
Sesampainya di kedai penjual coklat, tampak beberapa pengunjung yang mengantri untuk memesan menu yang disajikan di kedai tersebut. Merasa kasihan dan tidak tega melihat istrinya yang sedang hamil, serta putranya Altezza mengantri, Andreas Jonathan menoleh untuk memanggil pengawalnya untuk menggantikan antri. Tetapi dengan isyarat mata, dan gerakan tangan Cassandra melarangnya.
"Kak Andre... bagaimana putra kita akan bisa mendapatkan pengalaman untuk belajar, jika hanya untuk berdiri mengantri saja harus digantikan oleh pengawal. Lihatlah.. hanya tinggal lima orang saja di depan kita, Altezza juga menikmati, percayalah pada Sandra.." Cassandra menunjuk ke arah putranya. Anak kecil itu memang seperti mendapatkan pengalaman baru, sejak tadi mengedarkan pandangan dengan pandangan ceria.
"Ehmm... iya honey. Sebenarnya aku jujur merasa kalian membiarkan kalian berdua seperti ini. Saat ini kamu sedang hamil honey..." dengan tatapan prihatin, Andreas Jonathan menjelaskan alasannya.
"Orang hamil tidak boleh hanya duduk dan tiduran saja kak. Bayi di dalam rahim Sandra, juga butuh bersosialiasi mengenali jalan lahirnya. Dengan berdiri, berjalan kaki, atau berolah raga ringan bisa membantu membuka jalan lahir menjadi lebih lebar. Jadi.. tidak akan menjadi hal yang sulit, pada saatnya nanti bayi ini akan keluar dari perut Cassandra.." kembali Cassandra menjelaskan. Laki-laki muda itu mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti apa yang dijelaskan oleh istrinya.
"Hai Nyonya.. Tuan.., apa yang akan kalian pesan? Saat ini sudah menjadi giliran kalian.." Andreas Jonathan dan Cassandra terkejut, karena tanpa mereka sadari sudah tiba giliran mereka untuk memesan makanan.
"Tiga gelas coklat panas, dan sandwich isi tuna saja ya, tiga porsi. Altezz.. mau pesan apa lagi nak..?" Andreas Jonathan mengangkat tubuh Altezza ke atas, dan menunjukkan menu yang disajikan di kedai tersebut,
"Chocholate candy... and box chocholate.." tangan mungil Altezza menunjuk gambar makanan yang diinginkannya. Pelayan tersenyum melihat kelucuan anak kecil itu...
"Siapkan satu box ya semuanya.." suara tegas Andreas Jonathan meminta waiters untuk menyiapkannya.
"Okay.. ruangan di outdoor yang masih tersedia jika ingin dine in disini. Untuk indoor sudah terisi semuanya tuan, nyonya.." setelah tap debit card Andreas Jonathan, waiters memberikan tag penunjuk meja.
"Tidak apa kak out door, kita malah bisa melihat pemandangan gunung di sebelah sana.." merasa khawatir jika suaminya terlalu banyak berpikir, Cassandra segera mendahului berjalan ke tempat yang ditunjukkan oleh waiters. Altezza dengan lucunya segera mengikuti langkah kaki mommy nya. Akhirnya keluarga kecil itu, duduk di out door, dan untungnya dari tempat mereka duduk, tidak ada halangan untuk melihat ke arah gunung yang berada jauh di depan mereka.
"Ada sinar matahari di tempat duduk kita honey.. apakah tidak merasa panas..?" melihat ada sinar matahari yang menyinari kursi tempat mereka, Andreas Jonathan bermaksud mencari tempat duduk yang lain.
"Tidak apa kak, kita tetap disini saja, malah bisa menghangatkan tubuh kita. Lagian lihat Altezz, anak itu sangat excited disini, sambil melihat pemandangan gunung yang ada di ujung sana.." Cassandra menunjuk ke tempat yang ada di seberang. Tampak pegunungan Harder Kulm, Schynige Platte terlihat sangat indah dari tempat mereka berada saat ini. Mendengar perkataan istrinya, akhirnya Andreas Jonathan tidak memiliki pilihan lain. Laki-laki muda itu segera duduk di kursi yang ada di tempat itu. Setelah meminum beberapa teguk coklat panas, Altezza berlari ke rerumputan dan melihat lebih dekat, unggas burung yang banyak dikandangkan di sekeliling halaman kedai.
