
Nyonya besar Sandrina terlihat marah besar mendengar perkataan putranya, sedangkan tuan besar Wijaya hanya mengambil nafas panjang. Sebagai seorang laki-laki, Tuan besar Wijaya lebih bisa menelaah penolakan yang dilakukan putranya. Bisa karena alasan, memang putranya belum siap untuk melepas masa lajang, atau ada sesuatu yang buruk dengan gadis yang akan diminta menikah dengannya. Alexander tidak berani banyak bicara, laki-laki itu hanya menjadi pendengar keluarga sahabatnya itu.
"Apakah kamu memang sudah tidak bisa menghargai mamamu Andre.. atau ingin melihat mamamu cepat mati." sambil melotot, Nyonya besar Sandrina masih meledak-ledak.
"Tante.. tante Sandrina tolong kendalikan diri tante.. Jennifer juga tidak mau tante, jika menikah dengan laki-laki yang tidak menginginkan Jenni untuk menjadi istri. Tenanglah tante.." Jennifer mencoba menenangkan Nyonya besar. Gadis itu mengambil air mineral, kemudian meminumkannya pada perempuan paruh baya itu.
"Kamu diamlah Jenni.. tante akan membuat putra tante Andre bertekuk lutut di depanmu. Kapanpun itu, kamu harus menjadi menantu di keluarga Tuan Besar Wijaya. Tidak ada perempuan lain yang pantas untuk menduduki posisi itu." masih dengan kemarahan, nyonya besar Sandrina terus bersuara dengan nada tinggi.
Di luar ruangan, bahkan Cassandra juga mendengar kemarahan itu. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya, karena memang dirinya juga tidak memiliki hubungan apapun dengan Andreas Jonathan.
"Mama.. kendalikan dirimu. Kita ini berada di kantor, bukan berada di mansion. Orang-orang bisa mendengar, dan akan memberikan cap buruk pada keluarga kita. Kendalikan suaramu.. kita dengarkan dulu apa alasan Andre, menolak permintaan kita. " merasa sudah semakin panas, akhirnya tuan Wijaya mengeluarkan suara untuk menengahi pembicaraan.
"Papa.. dengarkan Andre pa.. Andre tidak akan menikah dalam waktu dekat, dan juga tidak akan setuju kapanpun untuk menikah dengan Jennifer, Harusnya Jennifer tahu, bagaimana sebagai seorang perempuan dia harus bersikap." tidak diduga, perkataan Andreas Jonathan seakan menampar wajah Jennifer.
Tuan besar Wijaya terkejut dengan keterus terangan putranya, dan sedikitpun tidak menghargai perasaan Jennifer yang tengah berada di ruangan itu. Tidak kuat melihat bagaimana reaksi istrinya mendengar perkataan Andreas, Tuan besar Wijaya berdiri dan berjalan keluar dari dalam ruangan.
Di sisi lain reaksi berbeda ditunjukkan oleh Jennifer. Gadis itu terbuka mulutnya, namun tidak berani bersuara. Kata-kata yang keluar dari bibir Andreas Jonathan seakan telak menamparnya. Tanpa sadar, air mata sudah membanjir di kelopak mata gadis itu, dan tanpa suara gadis itu menangis terisak.
"Tenanglah Jenni.. jangan kamu dengarkan omongan kotor yang keluar dari mulut Andreas Jonathan. Dengan maupun tanpa persetujuan dia, kamu tetap akan menjadi menantu pada keluarga ini, keluarga Wijaya Jonathan. Tempat itu tidak akan tante berikan pada orang lain, siapapun itu.." nyonya besar Sandrina memeluk tubuh Jennifer yang tampak lemas karena menangis.
Alexander hanya melirik dari sudut matanya. Laki-laki itu merasa bersalah, telah berada di ruang yang salah. Jika tahu akan menjadi seperti itu pada akhirnya, mendingan Alexander mengerjakan pekerjaan lain yang lebih banyak bermanfaat. Sedangkan Andreas Jonathan seperti orang yang tidak bersalah, malah menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sofa, sambil mengisap vape dari mulutnya.
