CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 258 Serangan Mendadak



Sandrina dan Jennifer segera beranjak, wajah kedua perempuan itu saling berpandangan, dan terlihat wajahnya mulai berwarna putih mendengarkan kalimat perintah Thanom. Kata harus bekerja yang diucapkan Thanom seperti sembilu yang menyayat dengan pedih, kulit kedua perempuan itu. Mereka tidak berani untuk membantah, selain hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh laki-laki itu. Apalagi dari chat yang dikirimkan pada Cassandra, juga belum ada respon baik dari perempuan muda itu.


"Jenni... mandilah terlebih dahulu.. aku akan mencoba mengajak Thanom untuk bicara. Siapa tahu masih ada hati pada laki-laki itu, sehingga mau membatalkan apa yang sudah direncanakannya." Sandrina masih mencoba untuk berusaha. Jennifer menatap ke wajah perempuan paruh baya itu, tetapi karena tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan, akhirnya tanpa bicara Jennifer segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Perlahan Sandrina berjalan menuju ke ruang tengah, dan pura-pura menemani suaminya makan. Sandrina mengambil sandwich yang sudah dibelikan Thanom, kemudian langsung menikmatinya tanpa menggunakan pisau dan garupu, tapi langsung menggigitnya.


"Apakah kamu tidak mendengarku Sandrina, aku perintahkan kamu untuk mandi. Arron sudah menunggu kita di luar apartemen, anak itu sudah punya janji dengan orang yang akan membawa kalian berdua pergi.." Thanom mengangkat wajahnya dan menatap Sandrina,


"Hemm... tidak bisakah kamu bersikap lebih sabar Thanom,.. di dalam kamar, hanya ada satu kamar mandi. Apakah aku harus mandi berdua bersama dengan Jennifer.. Tolonglah sebelum bicara, dilihat dulu bagaimana keadaanya.." Sandrina berusaha menenangkan hatinya, perempuan itu mencoba bersikap biasa pada Thanom. perempuan itu masih terus melanjutkan menikmati sandwich yang masih ada di tangannya.


Thanom akhirnya mendiamkan perempuan yang sudah menjadi istrinya itu, dan berusaha untuk menunggunya. Setelah melihat Sandrina sudah selesai menikmati sandwich, dan minum air panas yang ada di dalam tumbler, Thanom kembali melihat ke arah perempuan itu.


"Sandrina.. aku masih punya hati, pelanggan pertamamu kali ini, juga berasal dari Asia, jika tidak salah dari Thailand. Laki-laki itu baru tujuh bulan ditugaskan oleh perusahannya untuk belajar di negara ini, sehingga harus berpisah dengan keluarganya. Layani dengan baik, aku akan langsung menjemputmu ke hotel, jika kamu sudah selesai melayaninya." Thanom menyampaikan rencananya untuk Sandrina hari ini.


"Thanom... aku ini istrimu, tidak adakah rasa kasihan, ataupun rasa jijik jika istrimu ini juga melakukan hubungan dengan laki-laki lain. Pertimbangkan lagi pikiranmu Thanom, apalagi usiaku juga sudah hampir lima puluh tahun, sudah tidak layak lagi.. " Sandrina menatap wajah suaminya dengan berkaca-kaca.


"Apa maksudmu Sandrina.. apakah kamu hanya mau menerima enaknya saja di apartemen ini. Tidak mau berusaha, hanya tidur, makan dan melayaniku saja. Lihat kenyataan Sandrina... bukan saatnya lagi untuk makan, untuk bicara masalah cinta untuk saat ini. Bagaimana kita bisa bertahan hidup berada di negara ini, itu yang menjadi tujuan utama kita. Saat ini, hanya menjualmu dan Jennifer yang bisa menjadi jawaban atas masalah keuangan kita.." Thanom berbicara dengan nada tinggi. Tatapan laki-laki itu terlihat sengit.


Sandrina kembali terdiam, ternyata upayanya untuk mengetuk pintu nurani dari suaminya sudah gagal. Mendapatkan uang dalam waktu singkat dengan cara instan, menjadi pilihan yang diambil oleh laki-laki itu. Merasa tidak dapat mengajak laki-laki itu berbicara, Sandrina kemudian berdiri dan meninggalkan Thanom sendiri di ruangan itu. Laki-laki itu hanya diam sambil menatap punggung istrinya yang berjalan masuk ke dalam kamar.


