CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 58 Kejutan Pagi



Cassandra dalam posisi diam tidak berbicara, ketika berangkat ke perusahaan bersama dengan tuan muda dan tuan Alexander. Gadis itu sudah seperti tidak memiliki kemampuan untuk menghindarkan diri dari omongan teman-teman di perusahaan, karena Andreas Jonathan selalu bersama dengannya. Meskipun ketika Cassandra berjalan bersama kedua petinggi perusahaan itu, tidak ada yang berani berbicara tentang mereka secara langsung. Namun pembicaraan liar, berlangsung di belakang, dan terkadang terdengar nada-nada sarkase ketika gadis itu sedang berjalan sendiri.


"Tuan muda.. sudah ada Nyonya Besar Sandrina dan nona muda Jennifer menunggu di ruang tuan muda. Mereka sudah berada di perusahaan sejak pukul delapan pagi, dan kami tidak bisa menahan kedatangan mereka." security lobby mencegat Andreas Jonathan, dan menyampaikan informasi pada laki-laki tersebut.


Alexander melirik ke arah Cassandra, namun gadis itu merasa tidak memiliki beban apapun., Karena memang dia merasa tidak memiliki hubungan apapun dengan tuan mudanya, dan kebersamaan mereka hanya sebuah kebetulan saja. Jadi, meskipun ada informasi yang disampaikan security, Cassandra tetap cuek dan tetap berjalan menuju ke arah lift. Tidak lama kemudian, Alexander berjalan cepat mengimbangi langkah gadis itu.


"Kalian berdua berani meninggalkanku sendiri di lobby.." tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang.


Alexander tersenyum kecut, kemudian laki-laki itu berhenti menunggu tuan mudanya. Hal berbeda dilakukan Cassandra, gadis itu tetap berjalan menuju ke pintu lift sendiri. Tetapi, ternyata gadis itu masih menghormati hubungan atasan dan bawahan, di depan pintu lift gadis muda itu menunggu kedua tuan mudanya. Begitu kedua atasannya sudah sampai di dekatnya, baru gadis itu menekan tombol tujuan naik ke atas. Mereka menunggu beberapa saat,


"Ada mama dan Jenni diatas, Alex.., Sandra.. kalian tidak boleh kemana-mana, harus menemaniku dengan tetap berada di ruangan. Amankan lokasi, jangan sampai ada orang yang tidak berkepentingan berani masuk, atau berseliweran di sekitar ruang kerjaku." sambil mereka bertiga masuk ke dalam lift, Andreas Jonathan memberikan suatu perintah.


"Siap tuan muda.. sepertinya aku selalu ada di ruang kerja deh, apalagi jika ada Nyonya besar. Kalau artis karbitan, sepertinya tuan muda sendiri bisa menjinakkan..:" sahut Alexander sambil tertawa dan menutup mulutnya. Sedangkan Cassandra tidak berkomentar apapun. Gadis itu cukup tahu diri, bagaimana posisinya di perusahaan yang hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh tuan mudanya.


Tidak lama kemudian pintu lift terbuka, dan ketiga anak muda itu segera bergegas keluar dari dalam pintu lift. Masih dengan beriringan, ketiganya masuk ke dalam perusahaan. Sebelum Cassandra masuk ke perusahaan, gadis itu mampir dulu di para pengawal yang berjaga di lantai tempat tuan mudanya berkantor.,


"Siap non Sandra, apakah ada perintah dari tuan muda untuk kami.." salah satu pengawal bertanya pada gadis itu.


"Amankan ruang kerja tuan muda dan tuan Alexander untuk beberapa jam ke depan. Siapapun itu, termasuk kolega tidak boleh sembarangan merangsek masuk ke dalam ruangan. Tunggu perintah dariku, jika ruang kerja sudah boleh dikunjungi pihak berkepentingan." dengan tegas, Cassandra menyampaikan pesan tuan mudanya pada mereka,


"Siap laksanakan non.." orang-orang itu menjawab serempak.


Setelah memastikan para pengawal bisa mengkondisikan ruangan, Cassandra segera bergegas melangkah kaki untuk menuju ruang kerjanya. Tapi gadis itu sedikit kaget, karena ternyata dua anak muda yang datang bersamanya itu masih berdiri menunggunya di depan pintu masuk. Padahal gadis itu berpikir jika keduanya sudah masuk terlebih dulu.


