan tertahan, Stevie bertanya pada Nyonya Sheilla.


Terlihat nyonya Sheila mengambil nafas dalam, barulah perempuan itu mengangkat wajah dan melihat ke arah putrinya.


"Stevie... mama tidak akan berbicara banyak. Semua mama kembalikan kepadamu, karena kamulah nanti yang akan menjalaninya. Nak Alex ini laki-laki yang baik, dan juga sudah banyak menolong serta menyelamatkanmu juga. Tetapi sekali lagi, semua tergantung padamu putriku..." dengan tegas, nyonya Sheila mengutarakan pemikirannya.


Stevie malah menjadi semakin bertambah bingung. Papa dan mamanya seperti sengaja memojokkan untuk mengambil keputusan atas lamaran yang dilakukan Alexander. Tidak ada pilihan lain lagi sepertinya, dan laki-laki yang melamarnya itu sejak tadi hanya senyum-senyum sambil melihatnya.


Beberapa saat kemudian, setelah kembali melihat pada papa dan mamanya, akhirnya Stevie menganggukkan kepala. Alexander merasa mendapatkan penghargaan saat ini, laki-laki itu segera menjatuhkan kaki dan duduk berlutut di depan gadis itu.


"Terima kasih Stevie... aku janji aku pasti akan menjagamu, dan selalu memberikan yang terbaik untukmu." bisik Alexander lirih sambil menciumi kedua tangan gadis itu.


Tuan Wijaya dan Nyonya Sheilla saling berpandangan dan tersenyum menganggukkan kepala.


********


Setengah mendengar putri bungsu mereka sudah membuat keputusan untuk mau dipinang Alexander, Tuan Wijaya mengajak mantan istrinya berdiskusi. Saat ini mereka berdua duduk di coffee corner yang ada di hotel tempat mereka akhir-akhir ini tinggal di situ. Terlihat tuan Wijaya sejak beberapa saat sedang mengaduk kopi dalam cangkir di depannya,dan sesekali menyeruput beberapa tegukan.


"Sheilla..., bagaimana keputusanmu untuk mewujudkan keinginan Alexander dan Stevie..? Aku tidak terbiasa mengurus hal seperti ini, karena ketika Andre dan Cassandra menikah semuanya terjadi secara mendadak. Pernikahan mereka dilaksanakan di rumah sakit yang ada di kota Solo, sesaat setelah Altezza terlahir ke dunia ini. Ketika aku berencana untuk membuat pesta perkawinan kala itu, dengan tegas Cassandra menolaknya." tuan Wijaya mengajak mantan istrinya berdiskusi.


Nyonya Sheilla terdiam, perempuan paruh baya itu seperti belum percaya dengan apa yang akan dihadapi ke depannya. Seperti baru beberapa saat, dia dan putrinya menjadi pelarian ke Indonesia, namun kali ini putrinya sudah akan menikah dan harus meninggalkannya untuk bersama dengan suaminya. Tetapi beberapa saat kemudian...


"Hmm... aku sendiri seperti bingung dan seakan belum percaya Wijaya. Akankah secepat ini aku harus kehilangan putra dan putriku..." nyonya Sheila berbisik lirih.


"Semua ini merupakan siklus Sheilla..., sebuah siklus kehidupan yang harus dijalani oleh siapapun. Sebagai orang tua kita tidak punya hak untuk menghalangi siklus itu, kita harus memberikan dukungan pada putra dan putri kita. Ikhlaskan, sekarang kita harus berpikir bagaimana cara untuk menyatukan Alexander dan Stevie dalam sebuah ikatan pernikahan." dengan kata-kata jelas, tuan Wijaya mengingatkan Sheila.


"Aku paham Wijaya .., aku pasrah padamu saja, bagaimana yang akan kita lakukan untuk menikahkan mereka secepatnya. Tetapi apakah kita akan meninggalkan Andreas dan Cassandra, pasangan suami istri itu sedang tidak ada di Indonesia. Aku sudah mencoba untuk mengikhlaskan dan merelakan putriku yang akan pergi untuk mengikuti suaminya." akhirnya Nyonya Sheilla bisa membuat sebuah keputusan.


"Baiklah Sheilla... terima kasih sudah menerima Alexander. Aku bisa bersaksi untuk anak muda itu, dia bukan laki-laki sembarangan dan bukan hanya sekedar wakil CEO perusahaan. Tetapi dedikasi dan loyalitas anak muda itu terhadap putra kita Andreas, sudah tidak perlu kita ragukan lagi. Sangat berguna bisa menjadikan anak muda itu menjadi bagian inti dari keluarga kita.." tampak raut bahagia pada wajah tua Tuan Wijaya.


"Iya Wijaya... aku juga mempercayainya. Meskipun belum lama aku mengenalnya, tetapi sepak terjang anak muda itu selama ini sudah menjawab semuanya." lanjut nyonya Sheila.


********