
Zurich
Thanom dan Arron, serta Armansyah tampak bersiap di luar apartemen, beberapa laki-laki tampak mengikuti mereka. Terlihat Sandrina dan Jennifer mengikuti mereka, tetapi Thanom melarang keduanya untuk ikut serta. Orang-orang itu sudah mendapatkan informasi, jika ternyata Andreas Jonathan dan keluarganya tinggal di Inter Laken. Anak buah Thanom sudah memberikan laporan, tentang kedatangan tuan Wijaya dan nyonya Sheilla pada tengah malam tadi, dan mereka mengikuti pasangan suami istri itu sampai ke Inter Laken.,
"Apakah sudah kamu pastikan Arron.., jika informasimu itu benar. Jika tadi malam, aku yang melihatnya sendiri, aku pasti sudah merampas dan membawa Sheilla kembali padaku. Aku sampai kapanpun tidak akan merelakan perempuan itu untuk jatuh kembali ke pelukan Wijaya. Sheilla adalah milikku, untuk selamanya.." Armansyah tampak berapi-api mendengar ada kedatangan Sheilla ke negara itu.
"Sabarlah dulu Armansyah.., abaikan dulu urusan pribadimu. Toh keberhasilan rencana kita, sama saja akan memperlancarmu untuk mendapatkan Sheilla kembali..:" dari depannya, Thanom memotong kata-kata Armansyah,
"Kata-kata Arron pasti akan terbukti kebenarannya, orang-orangku bukan oorang sembarangan. Mereka sudah terbiasa mendapatkan informasi sejak paman melakukan pemberontakan dulu. Bahkan berdasarkan kabar, Wijaya dan Sheilla sudah melakukan pernikahan di Canada. Aku yakin, putra putri mereka belum mengetahui tentang informasi ini, dan kedatangan mereka untuk memberi tahukan pada keluarganya.." Arron menambahkan.
Mendengar informasi yang disampaikan anak muda itu, yang saat ini sudah bersama dengan Jennifer, Armansyah terlihat marah. Laki-laki tua itu tidak percaya, jika semudah itu Sheilla akan melupakannya, dan kembali lagi bersama dengan Wijaya. Warna merah kehitaman di wajah laki-laki tua itu, sangat menunjukkan reaksinya pada kata-kata yang diucapkan oleh Arron.
"Sabar kak Arman... semua akan terlihat pada nantinya. Aku dan Jenni akan menunggu kalian semua di apartemen ini saja. Kami tidak akan kemana-mana, kami akan menunggu kedatangan kalian kembali ke tempat ini. Ataupun jika kalian memiliki ide untuk berpindah tempat, segera kasih kabar pada kami. Aku dan Jenni akan segera datang untuk menyusul kalian semua." melihat reaksi yang ditunjukkan Armansyah, Sandrina berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Benar kita pergi saja sekarang, lagi pula kita sudah bersiap. Kita akan menghentikan mobil di pusat kota Inter Laken saja, dan melakukan penyelidikan di mansion Andreas Jonathan dengan menyamar dan berjalan kaki saja. Karena mengingat tidak semua orang bisa menempati areal mansion yang dimiliki Andreas Jonathan, kita tidak akan mudah membawa mobil itu untuk masuk ke dalamnya. Dengan kita menyamar dan berjalan kaki, kita bisa beralih peran menjadi tukang ledeng, listrik atau apapun." Thanom ikut berbicara.
Mendengar kata-kata Thanom dan Sandrina, akhirnya Armansyah berusaha untuk mengabaikan rasa amarahnya. Laki-laki itu berjanji pada dirinya sendiri, akan membalaskan rasa sakitnya pada Wijaya. Beberapa saat Armansyah terdiam, dan berusaha mengendalikan emosinya.
"Kita berangkat saja sekarang, Sandrina dan kamu Jenni.. tetap berada di dalam apartemen. Jangan kacaukan rencana kami dengan sikap bodoh kalian berdua.." sebelum keluar dari dalam apartemen, terdengar peringatan keluar dari mulut Armansyah.
"Mmm.. baik kak.." tanpa mau berdebat panjang, Sandrina segera menanggapi kata-kata Armansyah.