***********


Tidak lama kemudian, dengan mata berkaca-kaca Sandrina dan Jennifer keluar dari dalam kamar. Melihat kedatangan dua perempuan itu, Thanom tersenyum dan laki-laki itu kemudian berdiri. Dua perempuan itu membawa tas kecil dan mengalungkan di pundak mereka, tetapi tidak terlihat ada senyum di bibir keduanya.


Sebenarnya Jennifer merasa muak mendengar kata-kata itu, tetapi kemudian berpikir jika dia melakukan sarapan pagi, maka akan dapat mengulur waktunya untuk keluar dari dalam apartemen. Tanpa berkata apapun, Jennifer segera duduk, dan mulai menikmati sandwich yang sudah disiapkan oleh Thanom. Sandrina ikut duduk menemani gadis muda itu, dan tanpa mengajak Thanom bicara.


Beberapa saat, akhirnya Jennifer menyelesaikan sarapan paginya, dan Thanom tersenyum melihat ke arah dua perempuan itu.


"Akhirnya kalian berdua sudah menyelesaikan sarapan pagi, saatnya kalian berdua untuk bekerja. Cepatlah, aku khawatir jika Arron kehilangan kesabarannya.." dengan suara pelan, Thanom mengajak dua perempuan itu untuk segera berdiri. Dengan malas, Sandrina berdiri lebih dulu dan menunggu Jennifer untuk segera mengikutinya. Tiba-tiba saja muncul ide untuk melarikan diri, jika nanti mereka sudah berada di luar, dan akan minta bantuan polisi untuk melindungi  dan mengamankan mereka berdua.


"Jenni... lebih baik kita keluar mengikuti Thanom dan Arron, kita akan bisa memikirkan cara lain dengan kita berada di dunia luar. Lebih banyak cara, dengan kita berada di tengah warga umum..." untuk meyakinkan Jennifer, Sandrina berbisik di telinga gadis itu.


Jennifer menatap ke mata perempuan paruh baya itu, tetapi akhirnya setelah diam beberapa saat, gadis muda itu akhirnya berdiri. Dengan tatapan kosong, Jennifer berjalan sambil memegangi lengan baju Sandrina. Thanom berjalan di depan dua perempuan itu, sambil mengeluarkan senyuman dari bibirnya.


"Percepat langkah kalian, kita sudah mundur lima belas menit dari janji yang kita ucapkan pada dua laki-laki itu. Tidak akan bagus, masak baru pertama kali akan menggunakan kalian, kita sudah terlambat datang kepada mereka." Thanom mempercepat langkahnya, dan setelah sampai di pintu lift, mereka segera masuk ke dalam lift tersebut.


Tidak sampai lima menit, pintu lift sudah terbuka, dan Thanom kembali memimpin langkah mereka bertiga. Di depan apartemen, terlihat Arron duduk santai di kursi depan mobil yang diparkir di depan lobby apartemen. Senyuman muncul dari bibir laki-laki itu, melihat kedatangan Thanom dengan dua perempuan di belakang laki-laki itu. Harapan untuk mendapatkan uang, muncul di wajah Arron.


"Cepat sedikit langkah kalian, aku sudah lelah menunggu kalian berdua.." Arron berteriak. Tatapan sengit dan marah muncul dari wajah dua perempuan itu, tetapi keduanya tetap datang menuju ke dalam mobil.


"Dor.. dor.. dor.." baru dua langkah, Sandrina dan Jennifer melangkahkan kaki untuk mendatangi Arron, terdengar tiga kali tembakan ke arah mobil yang dibawa Arron.


Sandrina langsung membalikkan badan dan memeluk tubuh Jennifer dengan erat. Kepanikan juga dialami oleh Arron dan Thanom..., body samping mobil sudah terkena tembakan. Ketika Arron akan bertindak untuk membalas serangan itu, tiba-tiba datang dua laki-laki dari arah belakang, kemudian menarik Sandrina dan Jennifer.


************