
Nyonya Sheilla mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Perempuan itu mencoba menenangkan hatinya, kemudian menatap ke arah tuan Wijaya yang masih duduk di hadapannya. Setelah kembali berpikir beberapa saat, akhirnya Nyonya Sheilla menatap laki-laki itu..
"Angkat tubuhmu ke atas Wijaya, jangan merendahkan dirimu di hadapanku. Aku tidak memerlukan itu, dan jika kamu ingin mendengarkan penjelasannya, Sandrina yang akan bisa menjawab dan memberikan kejelasan semuanya. Karena perempuan itu yang membuat skenario dari semua kejadian itu, yang malah kamu jadikan sebagai seorang ratu dalam rumah tanggamu. Mencoba menjadikan putraku sebagai putranya, dan membuangku dengan Stevie dengan kondisi yang mengenaskan.." seperti mendapat kesempatan, Nyonya Sheilla mengeluarkan semua uneg-uneg dari dalam hatinya.
"Stevie.. gadis itu putraku juga Sheilla.. Kenapa kamu tidak bercerita sejak awal padaku Sheilla, sehingga aku tidak berprasangka terhadapnya. Katakan padaku Sheilla, siapa sebenarnya Stevie...?" mendengar perkataan terakhir yang diucapkan oleh Sheilla, Tuan Wijaya mengejar penjelasan pada perempuan paruh baya itu.
"Hmm.. tidakkah ilmu matematika sudah hilang dari otakmu yang sudah tua itu Wijaya...?? Tidak bisakah kamu menghitung berapa usia Stevie saat ini, dan ketika kapan kamu mengusirku keluar dari keluarga Tuan besar Wijaya dengan begitu hinanya.." dengan mencibir, Nyonya Sheilla menanggapi pertanyaan Tuan Adam.
Tuan besar Wijaya kembali mengingat kembali apa yang dilakukannya di masa lalu. Di rumah Canada, salah satu rumahnya kala itu, laki-laki itu mengusir Sheilla dengan sangat kejam. Bahkan ketika Sheilla mengetuk-ngetuk pintu untuk memberikan penjelasan kepadanya kala itu, Wijaya tidak memberinya kesempatan. Andreas Jonathan yang ketika itu masih berusia sekitar tiga tahun, meraung-raung dan sempat mengalami panas tinggi karena merindukan Sheilla, dibawanya pergi untuk menjauh dari kehidupan Sheilla. Melihat bagaimana Sandrina yang terlihat sangat sayang dan perhatian merawat putranya kala itu, Tuan Wijaya kemudian menikahi perempuan itu.
"Sheilla... begitu besar kesalahanku kepadamu. Rasa cintaku yang sangat besar kepadamu saat itu,. dan rasa cemburuku.. sampai aku tidak bisa berpikir jernih. Jadi aku mengusirmu, ketika kamu dalam keadaan hamil Stevie.. Sheilla.. Maafkan aku...!" tiba-tiba tubuh tuan Wijaya kembali terduduk di lantai. Laki-laki itu merasa seperti dibukakan kembali dengan kejadian di beberapa tahun yang lalu.
Keduanya menangis dan teringat dengan perasaan masing-masing. Mengingat betapa perih dan sakitnya apa yang dirasakannya dulu, bagaimana Sheilla harus menjalani hidup dalam serba kekurangan untuk membesarkan Stevie, dan muncullah Armansyah dengan segala kekurangannya. Akhirnya karena ingin memberikan status yang lengkap untuk putrinya, agar juga mengenal seorang laki-laki untuk dipanggilnya sebagai sebutan ayah, Nyonya Sheilla memutuskan untuk mau dinikahi oleh Armansyah,
Beberapa saat, pasangan paruh baya itu terdiam dan terbawa dalam pikiran mereka masing-masing. Namun tiba-tiba Tuan Wijaya berdiri, kemudian laki-laki itu bergegas meninggalkan ruangan itu dengan cepat, bahkan tidak mengucapkan kata permisi ataupun kata pamit pada Nyonya Sheilla. Sedangkan mama Stevie itu hanya menatap punggung laki-laki itu, tanpa sedikitpun perkataan untuk mencegah atau memarahinya.
"Biarlah semuanya terkubur dan berlalu Wijaya.. rasa sakit dan rasa pedih yang kamu tinggalkan kepadaku sudah sangat terlampau sakit. Butuh waktu lama untuk bisa menyembuhkannya kembali, meskipun kamu selalu berkata jika kamu tidak tahu apa-apa.." Nyonya Sheilla berbicara pada dirinya sendiri. Saat ini yang diharapkannya hanyalah bisa menjalani sebuah kehidupan yang tenang dengan keluarganya, dengan putra-putri dan cucunya.
