
Di atas pembaringan di kamarnya, Cassandra teringat kembali dengan perkataan wakil CEO perusahaan. Dengan sengaja, dirinya telah memutus tali silaturahmi dengan mamanya, hanya karena sifat ego di masa mudanya. Bahkan gadis itu tidak memberi tahu nomor ponsel barunya kepada mama, maupun saudara tiri lainnya. Tiba-tiba saja, gadis itu merasa rindu dengan keadaan mamanya.
"Bagaimana kabar mama sekarang, apakah keadaannya baik-baik saja. Sudah sangat lama, aku sudah tidak pernah bertukar kabar, atau mencari tahu kabar mama." Cassandra berbicara dengan dirinya sendiri.
"Apakah aku harus mencari tahu bagaimana kabar mama sekarang, ataukah harus mengabaikan seperti biasanya. Tapi perkataan tuan Alex ada benarnya juga, sangat berdosa dan tidak baik seorang anak memutus tali silaturahmi dengan sengaja, apalagi kepada mama sendiri." kembali gadis itu memikirkan perkataan demi perkataan, yang diucapkan Alexander kepadanya di kantor tadi siang.
Perlahan gadis itu bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Cassandra berjinjit untuk mengambil tas kecil, yang sudah lama tidak dibukanya. Tas kecil berisi card name, maupunĀ catatan di buku agenda, tentang nomor-nomor ponsel penting kerabat maupun koleganya. Setelah membuka pengait dan resleting, Cassandra mengambil notes book, kemudian membukanya perlahan.
"081329739888; heh.." setelah membaca nomor ponsel yang tertulis dengan tinta tebal, gadis itu menghela nafas.
Tampak rasa berat, dan ada yang mengganjal di hati ketika membaca rentetan huruf-huruf itu. Gadis itu merasa ragu-ragu, antara ingin menghubungi nomor ponsel itu, ataukah mengabaikannya. Beberapa saat, Cassandra mencoba menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya dengan nomor tersebut, namun belum juga menemukan jalan keluar.
"Mama.. meskipun kata-kata saat ini sudah terasa sangat jauh untuk kugapai, namun Sandra juga tidak bisa melupakan semuanya. Ya Tuhan.. apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi rasa gelisahku ini.." kebersamaan dengan mamanya semasa papa Cassandra masih hidup, terbayang kembali di matanya.
Dengan penuh kasih papa Cassandra memeluk dari belakang, dan tiba-tiba mamanya berlari untuk memeluknya dari depan. Tampak sebuah kebahagiaan yang sangat lengkap, namun tiba-tiba saja bayangan tentang papanya meregang nyawa di rumah sakit, karena tidak bisa bertahan dari serangan kanker yang diidapnya juga tampak menari-nari di depannya.
"Papa.. papa.. kenapa papa begitu cepat meninggalkan Cassandra pa.. Saat ini, Sandra butuh pegangan pa.., Sandra butuh pelukan papa.." air mata tanpa sadar mengalir keluar melalui sudut mata gadis itu. Rasa sesak tiba-tiba saja menyergap di dada Cassandra, dan gadis itu hanya bisa menangis.
Tetapi untungnya, tidak lama kemudian gadis itu sudah bisa menguasai kembali emosinya. Perlahan Cassandra mengusap air mata menggunakan tissue, kemudian melakukan panggilan keluar pada nomor ponsel mamanya. Beberapa saat tersambung, belum terdengar nada jika panggilan itu diterima. Cassandra masih sabar untuk menunggunya, hingga...
"Hallo, siapakah ini.. uhukk.. uhukk.." Cassandra kembali merasa kaget dan tersentak, mendengar suara mamanya yang terlihat lemah dan terbatuk. Seakan-akan ada penyakit yang diderita oleh mamanya.
"Mama.. benarkan ini mama.. Sandra, ini Sandra yang bicara ma, bagaimana keadaan mama saat ini.." Cassandra segera memastikan siapa yang menerima panggilannya.
