CEO Takluk

CEO Takluk
Chapter 158 Sadar Diri



Dalam perjalanan pulang


Andreas Jonathan dengan penuh kepemilikan memeluk tubuh istrinya sepanjang perjalanan, seakan-akan pertemuan dengan Herlambang tadi mengandung sebuah peringatan besar. Ternyata bukan hanya dirinya yang menyayangi dan ingin memiliki Cassandra seutuhnya, namun laki-laki lain juga memiliki hasrat besar pada perempuan muda itu, meskipun Cassandra sudah memiliki seorang putra.


"Bagaimana rasanya bertemu dengan Herlambang... honey.." sambil memainkan anak rambut di atas telinga perempuan muda itu, Andreas Jonathan pura-pura menanyakan perasaan Cassandra. Namun.. untungnya gadis itu tidak bodoh-bodoh amat, sebelum menjawab, cassandra menatap mata suaminya, dan meletakkan punggung tangan di atas dahi suaminya.


"Hmm... kenapa begini jawabannya, masak suamimu ini harus membaca bahasa non verbal yang honey berikan." Andreas Jonathan dengan cepat berkelit,


"Istri tuan muda hari ini sangat bahagia sekali, karena bisa dipertemukan dengan dewa penolong di masa lalu. Juga ternyata tuan mudanya yang suka cemburuan tanpa pandang bulu, ternyata bisa merendahkan diri, dengan melakukan permintaan maaf, dan ucapan terima kasih tanpa merasa malu sedikitpun. Bahkan sudah memberikan timbal balik, tanpa pernah memblow up atau memberi tahu pada siapapun. Cassandra sangat senang sekali tuan muda.." tanpa melihat, Cassandra sengaja mengalihkan pandangan ke tempat lain.


Andreas Jonathan tidak menduga respon yang ditunjukkan oleh istrinya. Padahal pada saat laki-laki itu bicara pada Herlambang, semua dilandasi ketulusan dari dasar hatinya, ketika membayangkan keputus asaan Cassandra begitu malam buruk itu menimpanya. Di bawah pengaruh alkohol, tanpa sadar, dirinya yang sudah mengoyak kehormatan gadis itu. Untungnya ada Herlambang, jika bukan anak muda itu yang menolong istrinya, mungkin saat ini dirinya tidak akan pernah tahu jika memiliki seorang bayi, dan tidak akan pernah mendengar lagi kabar Cassandra.


Melihat suaminya terdiam, tiba-tiba muncul rasa khawatir pada diri Cassandra. Dengan cepat, perempuan muda itu mengusap pelan wajah suaminya, dan dengan penuh tanda tanya mencoba mengajak bicara suaminya.


"Kak Andre.. kakak marah ya, mendengar kata-kata Cassandra. Mmmm... janganlah kak, jika ucapan dan perkataan Sandra menyinggung perasaan kak Andre.., maafkan kak. Semua tadi bukan Sandra maksudkan untuk menyakiti kak Andre.. tetapi mengekspresikan bagaimana kekaguman Sandra pada suami Sandra kak.." kali ini gadis itu benar-benar panik.


Andreas Jonathan tiba-tiba langsung melihat dan menatap mata istrinya, yang saat ini juga tengah menatapnya dengan pandangan sayu. Tanpa bicara apapun, tiba-tiba Andreas Jonathan memeluk istrinya dengan erat dan menghujaninya dengan ciuman. Driver yang mengemudikan mobil tidak berani berkomentar sedikitpun, dia tetap fokus mengemudikan mobil.


"Terima kasih honey... juga sampaikan penghargaan setinggi-tingginya untuk Herlambang. Semua yang aku usahakan dengan Alex untuk pengembangan karirnya, semua karena upaya dan effort yang bagus dari anak muda itu sendiri. Kapan-kapan, undanglah Herlambang ke rumah untuk mengenal Altezza. Agar putra kita tahu, siapa yang menjadi dewa penolongnya.." tidak diduga, ada genangan air mata di kelopak mata suaminya. Laki-laki itu yang semula hanya ingin menggoda istrinya, namun malah akhirnya dirinya sendiri yang terbawa arus perasaan.