Tiga orang itu akhirnya keluar dari dalam apartemen, dan terlihat sebuah mobil tipe SUV sudah menunggu mereka di lobby apartemen. Sandrina dan Jennifer hanya melihat kepergian orang-orang itu dari dalam apartemen, karena mereka tidak mau membantah apa yang sudah dipesankan oleh Armansyah,
*********
Mansion Inter laken
"Benarkah mama Sheilla, mama dan papa Wijaya sudah melangsungkan perkawinan kembali..." Cassandra berteriak, ketika dengan suara pelan, tuan Wijaya memberi tahukan kabar pernikahannya kembali pada menantunya itu.
"Apa yang tadi aku ceritakan barusan itu benar adanya Sandra.. Setelah sekian lama berpikir, hanya inilah satu-satunya jalan, dan satunya cara untuk menghabiskan masa tuaku. Apalagi kedua putra dan putriku juga sudah menikah, dan cucuku Altezza juga sudah ada. Melihat tekad dan kesadaran papamu Wijaya, akhirnya aku berpikir kenapa tidak. Semoga pilihanku kali ini membawa kemaslahatan untuk semua Sandra.." ucap Sandrina lirih.
"Sebuah keputusan yang bagus dan sangat tepat mama Sheilla.. Selamat, congratulation untuk semua kebahagiaan ini, hanya itu mam.., yang bisa Cassandra sampaikan untuk mama.." tidak banyak kata yang diucapkan oleh gadis muda itu untuk papa dan mama mertuanya.
Perlahan Nyonya Sheilla melepaskan pelukannya, Cassandra mencium punggung tangan mama mertuanya kemudian juga mencium pipi kiri dan kanannya. Tidak ketinggalan, Cassandra juga melakukan hal yang sama pada papa mertuanya. Beberapa saat kemudian..,
"Sandra.. aku belum memberi tahu tentang pernikahan kami pada putraku Andreas Jonathan, juga pada putriku Stevie.. Seperti biasanya, hati putraku itu susah untuk ditebak. Hanya kamu Cassandra, yang bisa membuat putraku Andreas Jonathan bertekuk lutut. Jadi aku yakin, kamu akan mengabarkan informasi ini kepada putraku.." tuan Wijaya ikut berbicara.
"Papa terlalu melebih-lebihkan Cassandra. Sebenarnya kak Andre itu hatinya lembut, hanya saja casing nya memang sudah terbiasa terlihat judes dan cool seperti itu. Baiklah pa.., mama... Cassandra akan mengabarkan hal ini pada kak Andre dan juga Stevie. Dan sepertinya kita perlu untuk melakukan perayaan akan kabar ini mam.., pa.." sambil tersenyum, Cassandra menanggapi.
"Terserah yang terbaik untuk kita semua saja Sandra.. kami juga tidak mengadakan acara apa-apa di Canada. Hanya para maid, yang membuat banyak kue, dan membagi-bagikan pada para pengawal dan penjaga yang ada di negara tersebut." dengan cepat Wijaya menyambut baik ide menantunya itu.
Terlihat senyum kebahagiaan pada wajah mereka bertiga, tiba-tiba Cassandra melihat putranya Altezza masuk ke dalam ruangan dimana mereka bertiga sedang berbicara.
"Mommy..." melihat Cassandra tersenyum, anak kecil itu langsung menghambur ke pelukan mommy nya.
"Uluh.. uluh... cucu opa.. Ayo opa gendong sebentar, tidak bertemu hanya beberapa bulan saja, tubuh Altezz sudah bertambah tinggi, dan juga gemuk.." melihat cucunya, tuan Wijaya langsung menggendong Altezza ke dalam gendongannya.
"Gemuk opa.. karena dingin suhu udaranya, lebih banyak makan untuk mengisi hari.." sambil tersenyum, Cassandra berkomentar atas ucapan papa mertuanya untuk Altezza.
"Gantian dong opa.., oma juga kangen berat nih dengan Altezz.. Oma juga ingin ikutan mencium pipi ALtezza yang gembul.." nyonya Sheilla kemudian mendekat pada suaminya. Tuan Wijaya agak menundukkan badannya ke bawah, sehingga nyonya Sheilla bisa memberikan ciuman di pipi Altezza.
Cassandra tersenyum bahagia melihat kehangatan cinta pada keluarganya, meskipun suaminya Andreas Jonathan masih menahan rasa jengkel, karena semua anggota keluarganya berkumpul. Bukannya laki-laki muda itu tidak mau bertemu dan berkumpul dengan anggota keluarga, namun tujuan utama mereka berpindah sementara ke Switzerland adalah untuk mengamankan diri.
*********