
Cassandra dengan rombongan kecil bersamanya, mulai memasuki MM shopping mall di Inter laken. Perempuan muda itu tidak tertarik untuk mengunjungi outlet-outlet yang banyak berada di dalam mall tersebut. Tetapi langsung melihat ke papan penunjuk arah, dan ketika melihat arah menuju Play Ground, perempuan muda itu langsung menggandeng tangan ALtezza dan mengajaknya untuk mengambil langkah ke kanan. Edward yang sejak tadi berjalan disamping anak kecil itu, hanya tersenyum mengikuti perempuan muda itu. Tidak lama kemudian, di depan pintu masuk play ground..
"Miss Sandra.. ajak masuk Altezz ke dalam sebentar. Saya akan membantu melakukan registrasi terlebih dahulu.." tanpa menunggu jawaban dari perempuan muda itu, Edward segera berjalan meninggalkan Cassandra dan ALtezza.
Cassandra diam tidak menjawab, tetapi langsung mengajak putranya masuk ke dalam play ground. Tetapi baru beberapa langkah saja, perempuan muda itu menghentikan langkahnya, dan melihat ke arah suster Rosanna.
"Suster Rosanna.. ikuti Edward, dan berikan kartu ini kepadanya untuk membayar claim dari permainan anak disini. Tadi aku lupa membawa sedikit uang cash, jadi berikan saja card ini pada anak muda itu.." Cassandra menyerahkan black card atas nama suaminya ANdreas Jonathan pada suster pengasuhnya.
Tanpa berpikir panjang, suster pengasuh segera mengejar Edward, dan terlihat anak muda itu sedang bertransaksi di cassa. Suster pengasuh segera menghampiri Edward..
"Tuan.. tuan Edward.. saya dititipi card ini dari nona muda Cassandra, untuk diberikan pada Tuan Edward.." dengan polosnya, suster pengasuh menyerahkan black card pada laki-laki muda itu.
"For me, .. what for.." Edward terlihat bingung, sambil mengamati black card yang sudah berada di tangannya itu. Padahal di telapak tangan satunya, laki-laki muda itu ternyata juga sedang memegang black card atas namanya sendiri. Tetapi begitu melihat kedatangan suster pengasuh, Edward langsung menyembunyikannya.
"Tadi nona muda berpesan, untuk menggunakan kartu ini sebagai alat pembayaran. Hal itu dikarenakan nona muda belum sempat membawa uang cash, untuk transaksi pembayaran, dan lebih suka cashless selama ini." suster Rosanna menyampaikan maksud kedatangannya.
"Baik.. akan saya bawa dulu. Kembalilah ke tempatmu suster Rosanna, percayalah aku tidak akan membawa kabur kartu ini.." sambil tersenyum, Edward meminta Suster Rosanna untuk kembali ke tempatnya. Perempuan itu segera membalikkan badan, meninggalkan Edward sendiri.
Begitu suster Rosanna pergi, Edward mengamati black card yang diberikan kepadanya. Laki-laki itu tersenyum, dan membaca nama pemilik dari kartu yang ada di tangannya.
"Hemmm... ternyata suami Miss Cassandra bukan orang biasa, karena sebagai pemilik black card yang bisa dihitung dengan jari, siapa yang menjadi pemiliknya di dunia ini. Aku juga memilikinya satu, karena kekuasaan dari grandpa... dan itu seperti memberikanku kekuasaan tanpa batas. AKu tidak bisa bermain-main atau memandang remeh keluarga ini.." Edward meniman-nimang black card yang ada di tangannya.
"Aku harus pura-pura polos, tidak tahu dan tidak mengetahui tentang black card, aku khawatir akan menimbulkan kecurigaan perempuan muda itu kepadaku. Jujur... berada satu minggu di rumahnya, membuatku tertarik untuk mengenal lebih dekat Miss Cassandra. Meskipun mommy dari ALtezza itu sudah memiliki seorang suami, tetapi keadaan yang membuat mereka terpisah. Aku lebih memiliki waktu untuk dekat dengan gadis itu saat ini.." Edward berbicara sendiri.