"San.. dra.. putriku.. Ini mama nak.., hiks.. hiks.. syukurlah putriku tidak melupakan mama. Bagaimana keadaanmu sekarang putriku, mama berharap dimanapun berada, kamu dalam keadaan baik-baik saja. Uhuk.. uhuk.." mama Cassandra kembali terbatuk, dan hal itu membuat gadis itu merasa panik.
"Mama tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Cassandra ma.. mama sendiri sedang sakit ya. Sakit apa ma... katakan pada Cassandra." dengan panik, gadis itu berusaha mencari tahu keadaan apa yang sedang dialami oleh mamanya.
"Okay.. meskipun mamah tidak mau menceritakan bagaimana keadaan mama sendiri. Tunggu Sandra ma.., Jum.at malam, Cassandra akan mencari penerbangan ke Jogja ma, tunggu putri mama." karena mamanya tidak mau lagi bersuara, akhirnya gadis itu membulatkan tekad untuk mencari tahu sendiri keadaan mamanya.
*********
Tanpa sepengetahuan Andreas Jonathan dan Alexander, begitu jam kerja usai, Cassandra bergegas keluar dan meminta Rahman untuk mengantarkannya langsung ke bandara Halim Perdanakusuma. Cassandra memang sengaja memilih bandara yang lebih kecil, karena tidak mau berjalan kaki lebih lama, dan dengan pesawat Batik Air, gadis itu menuju ke Yogyakarta.
"Terima kasih mas Rahman sudah mengantar Sandra sampai di Halim.." Cassandra mengucapkan terima kasih pada driver perusahaan yang mengantarkannya. Dia segera mengangkat tas kabin, dan menolak laki-laki itu yang akan membantu untuk mengangkatnya.
"Sama-sama non.. kira-kira sampai hari apa non Sandra di Jogja, untuk mengatur penjemputan." Rahman menanggapi perkataan Cassandra, dan akan menjemputnya pada saat gadis itu kembali ke Jakarta lagi.
"Aku belum tahu mas, karena belum pesan flight untuk kembali ke Jakarta. Dan juga aku tidak tahu, akan sampai kapan berada di kota tempat mamaku tinggal. Mas Rahman nanti tidak perlu menjemput Sandra saja, karena untuk ke apartemen bisa pesan online penjemputan lewat Traveloka." sahut Cassandra.
"Senyamannya non Sandra saja, saya kembali ya non. Semoga perjalanan non Sandra bisa sampai di Jogja dengan selamat, demikian pula kembalinya ke kota ini juga dalam keadaan selamat." Rahman segera membuka pintu mobil, kemudian laki-laki itu masuk ke dalamnya.
Cassandra tetap berdiri sampai laki-laki itu menjalankan mobilnya, dan melambaikan tangan pada Rahman yang sudah mengantarnya.
"Aku boarding saja dulu, karena flight dijadwalkan pada pukul 19.15. Sekarang sudah hampir jam 18.00." sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya, Cassandra bergegas memasuki petugas yang memeriksa keberadaan tiket.
"Batik Air tujuan Jogja ya mbak, terschedull on time. Non bisa boarding di sebelah sana." petugas pemeriksa mengarahkan gadis itu. Karena tidak membawa bagasi, Cassandra sangat lancar ketika melakukan pengecekan. Hanya dua pasang pakaian atasan, dan satu celana panjang yang dibawa Cassandra ke Jogja. Gadis itu memang mempermudah bawaannya, jika terpaksanya harus menambah hari, dia bertekad akan membeli baju batik printing yang dijual sangat murah di Yogyakarta,
"Waduh aku lupa belum makan sore ini. Aku cari fast food saja untuk mengganjal perut, toh penerbangan juga masih nanti." melihat penjual siomay dimsum di merchant yang ada di ruang tunggu, selera gadis itu menjadi muncul.
Akhirnya untuk mengganjal perut, Cassandra segera memesan satu paket dimsum, dan satu orange juice. Setelah pesanannya dibuat, gadis itu kembali membawanya ke tempat duduk. Baru beberapa suap, Cassandra menikmati dimsum, tiba-tiba di depannya telah berdiri seseorang yang tampak mengamatinya. Gadis itu mengangkat wajahnya ke atas, dan..
*********