"Iya kak Andre.., tadi kak Herlambang juga sudah bilang kan., Karena kedekatan kami, dan ikrar kakak adik yang pernah kami ucapkan, menjadi trigger anak muda itu menolong Sandra. Dan semuanya sudah terjadi bukan, dan semua juga sudah berakhir dengan sangat indah.." untuk mengembalikan mood suaminya, Cassandra berinisiatif memberikan ciuman lembut di bibir suaminya.


Melihat kesempatan empuk itu, Andreas Jonathan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Laki-laki itu langsung menjatuhkan tubuh istrinya di atas kursi mobil, dan ciuman panas terjadi antara pasangan suami istri itu. Dengan sigap, driver membaca aroma segera menurunkan penyekat antara kursi depan dan kursi tengah.


**********


Malam hari


"Bagaimana tumbuh kembang Altezz Sandra.. mama melihatnya anak itu tumbuh dengan cepat. Dalam usia seperti itu, tetapi etiket penggunaan kamar mandi, makan sendiri, sampai tidur sendiri sudah sangat terlatih.." nyonya Stevie bertanya pada menantunya.


"Iya mam.. pada awal-awal penerapan juga agak sulit mam.. Kita untuk melatih tidur sendiri saja, kita harus mendatangkan sleep trainer agar Altezza dapat berlatih tidur sendiri. Tetapi syukurlah tidak butuh waktu satu minggu, Altezz sudah bisa secara rutin melakukan tidur sendiri. Begitupun untuk makan mama.. kita memang gunakan treatment untuk pelatihan makan untuk bayi-bayi di luar negeri. Akhirnya di usia Altezz begini, kita sebagai orang tua hanya mengawasi aktivitasnya saja." Cassandra dengan bangga menceritakan keadaan putranya.


"Peran suster pengasuh juga pasti sangat membantu ya.. tetapi mama juga lihat, suster Rossana juga sangat perhatian, dan memperlakukan Altezza seperti putranya sendiri." lanjut nyonya Sheilla.


"Kalau itu pastilah ma... bahkan ketika ALtezz masih diawasi sleep trainer, suster Rosanna sering kena tegur dari Sandra dan juga kak Andre. Hanya alasan tidak tega, suster Rosanna sering masuk ke kamar Altezz. Akhirnya setelah kita marahi, suster Rosanna tidak berani lagi masuk ke kamar Altezza,," Cassandra tertawa kecil mengenang saat-saat dulu, dan mama mertuanya ikut tertawa.


Kedua perempuan itu, menantu dan mertua akhirnya melanjutkan bincang-bincang sampai jam sembilan malam. Melihat jam tidurnya itu, Cassandra akhirnya berpamitan pada mama mertuanya untuk tidur lebih dulu dan mengakhiri pembicaraan.


"Mama.. sudah saatnya beristirahat, mama harus istirahat ya, demikian juga dengan Sandra.." Cassandra sudah berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu.


"Iya.. pergilah dulu Sandra.. mama masih ingin menyelesaikan film ini." sahut Nyonya Sheilla dengan pandangan mata masih di layar televisi.


Mendengar jawaban dari mamanya, Cassandra segera melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamarnya. Tetapi baru beberapa langkah, gadis itu berjalan tiba-tiba ponselnya berdering. Cassandra menggulir ponsel, dan terlihat Stevie sedang melakukan panggilan kepadanya.


"Hmm... ada apa Stevie..?" sebagai seorang kakak ipar, dengan cepat Cassandra merespon panggilan tersebut.


"Stevie sudah dalam perjalanan balik ke Jakarta kak, Stevie mencoba naik kereta api eksekutif, dan jam lima pagi diperkirakan kereta sudah akan parkir di stasiun Gambir kak.." Stevie mulai menceritakan apa yang sedang dialaminya.


Cassandra hanya mendengarkan apa yang diucapkan Stevie, dan hampir lima belas menit kedua perempuan itu berbincang. Di akhir pembicaraan, akhirnya Cassandra menyanggupi untuk melakukan penjemputan adik iparnya di stasiun Gambir.


************