********
Di rumah Alexander
"Masak apa pagi ini Stevie.., harum masakannya tercium dari kamar tidur.." melihat istrinya membawa hasil masakan ke meja makan, sambil tersenyum Alexander bertanya pada gadis muda itu,
"Carbonara smoke beef kak..., untuk minumannya Stevie buatkan teh panas hijau. Apakah kak Alex masih menginginkan menu lainnya, akan Stevie siapkan sebentar lagi..?" gadis muda itu meletakkan piring yang sudah berisi menu masakannya ke depan suaminya.
"Tidak sayang.., ini saja sudah cukup. Duduklah, temani suamimu ini makan pagi..." Alexander melihat ke arah istrinya.
Stevie kemudian duduk di depan suaminya, dan juga mengambil piring berisi carbonara smoke beef, dan mulai menikmati dengan menggunakan garpu. Beberapa kali Alexander mengamati wajah istrinya dari dekat, dan terlihat jika gadis muda itu seperti menyimpan sesuatu.
"Stevie... apakah ada yang sedang kamu pikirkan sayang. Aku melihat ada perubahan dalam ekspresi tatapan matamu. Apakah ada yang salah dari semua sikap atau perbuatanku, sehingga membuatmu berubah sikap seperti itu Stevie.." Alexander ingin segera menyelesaikan semua, siapa tahu dirinya yang menjadi penyebab dari kesedihan yang dialami istrinya.
Mendengar jawaban dari suaminya, Stevie malah meneteskan air mata, dan tiba-tiba gadis muda itu tersedu-sedu. Alexander terkejut, tetapi laki-laki itu mendiamkan dulu istrinya, dan tidak mau memotong istrinya mengurangi kesedihan di hatinya. Beberapa saat kemudian,..
"Begini kak Alex..., sebenarnya dalam hati, Stevie merasa bersalah dengan kak Andre, dan juga papa serta mama, Karena keegoisan Stevie, semuanya dibuat bingung dan penasaran dengan apa yang Stevie alami.." gadis muda itu terdiam sebentar, kemudian...
"Sebenarnya mobil yang menghadang perjalanan Stevie menuju ke bandara Zurich itu, Stevie tahu siapa pelakunya. Tetapi sudut hati Stevie mengatakan untuk tidak memberi tahu siapa orang itu. Bagaimanapun, orang itu punya andil besar dalam tumbuh kembang Stevie kak... Seberapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, hati Stevie ada rasa masih menyayanginya.." lanjut Stevie sambil tersedu.
Mendengar penjelasan itu, hati Alexander tersedak. Pikiran laki-laki muda itu mengembara kemana-mana, mencari tahu siapa yang dimaksudkan oleh istrinya. Tetapi pikiran positif mendominasi pikiran Alexander, dan ketika ada kata tumbuh kembang pada kalimat yang diucapkan istrinya, Alexander bisa menyimpulkan siapa yang dimaksudkan oleh Stevie,
"Apakah Armansyah yang kamu maksud sayang.., bagaimanapun jahatnya Armansyah, laki-laki itu berperan penting dalam setiap tumbuh kembangmu.Di balik kejahatannya, ada andil membentukmu seperti sekarang." Alexander langsung mengucapkan siapa yang dimaksud oleh istrinya.
Stevie kaget mendengar perkataan suaminya, gadis muda itu sampai mendongakkan wajahnya ke atas. Alexander tersenyum, kemudian mendatangi istrinya dan memeluk Stevie dari belakang.
"Pagi ini kita makan dulu.. nanti kita pikirkan bersama-sama, bagaimana mencari solusi dari kekhawatiranmu. Aku yakin, kak Andre dan papa Wijaya akan bisa memahaminya.." pelukan dan kata-kata Alexander terasa menenangkan Stevie.
********