*******


Begitu ketiga orang itu sudah masuk ke dalam perusahaan, Cassandra yang berjalan paling depan tersentak. Terlihat di depannya Nyonya besar Sandrina, dan nona Jennifer menatapnya dengan pandangan bermusuhan. Gadis itu mencoba untuk bersikap baik pada mereka, Cassandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba..,


"Ternyata kamu yang menjadi dalang keruwetan dalam keluargaku, dasar perempuan ja**lang. Tidak bisakah kamu mencari laki-laki yang sekasta atau selevel denganmu, jangan hanya mencoba untuk memanjat ranjang tuan mudamu.." suara Nyonya besar Sandrina terdengar menggelegar memenuhi ruangan.


Para pengawal di luar akses masuk segera menutup pintu, dan memblokade jalan masuk. Andreas Jonathan terkejut. laki-laki itu dengan sigap berjalan dan berdiri di depan Cassandra dengan maksud melindungi gadis itu.


"Mama.. apa yang mama lakukan pada sekretarisku. Jika Cassandra mau, gadis itu bisa mengajukan somasi, mengajukan tuntutan penganiayaan terhadap mama." Andreas Jonathan berteriak keras.


Cassandra hanya menutup wajahnya, tidak tahu bagaimana gadis itu akan bersikap. Alexander dengan sigap, segera memegang kedua bahu gadis itu, kemudian membawanya untuk masuk ke ruang kerjanya. Rupanya Jennifer membaca gelagat jika ALexander akan mengamankan gadis itu, tidak diduga Jennifer akan mengejar Cassandra. Namun.. sebuah tangan dan lengan yang kuat menyentak pergelangan tangannya, kemudian menarik dan menghempaskan tangan Jennifer dengan keras.


"Kak Andre.. sakit.." Jennifer merintih kesakitan, sambil memegangi tangannya.


"Kurang ajar kamu Andre.. kamu membela perempuan ****** itu. Apakah dengan cara itu mama mengajarimu, mendidikmu selama ini Andre.." nyonya besar Sandrina berteriak keras, merasa marah melihat perlakuan putranya terhadap Jennifer, gadis yang diinginkan jadi menantunya.


"Mohon maaf mama, siapa yang kurang ajar dalam hal ini. Mama dan Jennifer atau Cassandra. Gadis itu adalah sekretaris eksekuti perusahaan ini, yang langsung sebagai bawahan Andre dan Alex. Tiba-tiba mama dan Jenni datang, tanpa konfirmasi langsung melecehkan gadis itu. Perusahaan bisa melaporkan tindakan mama dan Jenni atas dugaan penganiayaan dan penghinaan.." dengan lantang, Andreas Jonathan menanggapi perkataan mamanya.


'Selain itu mama... tadi mama bicara apa. Mengajari dan mendidik Andre.. ha.. ha.. ha.., kapan itu pernah mama lakukan. Sepertinya yang mama pedulikan selama ini hanyalah sosialita, teman arisan, teman nongkrong,,, bahkan papapun juga tidak terurus.." kata-kata terakhir yang diucapkan laki-laki muda itu seperti memberikan tamparan pada perempuan itu.


"Kamu berani melawan mama Andre,,?" Nyonya besar Sandrina terkejut, dengan perlawanan yang dilakukan putra satu-satunya.


"Andreas tidak melawan ma, hanya mau memberitahukan. Saat ini, mama dan Andre berada di perusahaan. Dalam hal urusan pekerjaan, mama atau siapapun tidak memiliki hak untuk campur tangan. Apalagi mama dan Jennifer sudah menyakiti hati sekretaris eksekutif perusahaan. Andre tidak bisa tinggal diam ma.., harus memberikan pembelaan kepada semua SDM agar mereka setia atau loyal pada perusahaan." dengan berani, Andreas Jonathan terus memberondong mamanya dengan kata-kata.


Wajah Nyonya besar Sandrina merah padam, merasa kaget dengan sikap putranya membela perempuan itu. Tanpa kata-kata lagi, perempuan paruh baya itu menggandeng Jennifer dan mengajak gadis itu keluar. Tapi baru beberapa langkah, Nyonya besar Sandrina menghentikan langkah dan melihat ke arah putranya.


"Jika masih menghormati mamamu, habis Maghrib mama tunggu makan malam di mansion." tanpa menunggu jawaban dari Andreas, kedua perempuan itu bergegas keluar.


*********