
Stevie mengetuk pintu kamar mamanya, untuk mengajak perempuan paruh baya itu berkunjung ke Pent House untuk bertemu dengan Altezza,. Sampai beberapa saat gadis itu berada di depan kamar Nyonya Sheilla, tidak ada yang kunjung membukakan pintu. Di samping kamar yang ditempati mamanya, terlihat ada room service yang sedang membersihkan kamar, dan Stevie memutuskan untuk bertanya pada dua petugas hotel itu.
"Permisi mbak.. apakah kalian berdua melihat perempuan paruh baya yang menghuni di kamar ini. Sejak tadi, aku mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada yang menjawab atau bahkan membukakan pintu kamarnya.." dengan nada sopan, Stevie bertanya pada petugas room service itu.
"Sepertinya sedang berjalan-jalan nona,, karena barusan nyonya itu memerintah kami untuk clean up kamar. Kemudian kami jawab untuk menunggu selesai kamar ini terlebih dahulu, dan sekarang kami baru saja akan masuk ke dalam untuk melakukan clean up.." salah petugas room service menjawab pertanyaan Stevie dengan ramah.
"Hmm... baiklah jika begitu. Perempuan paruh baya itu mamaku, dan aku akan mengajaknya untuk berjalan-jalan. Tapi karena mama sudah berjalan-jalan sendiri, aku tidak akan mengganggunya. Terima kasih informasinya mbak.." merasa sudah menemukan jawaban keberadaan mamanya, Stevie kemudian beranjak pergi meninggalkan dua perempuan itu. Gadis itu akan menuju ke kamar yang ditempati kakak kandung dan kakak iparnya, dan keberadaan Altezza yang selalu menimbulkan rasa kangen pada dirinya.
"Aku langsung ke roof top saja, tadi kak Alex berpesan padaku untuk menaiki lift yang ada di building sisi selatan, Karena akses menuju ke Pent house, tidak sembarang orang bisa menaikinya. Aku akan mencobanya, dan semoga kak Alex sudah mengabari para pengawal tentang kedatanganku." gadis itu berbicara pada dirinya sendiri,
Tidak mau banyak membuang waktu, akhirnya Stevie segera menyusuri koridor kamar hotel, dan mencari pintu lift pada bangunan di sisi selatan. Tidak lama kemudian, gadis itu melihat ada dua orang yang tampak berjaga di kanan kiri dari pintu lift, dan hal itu menambah keyakinan Stevie, jika mereka adalah para pengawal yang mengamankan lift tersebut.
"Selamat pagi nona muda.. apakah ada yang bisa kami bantu..?" ternyata tebakan gadis itu tidak meleset, begitu menyadari keberadaannya di tempat itu, kedua pengawal langsung menyapanya dengan ramah.
"Tidak ada.. beri aku akses untuk menuju ke roof top. Aku kangen dengan Altezz, dan ingin mengunjungi keponakanku." dengan nada tegas, Stevie memberi tahu tujuannya pada dua laki-laki itu.
"Baik nona muda.. namun tunggulah sebentar, karena lift ini sedang dinaiki oleh tuan besar. Kami tidak bisa mengijinkan setiap orang untuk berada dalam satu lift dengan tuan besar, hal itu yang kami dapatkan dari tuan Alexander." mendengar jawaban yang mengindikasikan kesetiaan dua orang itu pada Alexander, membuat Stevie menjadi tersenyum nyengir. Gadis muda itu sama sekali tidak mengira, selain kakak kandungnya, ternyata Alexander juga ditakuti oleh para anak buahnya.
Tidak lama kemudian, pintu lift di depan Stevie terbuka, dan keluarlah seorang laki-laki paruh baya. Laki-laki itu menatap wajah Stevie untuk beberapa saat, namun gadis itu mengabaikannya, karena memang tidak merasa kenal dengannya.
"Tuan besar Wijaya.. kami pikir tuan besar akan turun di lobby, ternyata turun di lantai ini. Kami siap melayani tuan besar.." kedua pengawal itu segera memberi hormat pada tuan Wijaya. Ketika kedua pengawal itu fokus pada laki-laki paruh baya itu, Stevie menggunakan kesempatan untuk masuk ke dalam lift. Roof top merupakan tujuan yang akan didatanginya.