"Kamu malam ini harus pulang Andre.. kita akan melanjutkan pembicaraan di rumah nanti malam. Tidak akan ada asset dari papamu yang turun kepadamu, jika kamu menolak perintah mama." dengan mata memicing, Nyonya Besar Sandrina berbicara dengan suara pelan pada putranya.
Namun sepertinya hati ANdreas Jonathan sudah tertutup, sedikitpun laki-laki itu tidak bereaksi. Malah di depan mamanya, laki-laki itu memejamkan matanya.
*********
Tuan besar Wijaya memijat-mijat pelipis ketika keluar dari ruangan Andreas Jonathan. Dari tempat duduknya, Cassandra melihat itu semua, dan wajah tuan besar Wijaya terlihat pucat. Bergegas, Cassandra segera beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menghampiri tuan besar Wijaya.
Laki-laki itu mengangkat wajahnya, dan sejenak beradu pandang dengan gadis itu. Keluar senyuman pahit dari bibir laki-laki paruh baya itu, dan hal itu membuat Cassandra bertambah cemas dan khawatir, Gadis itu mendekati tuan besar Wijaya, dan laki-laki paruh baya itu mengikuti Cassandra ketika membawanya untuk duduk di sofa.
"Duduklah dulu tuan besar, akan saya buatkan teh manis panas untuk tuan besar." Cassandra bergegas meninggalkan laki-laki itu, kemudian ke pantry untuk membuatkan satu cangkir teh panas untuk tuan besar Wijaya.
Tidak berapa lama kemudian, Cassandra sudah datang membawa nampan dengan berisi satu cangkir teh panas. Gadis itu meletakkan cangkir di depan tempat duduk tuan besar Wijaya.
"Minumlah dulu tuan besar, untuk menghilangkan rasa was was atau gundah yang mengendap di perasaan tuan besar." tanpa berpikir lama, tuan besar Wijaya mengikuti apa yang dikatakan oleh Cassandra. Setelah meminum beberapa teguk, laki-laki itu sudah bisa kembali mengatur pernafasannya.
"Kamu siapa, apakah kamu sekretaris baru putraku Andre..?" beberapa saat kemudian, tuan besar bertanya pada Cassandra.
"Iya tuan besar, baru beberapa bulan Sandra bergabung dengan perusahaan ini. Sekretari eksekutif yang lama re sign, karena harus mengikuti suaminya ke French. Dan kebetulan juga, saya pas lulus dari UGM, dan direkomendasikan dari pihak kampus untuk melamar kesini tuan besar." Cassandra menjelaskan siapa dirinya pada laki-laki paruh baya itu.
Tuan besar Wijaya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Cassandra. Tidak tahu kenapa, laki-laki paruh baya itu merasa seperti menemukan ketenangan ketika berbicara dengan gadis itu.
"Andreas beruntung bisa mendapatkanmu nona.., siapa namamu.." dengan ramah, tuan besar Wijaya bertanya nama Cassandra.
"Cassandra tuan besar, dan tuan besar bisa memanggil saya dengan panggilan Sandra." sambil tersenyum, Cassandra menjawab pertanyaan.
Sudut hati tuan besar Wijaya terasa menghangat ketika berbincang dengan gadis itu. Mereka membicarakan banyak hal, tentang perkembangan perusahaan, dan bahkan mitra-mitra perusahaan juga mereka bicarakan. Dengan lancar, karena memang Cassandra juga berperan dalam menghandle semua pekerjaan, gadis itu dengan lancar bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan kepadanya.
"Jujur Sandra.. aku merasa puas dengan kinerjamu. Aku titipkan Andreas putraku kepadamu ya, ingatkan dia jika anak itu melakukan kesalahan. Bimbing dan ajari tentang tata cara kesopanan, bagaimana harus bersikap dengan orang tua.." tidak diduga, tuan besar Wijaya tanpa sadar malah menitipkan Andreas Jonathan pada Cassandra.
Gadis itu terkesiap dengan perkataan itu, tetapi dengan cepat Cassandra menyesuaikan lagi dalam pembicaraan. Tuan besar Wijaya terlihat sangat senang berbincang dengan gadis itu, sampai tanpa sadar nyonya besar Sandrina sudah berjalan keluar dari dalam ruangan dengan ditemani Jennifer. Di belakang mereka, juga terlihat Alexander yang memberikan pengawalan pada mereka.
**********