********
Stevie tampak sedang bercanda dengan Altezza dengan ditemani Cassandra di sampingnya. Istri dari tuan muda Andreas Jonathan itu, memang sengaja menemani gadis itu, karena kejadian hari ini yang mungkin sangat menyakiti hati dan perasaannya. Hanya saja, Stevie berusaha menutupi semua kesedihan dengan tetap menunjukkan senyum di bibirnya. Namun.. gadis itu tidak bisa membohongi dirinya..
"Stevie.. apakah kak Sandra boleh bertanya padamu sayang..?" dengan kata-kata yang diucapkan lirih, Cassandra bertanya pada gadis cantik itu.
Stevie menghentikan aktivitasnya, dan menatap pada wajah kakak iparnya yang tengah tersenyum sambil menatapnya juga. Cassandra melambaikan tangannya memberi isyarat pada pengasuh Altezza untuk membawa putranya. Tidak lama kemudian, baby sitter yang bernama Rosana datang, dan membawa Altezza menyingkir dari tempat itu.
"Baiklah Stevie..., kakak hanya mau menanyakan. Bagaimana perasaanmu terhadap papa Wijaya, dan sepertinya sampai saat ini papa Wijaya belum sadar dan belum tahu, jika kamu adalah putrinya dengan mama Sheilla. Aku merasa prihatin padamu Stevie.. tetapi janganlah hal ini membuatmu menjadi rendah diri.." Cassandra menyampaikan pertanyaan yang sudah dipikirkannya beberapa saat yang lalu.
Gadis itu tersenyum, tetapi tidak segera menjawab pertanyaan yang ditanyakan Cassandra. Sepertinya Stevie membutuhkan waktu untuk menggali perasaannya sendiri, dan mengukur sebenarnya apa yang dirasakannya.
"Jujur kak Sandra.., Stevie kecewa dengan sikap papa. Apakah memang tidak ada keterkaitan hati seseorang dengan anak kandungnya...?? Tetapi karena Stevie juga belum pernah mengalami melahirkan, dan belum memiliki seorang anak, jadi Stevie tidak bisa memahami seorang ayah yang belum pernah bertemu dengan putri kandungnya.." akhirnya Stevie mengakui perasaannya.
"Jangan terlalu banyak berpikir Stevie.. kakak yakin, papa memiliki perasaan dekat denganmu, hanya saja papa tidak berani untuk bersikap gegabah. Apalagi sepertinya masih ada kesalah pahaman dengan mama Sheilla yang belum terurai dan ditemukan ujung pangkalnya. Hanya saja, kakak berpesan padamu Stevie.. jangan pernah memiliki rasa dendam, jangan mudah berpikiran buruk pada papa.." setelah menghela nafas, Cassandra berusaha menanggapi kata-kata adik iparnya itu.
Stevie mengangkat wajahnya ke atas, kemudian menatap ke wajah kakak iparnya. Terlihat Cassandra tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian merentangkan tangan untuk memeluk gadis itu.
"Kak Sandra... terima kasih kak sudah ada untuk Stevie.. Terima kasih.." Stevie menubruk ke pelukan Cassandra, kedua gadis itu berpelukan untuk beberapa saat.
"Kamu harus kuat Stevie.. kita akan urai satu persatu permasalahan dalam keluarga ini. Tetap patuhi papa, meskipun papa belum menyadari keberadaanmu sebagai putri kandungnya. Kakak yakin.. hal ini akan segera terungkap tidak akan lama lagi.." kembali Cassandra memberi arahan pada adik iparnya itu.
"Iya kak Sandra.. Stevie akan berusaha mencobanya. Ternyata Tuhan sudah mengutus seseorang yaitu kakak, untuk menyatukan keluarga ini kak.. Terima kasih kembali.." dengan terisak, kembali Stevie mengungkapkan kata-katanya.
"Stevie.. maafkan papa yang tidak bisa mengenalimu...!" tiba-tiba kedua gadis itu dikejutkan dengan suara Tuan Wijaya yang sudah berada di belakang mereka.
Kedua gadis itu saling berpandangan, dan Stevie segera mengusap air mata dengan menggunakan telapak tangan. Keduanya kemudian menoleh ke arah sumber suara.
**********