"Tuan.. apakah anda jadi bertransaksi...?" tiba-tiba pertanyaan dari petugas cassa di depannya mengejutkan laki-laki itu dari lamunan.
"Yap.. kami masuk berlima dewasa, dan satu kids.." Edward segera menyerahkan black card miliknya, dan tetap membawa black card milik Cassandra. laki-laki itu berniat akan mengembalikannya nanti.
**********
Jakarta
Andreas Jonathan terpaksa menunda keberangkatannya untuk kembali ke negara Switzerland, karena Board of Director mengajaknya membahas tentang pengembangan perusahaan. Untungnya Alexander menunda keberangkatan untuk keliling dunia dengan Stevie, sehingga dua anak muda itu bisa berdiskusi dalam rapat yang dihadiri oleh semua anggota dari Board of Director. Terlihat di meeting room, Alexander menjadi moderator, dan sekaligus menjadi pembahas dari materi yang didiskusikan hari ini.
"Tuan Burhan... sebenarnya apa yang diinginkan atau yang menjadi usul dari tuan.. Sejak tadi, saya kurang bisa menyimpulkan karena menurut pendapat saya, tuan Burhan hanya berputar-putar saja, tidak fokus pada apa yang dibicarakan sejak tadi.." dengan tegas, sebagai moderator, ALexander meminta salah satu pemegang saham untuk berbicara.
Semua peserta rapat melihat ke arah laki-laki itu, dan tuan Burhan Atmadja malah terlihat gugup. Sepertinya laki-laki tua itu tidak siap mendapatkan pertanyaan itu.
"Maksud saya kita harus berani untuk bersaing. Dengan kita mendirikan perusahaan cabang baru di wilayah lain, kita juga harus berani melepaskan perusahaan tersebut. Dalam pengelolaannya, jangan melibatkan pusat, sehingga kantor pusat tidak dibebani dengan masalah yang ada pada perusahaan cabang.." dengan gugup, terkesan tuan Burhan asal bicara.
"Hmm... jadi maksud Tuan Burhan.. kita tidak ada hubungan keterkaitan, begitu pak.." tuan Sigit menegaskan apa yang diucapkan oleh laki-laki tua itu. Andreas Jonathan tidak tergesa memberikan komentarnya, laki-laki itu hanya menatap dengan sinis pada laki-laki itu. Dari sudut matanya saja, Andreas Jonathan seperti bisa memahami apa yang diinginkan oleh Tuan burhan, tetapi laki-laki muda itu menahan diri untuk bicara.
"Yah begitulah kira-kira.." sambil lalu, tuan Burhan menjawab.
"Tuan Burhan... jika yang dimaui seperti itu, tidak masalah, Tetapi tidak menggunakan retained earning di perusahaan PT. Indotrex. Tbk, ini tuan, tetapi para pemegang saham harus melakukan tambahan modal disetor, yang dikhususkan untuk pendirian perusahaan baru tersebut. Saya sih okay saja, tetapi jujur saya tidak ikut join dalam perusahaan tersebut.." dengan santai Andreas Jonathan memberikan tanggapan.
Semua peserta rapat terlihat gusar mendengar apa yang diucapkan oleh CEO perusahaan. Tetapi setelah mereka berpikir beberapa saat, sepertinya mereka bisa memahami apa yang dikatakan oleh laki-laki muda itu.
"Saya setuju dengan apa yang diucapkan oleh tuan muda Andreas, karena sangat masuk di akal. Kita semua paham bukan, tentang proses controlling, quality insurance... Dengan kita membentuk perusahaan baru, dengan modal dari perusahaan ini, tetapi tidak ada keterkaitan keberlanjutan, sama saja kita buang-buang uang. Wasting time.. and wasting money.." dengan tegas, tuan Laksana menegaskan.
Suasana di ruang rapat seperti bola liar yang menggelinding, semua membuat persepsi dan opini sendiri-sendiri, Alexander dan Andreas Jonathan saling berpandangan, dan tuan muda mengisyaratkan untuk membiarkan hal itu berlangsung beberapa menit. Tuan Burhan terlihat terpojok, hanya satu orang yang sependapat dengan laki-laki tua itu.
**********