********
Perginya Stevie, menimbulkan tanda tanya besar di benak tuan Wijaya. Namun laki-laki itu tidak mau mengumbar rasa penasarannya pada dua pengawal yang ditugaskan oleh Alexander untuk mengamankan hotel, Berpegang dengan nomor kamar yang didapatkan dari receptionis, tuan Wijaya akan mencari tahu dimana letak kamar yang digunakan untuk Sheilla menginap. Laki-laki itu kemudian meninggalkan dua pengawal itu, kemudian menyusuri koridor hotel untuk menemukan keberadaan kamar Sheilla.
"Aku akan mencari tahu kejelasan Sheilla terlebih dahulu, baru akan menyelidiki siapa gadis itu sebenarnya." laki-laki itu berbicara pada dirinya sendiri.
"Halah.. kenapa malah pikiranku semakin ngelantur kemana-mana, aku harus mencari kejelasan terlebih dahulu, dan tidak boleh membuat asumsi.." kembali laki-laki itu bergumam.
Melihat ada dua petugas room service yang tadi berbicara dengan Stevie, tuan Wijaya menghampiri kedua gadis itu. Melihat papa dari pemilik hotel, dua petugas room service itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya memberi salam pada laki-laki paruh baya itu.
"Selamat pagi tuan besar.., apakah ada yang bisa kami bantu.." dua perempuan itu menyapa tuan Wijaya.
"Hmm.. apakah kamu tadi clean up kamar nomor 307, jika iya apakah perempuan itu masih disana..?" tanpa menutupi identitas, tuan Wijaya bertanya tentang keberadaan Sheilla.
"Benar tuan besar, kami hanya menjalankan perintah saja dari perempuan paruh baya itu. Namun nyonya penghuni kamar, saat ini sedang tidak ada di kamar. Tadi sempat memberi tahu kami jika akan keluar berjalan-jalan sebentar, dan meminta kami untuk melakukan clean up." dengan lancar, petugas room service itu memberi tahu pada tuan Wijaya.
Tuan Wijaya terdiam, dan pikirannya kemana-mana. Namun karena menurut informasi jika perempuan paruh baya itu sedang tidak ada di dalam kamarnya, rasanya percuma jika dia nekat datang untuk menyambangi Sheilla.
"Baiklah.. lanjutkan pekerjaanmu, terima kasih atas informasinya." tuan Wijaya merogoh saku bajunya, dan tidak lama kemudian empat lembar uang ratusan ribu dikeluarkan, kemudian diberikannya pada dua perempuan itu.
"Terima kasih tuan besar.., tapi mohon maaf kami tidak boleh untuk menerimanya." merasa khawatir jika pemberian uang itu adalah jebakan, kedua gadis itu menolak pemberian dari laki-laki paruh baya itu,
"Apakah kamu akan menolak pemberianku, meskipun sedikit aku juga memiliki saham di hotel ini. Jadi kamu harus juga melaksanakan perintahku, sebagai salah satu owner dari hotel ini.." tuan Wijaya memaksa kedua perempuan itu untuk menerima pemberiannya.
Kedua gadis itu saling berpandangan, tapi akhirnya mereka menerima uang dari tuan Wijaya. Setelah itu, tuan besar Wijaya berbalik arah meninggalkan koridor di lantai itu, Laki-laki paruh baya itu akan kembali ke roof top, dan memutuskan untuk bermain dengan cucunya. Dua pengawal di depan pintu lift, kembali memberi hormat pada taun besar mereka, dan segera menekan tombol lift ketika mengetahui jika laki-laki paruh baya itu akan menaikinya.
"Mohon maaf tuan besar.. apakah tujuan yang akan tuan besar tuju.." dengan sikap hormat, pengawal menanyakan tujuan dari laki-laki paruh baya itu.
"Lantai atas, aku akan kembali ke roof top.." sahut tuan Wijaya tenang.
***********